Pernakah terlintas di pikiran kita, bahwa laut-laut kita yang luas itu suatu saat bisa menjadi zona-zona tak ber-ikan? Bayangkan bila hamparan laut Nusantara dimana kehidupan dan kekayaan hayatinya yang pernah dikagumi dunia, akhirnya hilang dan musnah! Bayangkan bila tidak ada lagi ikan di masa depan untuk generasi mendatang. Tidak ada lagi keindahan terumbu karang yang membanggakan.

Barangkali hal itu sulit dibayangkan, namun bagi kami di Greenpeace, kondisi diatas, bisa saja terjadi di masa depan! Apalagi bila kita saat ini tidak peduli dengan masalah ini: Penangkapan Ikan Berlebih (overfishing), dan jika kita hanya memilih untuk berdiam diri, tidak melakukan sesuatu untuk menangani penyebab utamanya.

Overfishing atau penangkapan ikan berlebih secara sederhana dapat dipahami sebagai eksploitasi sumberdaya ikan yang melebihi kemampuannya untuk beregenerasi secara lestari.

Prinsipnya, ikan merupakan sumberdaya yang dapat diperbaharui karena dapat beregenerasi secara alamiah. Hanya saja keberlangsungan regenerasi suatu jenis ikan akan sangat dibatasi dan dipengaruhi oleh sejauhmana ikan-ikan tersebut mendapatkan kesempatan dan waktu mencapai  ukuran dewasa dan melewati satu atau dapat mengulangi sebuah siklus reproduksi secara lengkap. Semakin banyak ikan yang ‘gagal’ atau dengan kata lain tertangkap sebelum mencapai kesempurnaan siklus perdana reproduksinya, maka sumberdaya ikan dari jenis tertentu tersebut akan dihadapkan pada kondisi penurunan populasi, kelangkaan sebaran dan akhirnya mengalami kepunahan.

Penyebab utama Penangkapan Ikan Berlebih (overfishing) adalah meningkatnya jumlah armada dan kapasitas penangkapan namun tidak diikuti dengan upaya yang optimal untuk melakukan pengendalian dan penentuan jumlah armada, kapasitas, metoda, alat, wilayah, waktu, jenis ikan dan kuota tangkap.

Oleh karena itu, kondisi ovefishing sangat terkait dan dipicu oleh apa yang lazim kita kenal dengan sebutan IUU (illegal, unreported & unregulated) fishing, dimana armada tangkap suatu negara melakukan pencurian atau penjarahan ikan di wilayah suatu negara lainnya tanpa izin, sebuah armada melakukan penangkapan ikan dengan cara, alat dan bahan yang merusak dan tidak mematuhi ketentuan peraturan yang telah ditetapkan oleh peraturan perundangan, serta tiadanya pelaporan hasil tangkapan dengan benar dan transparan oleh suatu armada tangkap kepada otoritas terkait. 

Praktek IUU fishing, terutama yang dilakukan oleh armada tangkap asing telah menyebabkan laut Nusantara saat ini sedang mengalami kondisi Penangkapan Ikan Berlebih (overfishing).  Praktek penangkapan ikan tidak bertanggungjawab tersebut juga turut dalam penghancuran terumbu karang, tempat dimana berbagai jenis ikan bergantung pada kesehatan ekosistem vital tersebut untuk beregenerasi.

Laut Nusantara saat ini sangat membutuhkan solidaritas kita. Solidaritas untuk menyuarakan keprihatinan bersama terhadap krisis yang sedang dihadapinya. Solidaritas untuk melawan praktek IUU perikanan dan mengakhiri kondisi penangkapan ikan berlebih (overfishing) ini. Solidaritas bagi perikanan Indonesia yang lebih bertanggungjawab. Solidaritas untuk membangun keteladanan dan kepemimpinan Indonesia dalam pengelolaan sumberdaya perikanan yang bertanggungjawab, berkelanjutan dan berkeadilan. 

Mari bersama Greenpeace, kita pulihkan pesisir dan laut Nusantara!