Mansinam adalah sebuah pulau yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Papua. Menggunakan perahu, Pulau Mansinam dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 10 menit dari Ibukota propinsi Papua Barat Manokwari. Jajaran pengunungan nanhijau dipadu dengan birunya air laut tak berpolusi memperindah pesona Pulau Mansinam. Disinilah untuk pertama kalinya Injil diperkenalkan oleh misionaris Jerman dan setiap tanggal 5 Februari umat Kristiani datang untuk merayakannya. Bukan hanya masyarakat Papua wisatawan dari luar negeri juga melakukan kunjungan ke pulau Mansinam di hari yang bersejarah itu. Keindahan pantai dan pemandangan pulau tersebut juga merupakan daya tarik tersendiri.

Sayang sekali keindahan Pulau Mansinam selama ini kurang mendapat dukungan infrastruktur yang memadai . Pulau Mansinam yang didiami oleh kurang lebih 100-150 kepala keluarga belum mendapat akses listrik dengan layak dari negara. Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap diesel membuat perawatan dan biaya bahan bakar pun sangat mahal. Pulau Mansinam yang menjadi bagian penting dari Indonesia, sebagai ikon religi dan juga pariwisata, seharusnya mendapatkan dukungan yang lebih baik dari pemerintah.

Listrik sudah menjadi kebutuhan dasar umat manusia. Bagaimana aktifitas perekonomian dan pendidikan bisa berkembang pesat jika kebutuhan dasar atas listrik tidak mereka dapatkan? Inilah yang dialami oleh saudara-saudara sebangsa kita di tanah Papua dan juga di banyak daerah lain di Indonesia.

Papua memiliki rasio kelistrikan yang berkisar diangka 33%, dimana angka ini sangatlah rendah dibanding rasio kelistrikan Indonesia pada umumnya yang berada di angka 65,1%.  Keadilan energi haruslah menjadi perhatian pemerintah dalam hal pemerataan pembangunan.

Greenpeace yakin energi terbarukan merupakan penyelesaian masalah yang efektif untuk masalah kelistrikan Indonesia. Dengan memanfaatkan potensi alam lokal yang tidak ada habisnya, justru energi terbarukan inilah yang bisa menerangi bagian-bagian dari negara kita ini yang letaknya tersebar dan sulit dijangkau. Sistem kelistrikan tersentralisasi dengan pembangkit-pembangkit listrik skala besar dan jalur transmisi yang mahal yang diterapkan selama ini justru akan mempersulit proses pendistribusian listrik  ke daerah-daerah tersebut.

Pada tanggal 4 Februari yang lalu, Greenpeace bersama dengan relawan dari UNIPA (Universitas Negeri Papua) dan beberapa sekolah di Manokwari melakukan instalasi solar panel dan turbin angin di Pulau Mansinam. Hal ini dilakukan untuk memberikan contoh bahwa energi terbarukan yang berbasis pada sumber daya lokal akan mampu menyediakan listrik bagi daerah-daerah dan pulau-pulau terpencil yang sudah sejak lama tidak tersentuh oleh jaringan transmisi listrikd ari PLN.

Selain itu Greenpeace bersama relawan dari UNIPA dan sekolah-sekolah di Manokwari juga melakukan workshop dan sharing bagaimana cara memasang, mengoprasikan dan merawat alat-alat tersebut.  

Dengan pemasangan solar panel dan turbin angin ini masyarakat Pulau Mansinam tidak perlu kesulitan lagi untuk melakukan  misa pagi dalam keadaan gelap gulita atau harus menghidupkan diesel dengan bahan bakar yang cukup mahal. Mansinam diharapkan dapat membuka mata pemerintah juga masyarakat luas bahwa ada sudara-saudara kita yang selama ini belum mendapatkan akses listrik juga dapat menikmati listrik dengan menggunakan sumber energi terbarukan.

Yang Greenpeace lakukan di Pulau Mansinam seharusnya juga  dapat dilakukan di tempat lain di seluruh penjuru Indonesia. Potensi energi terbarukan, energi bersih yang relatif lebih ramah lingkungan,  harus dapat diwujudkan. Pemenuhan energi tidak boleh hanya dinikmati oleh masyarakat yang tinggal di perkotaan yang cenderung mengkonsumsi energi secara berlebihan.  Masyarakat yang tinggal di wilayah yang jauh dari jaringan transmisi dan distribusi listrik seharusnya juga memiliki hak yang sama untuk bisa menikmati listrik. . Keadilan energi harus ditegakkan untuk Indonesia yang lebih maju. Penerangan monumen Salib di Mansinam dengan energi terbarukan bisa menjadi tonggak dalam mewujudkan keadilan energi, bukan saja untuk masyarakat di Papua, namun juga untuk masyarakat Indonesia yang lebih luas.

 

Hindun Mulaika, Juru Kampanye iklim dan Energi Terbarukan, Greenpeace Asia Tenggara