Pendukung Greenpeace mengerakkan kekuatan besar.  Bersama Jutaan orang dibelakang Greenpeace yang memberikan kekuatan pada kampanye untuk mendorong perusahaan-perusahaan berubah sekarang untuk mulai melindungi planet kita. Minggu lalu adalah buktinya.

Kami meluncurkan Tiger Challenge, mendesak pemain-pemain besar di dunia industri sawit untuk menghapus deforestasi dari rantai pasokan mereka dan menjadi sahabat  harimau dan hutan Indonesia.

Hingga saat ini sudah tiga perusahaan konsumen besar yang mengumumkan komitmen mereka untuk membeli minyak sawit yang tidak mengandung kerusakan hutan. Ini adalah kabar baik untuk masyarakat dan satwa yang hidupnya bergantung pada hutan, yang saat ini minyak sawit sebagai penggerak terbesar deforestasi di Indonesia.

Tentu kami tidak akan berpuas diri, Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, komitmen mereka adalah langkah maju untuk kita semua.

Inilah mereka yang  telah membuat perubahan

Unilever

Unilever, pembuat sabun Dove, Es Krim Breyers dan Mentega Flora telah lama bicara tentang minyak sawit berkelanjutan selama bertahun-tahun. Minggu lalu, Unilever merilis kebijakan Nol Deforestasi menjelaskan bagaimana mereka akan bekerja sama dengan pemasok untuk “menghentikan deforestasi, melindungi lahan gambut dan mendorong  dampak ekonomi dan sosial yang positif bagi masyarakat.” Sementara itu, Unilever masih memiliki jadwal ambisius tahun 2020, perusahaan ini telah berkomitmen untuk mencari tau darimana sumber minyak sawit mereka berasal mulai pada tahun 2014.

Ferrero

Ferrero, pembuat Nutella, mengikuti hal serupa dengan membuat komitmen publik untuk menjalankan kebijakan minyak sawit Nol Deforestasi yang akan mengatasi penyebab utama deforestasi dan menciptakan keseimbangan optimal antara konservasi lingkungan, kebutuhan masyarakat dan manfaat serta kelayakan ekonomi.” Ferraro secara khusus menyerukan perlindungan hutan, lahan gambut serta menghormati hak asasi manusia serta buruh. Di waktu yang bersamaan juga telah berkomitmen semua pemasoknya harus memenuhi semua persyaratan ini paling lambat tahun 2015. Ferrero juga telah memperlihatkan dukungannya bagi Palm Oil Innovation Group (POIG) – kelompok produsen minyak sawit dan NGO yang memiliki komitmen  melampaui komitmen RSPO untuk memutuskan hubungan mereka dengan kerusakan hutan.

Mondelēz

Yang terakhir namun tak kalah pentingnya, Mondelez, salah satu perusahaan makanan ringan terbesar di dunia, pembuat biskuit Oreo, coklat Cadbury dan biskuit Ritz, mengambil langkah pertama Jumat minggu lalu dengan mengumumkan komitmen barunya, khususnya bagi Nol Deforestasi: “Secara khusus, pengembangan kelapa sawit harusnya tidak dilakukan di Hutan Primer, kawasan dengan Nilai Konservasi Tinggi (High Conservation Values / HCV), hutan dengan Stok Karbon Tinggi (High Carbon Stock), atau melakukan pembakaran dalam pembersihan lahan perkebunan.”

Dengan ini, Mondelez menjadi perusahaan pertama yang menanggapi tantangan harimau (Tiger Challenge)!

Tapi masih ada banyak pertanyaan perihal komitmen mereka yang akan disampaikan Greenpeace kepada Mondelez, khususnya tentang jadwal mereka yang kurang ambisius di tahun 2020. Sementara Unilever berkomitmen untuk keterlacakan sumber minyak sawit mereka di tahun 2014 dan Ferrero dengan kebijakan Nol Deforestasi di tahun 2015, Mondelez hanya menentukan targetnya untuk tahun 2020. Konsumen tidak bisa menunggu selama enam tahun untuk memastikan produk-produk yang mereka gunakan bersahabat dengan harimau! Kami berharap perusahaan-perusahaan menanggapi ini dengan lebih cepat mengingat urgensi masalah ini.

Mondelez juga terus mengacu pada RSPO sebagai sistem terbaik untuk pemenuhan komitmennya dan tak jelas bagaimana mereka akan menanggapi hubungannya dengan perusak hutan terkenal, Wilmar Internasional.

Namun demikian, ini adalah langkah menuju arah yang benar.

Apakah Tiger Challenge itu?

Perusahaan-perusahaan yang terdapat dalam Tiger Challenge membeli minyak sawit melalui Wilmar Internasional, pedagang yang dengan reputasi sebagai perusak hutan. Berdasarkan analisis kebijakan dan tanggapan yang masuk untuk kuesioner yang dikirim ke perusahaan-perusahaan tersebut, Tiger Challenge mengungkapkan bahwa banyak merek hanya mengandalkan RSPO untuk menjamin konsumen rantai pasokan mereka bebas dari minyak sawit kotor.

RSPO, seperti yang kami tunjukan disini tak dapat menjamin produk-produk yang Anda gunakan bebas dari kerusakan hutan. Perusahaan lain seperti Colgate Palmolive telah gagal memenuhi tenggat waktu mereka sendiri untuk sumber minyak sawit berkelanjutan melalui RSPO.

Dengan setiap perusahaan mengatakan tidak pada minyak sawit kotor, tekanan akan dirasakan oleh pedagang minyak sawit terbesar di dunia, Wilmar Internasional, untuk mulai melakukan perubahan dalam industri dan menyelamatkan hutan habitat Harimau Sumatera.

Tetaplah bersama kami dan nantikan siapa lagi yang akan menanggapi Tiger Challenge.

Areeba Hamid adalah juru kampanye hutan  Greenpeace International