banjir climate change

Bersamaan dengan perkembangan sistem energi dunia dan manfaatnya, perubahan iklim juga menjadi tak terelakan. Penumpukan karbon dan gas rumah kaca telah meningkatkan suhu dan mencairkan es. Kita dipaksa untuk beradaptasi dengan realita baru.

Situasi iklim yang tidak menentu dan tidak lagi bisa dipastikan bukan lagi menjadi tantangan sekelompok orang di beberapa tempat tapi telah menjadi tantangan bagi seluruh penghuni planet bumi. Peristiwa cuaca ekstrim seperti angin topan yang menyebabkan tanah longsor dan bencana banjir lebih sering terjadi dengan intensitas yang juga meninggi. Peningkatan suhu menyebabkan kekeringan dan merusak sumber daya kelautan serta naiknya permukaan air laut.

Kabar baiknya? Kita berada di kawasan yang merupakan bagian dari solusi dunia. Enam dari sepuluh negara anggota ASEAN telah mengadopsi target menengah dan jangka panjang untuk energi terbarukan dengan beberapa negara menjadikan target pengurangan karbon sebagai objektif mereka.

Tahun ini Greenpeace mengadakan pameran foto di tiga negara ASEAN untuk menyampaikan pesan tentang desakan iklim dalam konteks perubahan yang terjadi saat ini.  Harga yang mahal dari batu bara adalah bingkai pesan yang disampaikan, menyorot kehancuran dan tragedi yang disebabkan oleh batu bara. Filipina menyoroti masalah pengungsi iklim yang merupakan korban dari peristiwa cuaca ekstrim. Thailand siap menjadi pemimpin dalam pengembangan energi terbarukan di Asia Tenggara.

Bersama dengan fotografer ternama seperti Kemal Jufri dari Indonesia, Athit Perawongmetha, Thailand dan Vicente Jaime “Veejay” Villafranca , Filipina – Greenpeace menyaksikan langsung keindahan dan kehancuran planet Bumi sambil mengirimkan pesan harapan dan panggilan untuk segera bertindak.