Kita berada pada tahap yang kritis dalam perjalanan kita sebagai aktivis. Sebagai sebuah gerakan kita adalah target, dan kita telah bertahan terhadap segala macam perselisihan sepanjang perjalanan. Hari ini, di banyak negara kita menghadapi tantangan hukum dan politik yang cukup serius, yang dirancang dengan sengaja untuk menghukum dan mencegah perbedaan pendapat; dirancang untuk memberikan efek ‘mengerikan’ secara sengaja. Saya terpikir tentang Gandhi, ia berkampanye tentang ‘mantra’ yang menjaga kita agar tetap tenang dan mampu menghadapi tantangan: ‘Pertama, mereka tak peduli padamu. Kemudian mereka menertawakanmu. Lalu mereka melawanmu. Selanjutnya kamu menang.’  

Hari ini, pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, saya ingin berhenti sesaat dan melakukan refleksi terhadap kita sebagai kesatuan gerakan, menurut pandangan saya, tetap berdiri dan bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Atas dasar apa saya mengatakan hal itu, mungkin sebagian dari kamu akan membantahnya? Mengutip dari Gandhi, Salvador Dali pernah berkata, “Termometer keberhasilan adalah tidak lebih dari kecemburuan orang yang tidak puas”. Dalam beberapa bulan terakhir, kantor kami-dan staf kami di Korea, Meksiko, Indonesia, Kanada, dan India mengalami serangan dan intimidasi dari otoritas setempat. Kami memang sudah menduga gelombang penolakan ini akan terjadi. Di dalam lingkup pekerjaan kami, kami sering dikondisikan menghadapi hal semacam ini, dan ini pula yang membuat kami semakin kuat.  Sejarah mengajarkan kita bahwa ada pelajaran di dalam setiap tekanan dan represi.

Di Kanada, April lalu, kami diberi label sebagai “teroris” dan “supremasi kulit putih” oleh Menteri Keamanan Rakyat Vic Toews, bahkan pemerintah berjanji akan melakukan pelarangan-pelarangan yang dilakukan dengan uang pajak rakyat terhadap organisasi-organisasi semacam kami. Di Korea, April tahun ini ketika saya datang bersama Direktur Eksekutif Asia Timur  Mario Damato untuk bertemu Walikota Seoul, Mario dan dua kolega kami lainnya ditolak masuk dan dideportasi tanpa alasan yang jelas. Upaya kami di Fukushima yang memonitor radiasi nuklir secara independen nampaknya dianggap sebagai ancaman besar bagi mereka  agar sehingga beberapa orang dari kami dilarang masuk ke negara tersebut. 

India adalah negara yang dengan bangga mengklaim menjadi negara demokrasi terbesar di dunia, tapi Direktur Eksekutif Greenpeace India Samit Aich menggambarkan perusahaan dan industri secara teratur merampas agenda demokrasi. Mesin negara telah bergerak melawan kita; tamu undangan kami dari Jepang, Maya Kobayashi, yang ingin berbagi pengalaman dari kebocoran nuklir, visanya dibatalkan Februari ini. Baru-baru ini, tiba-tiba petugas pajak muncul untuk memeriksa kantor kami dengan alasan yang sangat lemah, tindakan yang jelas dari sebuah intimidasi.

Jika ada indikator pengukur tingkat perlawanan kami dengan beberapa pemerintahan, maka bisa dikatakan kami telah menimbulkan dampak yang signifikan, dan kita akan terus memperkuat ini, dan pada saatnya kita pasti akan menang. Faktanya adalah, banyak yang harus kami rayakan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Kita dapat termotivasi oleh cepatnya pertumbuhan dan perluasan gerakan keadilan lingkungan dan sosial dalam masyarakat sipil.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah saat yang tepat untuk mengambil momen dan juga waktunya menginspirasi. Ada banyak orang yang memberikan inspirasi itu dan saya bangga berdiri di samping beberapa orang diantaranya:

  • Aktivis Tim DeChristopher: usahanya telah dibandingkan dengan Rosa Parks oleh berbagai media, dan menurut saya, pendiri kelompok Peaceful Uprising  ini telah memberikan inspirasi kepada banyak aktivis muda dimanapun. Tim dimasukkan ke dalam penjara di Amrika Serikat karena perlawanannya terhadap kerusakan di Alaska.
  • “Pahlawan Hutan” Paulo Adario: Awal tahun ini, Paulo mendapatkan kehormatan sebagai penerima penghargaan PBB “Pahlawan Hutan”, dan menjadi berita utama di bulan Mei saat ia menduduki rantai kapal Clipper Hope di Brazil. Bersama dengan masyarakat asli Amazon, Paulo telah membantu menyelamatkan hutan seluas 1,6 juta hektar dari pembalakan.
  • Pearl Pillay: Pearl berjuang bersama teman-teman kampusnya di Johannesburg untuk membela solidaritas pekerja yang dipecat di kampusnya. Dia mengorganisir dan berpartisipasi dalam aksi “mogok makan” yang membuahkan kemenangan bagi para pekerja yang bersangkutan.
  • Orang-orang dengan tekad kuat di 350.org : adalah organisasi pemuda yang banyak dikagumi, bukan hanya karena kemampuan mereka dalam memanfaatkan ruang online, tetapi mereka juga mampu memobilisasi secara offline. Kelompok-kelompok yang berbeda bersatu dalam aksinya menentang pipa saluran Keystone di Washington, yang diketahui didukung oleh persetujuan dari Obama dalam perluasan tambang pasir-minyak di Kanada.
  • Rio+20 : Meskipun ada pesimisme di semua jajaran terhadap acara ini, faktanya bahwa puluhan ribu aktivis tetap bersemangat dan penuh gairah akan turun ke kota Rio de Janeiro di Brasil untuk mengambil sikap bagi masa depan yang kita inginkan.

Kecemburuan dari orang yang tidak puas adalah hal yang merusak, yang berasal dari ketidakmampuan dari sejumlah orang untuk berbagi visi kami, untuk menciptakan hubungan yang cerah dan berkelanjutan antara manusia dan planet ini. Ini adalah masa depan yang kita butuhkan, masa depan yang kita inginkan dan SEKARANG LEBIH DARI YANG SEBELUMNYA, kita akan berkampanye untuk masa depan yang berkelanjutan dan damai , tak dapat dihentikan oleh pelecehan, baik resmi, maupun intimidasi dan penghakiman.