Bulan Ramadhan yang indah telah kita lewati, dan setelah berpuasa dengan ketulusan, kita merayakan hari kemenangan Idul fitri 1 Syawal 1435 Hijriyah. Dengan rasa tulus saya memohon maaf atas kesalahan tingkah laku dan ucapan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja yang saya lakukan selama ini. 

Dimana kamu merayakan lebaran tahun ini? Apakah kamu adalah bagian dari jutaan orang yang melakukan tradisi mudik pulang ke kampung atau kamu merayakannya di tempat tinggalmu? Apa pengalaman spiritual kamu dalam lebaran kali ini, khususnya ketika menjalani puasa selama sebulan, menahan rasa lapar dan haus? Adakah pengalaman yang ingin kamu bagikan kepada kami?

Pasti ada perasaan puas dan senang setiap kali merayakan momen-momen seperti ini. Pasti ada semangat dan penghayatan baru yang bisa kita jadikan sebagai sumber kekuatan baru dalam menjalani kehidupan kita pada hari-hari ke depan. Di dalam suasana dan semangat kebaruan ini, yuk kita buat sebuah semangat baru untuk memahami dan menjaga lingkungan dan alam kita. Mari kita gunakan mata dan hati yang baru melihat persoalan kerusakan lingkungan yang terjadi pada hutan, laut, air dan iklim kita dan sekaligus ikut turut ambil bagian untuk mengatasinya.

 

Waktu berjalan terus dan waktu kita semakin sedikit untuk dapat memperbaiki kerusakan yang terjadi sebelum kerusakan tersebut menjadi tidak terpulihkan. Banyak sekali kerusakan lingkungan yang telah terjadi hampir tidak dapat dipulihkan kembali. Misalnya, pembukaan dan pengeringan yang dilakukan di lahan gambut untuk membuat perkebunan kelapa sawit dapat membuat ekosistem gambut rusak dan tidak dapat dipulihkan lagi. Lahan gambut yang berusia puluhan ribuan tahun tersebut akan musnah selamanya. Kerusakan karang-karang di laut juga membutuhkan ribuan tahun untuk membuat mereka pulih kembali. Begitu pula kerusakan sebuah ekosistem dapat mendorong punahnya spesies tertentu untuk selama-lamanya.

Selain kerusakan lingkungan hidup akibat eksploitasi alam di atas, kerusakan lingkungan hidup juga disebabkan oleh cara dan pola hidup kita sehari-hari. Cara kita membeli, mengkonsumsi barang dan menghasilkan limbah juga telah menjadi salah satu penyebab utama bagi pencemaran dan kerusakan lingkungan utama saat ini. Seiring dengan meningkatnya kemampuan kita mengkonsumsi dan menghasilkan limbah maka tekanan terhadap lingkungan juga terus meningkat.

Mari kita ambil sebuah contoh yang sangat sederhana. Antara membeli air minum kemasan botol plastik dengan membawa air minum sendiri dalam sebuah tumbler (botol air minum) menghasilkan jejak lingkungan yang sangat berbeda jauh. Energi untuk menghasilkan sebuah botol plastik, termasuk energi bagi transportasi yang membawa air kemasan tersebut dari asalnya ke tempatmu sangatlah besar. Air yang diperlukan untuk menghasilkan sebuah air botol kemasan juga sangat besar, dibutuhkan antara hingga 6 sampai 7 liter air untuk menghasilkan 1 liter air botol kemasan. Ketika botol plastik tersebut dibuang, ia akan menjadi limbah di alam selama ratusan tahun sebelum ia terurai. Lebih parah lagi adalah apabila botol plastik tersebut berakhir di incenerator yang akan mencemari udara yang kita hirup. Yang paling mengkuatirkan dari seluruh cerita pencemaran adalah bahwa sebagian limbah yang kita buang ke alam tersebut kini telah masuk ke dalam rantai makanan kita.

Begitu juga pilihan terhadap pangan yang kita konsumsi dapat berdampak terhadap lingkungan secara langsung. Buah-buah yang kita konsumsi memiliki carbon mileage yang berbeda tergantung jauhnya jarak buah tersebut dihasilkan.  Mengkonsumsi buah apel Malang akan menghasilkan karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan mengkonsumsi apel dari Amerika atau Cina. Begitu pula carbon mileage kopi yang berasal dari Toraja atau Aceh akan berbeda dengan kopi yang berasal dari Brasil atau Kolombia. Karena itulah pangan lokal memiliki dampak lingkungan yang minimal dibandingkan dengan pangan eskpor. Dampak tersebut akan lebih minimal lagi apalabila dihasilkan dari pertanian organik. Karena itulah kita inisiatif dan gerakan pangan lokal dan organik adalah sebuah solusi nyata bagi perubahan iklim.

Begitu juga bila kita memilih mengkonsumsi makanan olahan dan kemasan akan menghasilkan jejak karbon (carbon footprint) yang berbeda dibandingkan mengkonsumsi makanan yang segar dan tidak memerlukan kemasan. Mengkonsumsi mi instan kemasan plastik akan menghasilkan jekak karbon yang lebih besar dibandingkan dengan mengkonsumsi mi basah yang kita beli di pasar. Demikian seterusnya, ada banyak hal yang terlihat sepele dan sudah menjadi hal yang kita lakukan sehari-hari dapat memberikan perbedaan besar. Dengan sedikit lebih sensitif tehadap pilihan konsumsi kita dapat mengurangi jejak lingkungan  dan impak kita terhadap lingkungan.

Hal lain yang berdampak banyak tentu adalah energi yang kita gunakan di dalam rumah dan untuk keperluan mobilitas kita. Di kota-kota besar kita melihat orang mengeluhkan kemacatan tetapi jumlah kendaraan pribadi meningkat terus dan kualitas transportasi publik tidak ditingkatkan. Kota dengan udara yang lebih bersih tanpa kemacetan tentu adalah kota yang kita idamkan. Hal ini bukanlah hal yang mustahil bila kita ikut akit mendorong perubahan ini terjadi. Sebagai warga negara kita perlu melakukan kampanye dan pendidikan tentang pentingnya kota yang hijau dan tentunya juga dengan kemauan kita untuk menggunakan transportasi publik. Kita pelu lebih peduli dan aktif untuk mewujudkan ini terjadi.

Karena itu Idul Fitri ini mari kita kembali ke fitrah, kembali pada kesucian hati dan diri. Ini juga momen bagi kita untuk menilai jejak lingkungan atau dampak yang kita tinggalkan pada lingkungan dari gaya hidup kita sehari-hari. Salah satu peran penting kita adalah turut membangun kesadaran pentingnya upaya mengatasi krisis lingkungan, mencari akar permasalahannya, serta mencari solusi bagi penyelamatan lingkungan bersama-sama. Hal ini tentu saja harus melibatkan semua pihak. Pemerintah dan parlemen perlu membuat kebijakan yang berorientasi pada keselamatan lingkungan dan warga, aparat penegak hukum harus bertindak tegas terhadap para pelaku perusakan, dan tak kalah pentingnya adalah setiap warga negara dan individu-individu seperti kita juga berperan sangat penting untuk mengubah sikap kita terhadap alam dan bekerja bersama-sama mencari solusi bagi kerusakan lingkungan dan bumi rumah kita satu-satunya ini.