Kami mendarat di Dumai tanggal 2 Juli 2013 dengan begitu banyak perbedaan, jarak pandang yang tadinya kurang dari 20 meter sekarang sudah sangat jelas. Bahkan Bandara Dumai yang tadinya ditutup selama satu minggu sudah dibuka kembali. Masalah asap sudah usai rupanya, untuk saat ini.

Tapi bagi Laskar Harianja (30) kesedihan dan kerja keras yang disebabkan oleh kebakaran masih jauh dari usai. Harianja, orang tua tunggal dari tiga putra-putri, Jesna (11), Joshua (8), dan Hila (7) ditinggal pergi istrinya tahun 2009 karena sakit dan tidak menikah lagi sejak saat itu. “Mudah untuk mendapatkan istri, tapi mendapatkan istri yang bisa mengasihi dan merawat anak-anak dengan tulus adalah tugas yang sulit.” Laskar tersenyum tapi saya menangkap jelas kesedihan di matanya.

 

Untuk menafkahi keluarganya sehari-hari, Laskar menggantungkan hidup pada perkebunan nanas di belakang rumahnya di Simpang Bangko, Rokan Hilir, Propinsi Riau. Disanalah ia biasa bekerja sambil mengawasi anak-anaknya. Untuk membeli benih dan pemeliharaan perkebunan nanas seluas satu hektar itu, Laskar telah menghabiskan sekitar 10 juta rupiah. Saat buahnya siap dipanen, dia akan mendapatkan pemasukan sekitar 20 juta rupiah.

“Sesuai jadwal, perkebunan saya siap dipanen akhir tahun ini.”, ujar Laskar saat kami bertemu di rumahnya.

“Kalau uangnya terkumpul, akan saya simpan setengah untuk investasi musim tanam berikutnya. Dan sisa uangnya akan saya pergunakan untuk keperluan keluarga, sekolah anak-anak dan beli sepeda baru.”

Benar. Anak-anaknya, khususnya yang paling besar, mengidamkan sebuah sepeda. Sudah beberapa bulan mereka minta sepeda baru pada ayahnya. “Tidak perlu beli tiga sekaligus, satu saja cukup. Kami akan bergantian menaikinya.”, kata Jesna dengan wajah berbinar.

 

Saya benci telah menganggu kebahagiaan mereka, tidak cukup berani untuk menatap mata mereka. Saya harus mengalihkan pandangan. Menatap kebun nanas mereka yang sudah hancur terbakar. Ia tahu apa yang terjadi, ia tersenyum tapi matanya menatap kebun nanas dengan pandangan kosong.

Ya, tidak ada sepeda untuknya tahun ini. Sekarang, sepeda adalah hal paling akhir yang ada dalam pikiran Harianja karena ia harus memenuhi kebutuhan pokok keluarganya dan kembali membangun perkebunan nanas miliknya.

Perkebunan Harianja hancur total saat kebakaran lahan terjadi di seluruh Propinsi Riau pertengahan bulan Juni lalu.

Ia lalu membawa kami memeriksa perkebunannya. Tidak banyak yang tersisa di sana, setiap jengkal tanah telah habis terbakar. Di sana sini kami melihat  sisa-sisa buah nanas yang semuanya sudah rusak.

 

“Saya kehilangan segalanya.” Harianja lalu mengenang hari ketika api menghancurkan perkebunannya, “Saya tahu kebakaran sudah terjadi di daerah ini sejak tanggal 17 atau 18 Juni. Saya tidak tahu penyebabnya, yang saya tahu kebakaran pertama kali terjadi di perkebunan kelapa sawit sekitar 30 meter dari sini. Dan sejak saat itu api menyebar cepat.”

Menurut penuturan Harianja, api benar-benar menyebar sangat cepat. Ia ingat tanggal 22 Juni ketika api mulai merambat masuk ke perkebunannya. “Tidak ada yang bisa saya lakukan. Saya tidak ingin melakukan hal yang bodoh. Jadi tindakan pertama saya adalah membereskan barang-barang penting, menyiapkan anak-anak dan mengabaikan perkebunan serta rumah saya.”

Mereka lalu pindah ke rumah keluarga Harianja di Duri, sekitar satu jam perjalanan naik mobil. “Saya datang melihat perkebunan saya setiap hari. Dan ketika api akhirnya padam, saya membawa anak-anak kembali ke rumah.”

Beruntung, rumah mereka yang berlokasi dengan jalan utama tidak terbakar. Tapi tidak demikian dengan perkebunan mereka. Semua buah nanas habis lenyap.

Bagi Harianja, kesedihan yang timbul dari perisitiwa kebakaran ini masih jauh dari usai. Tapi ia menolak untuk berputus asa. “Saya harus memberi makan anak-anak dan tetap menyekolahkan mereka. Tidak ada cara lain, saya harus membangun kembali perkebunan. Bagaimana caranya mendapatkan 10 juta rupiah untuk benih? Saya benar-benar tidak tahu.” katanya menyeringai. “Saat ini saya bahkan tidak punya cukup uang untuk membeli makanan.”

Tapi menyerah adalah kata-kata terakhir dalam kamus Harianja. Untuk memberi makan keluarga dan pelan-pelan membangun kembali perkebunanannya saat ini ia bekerja di beberapa tempat. “Saya mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan. Mulai dari membantu petani memanen kelapa sawit hingga pekerjaan pembangunan, apa saja.”