Cerita ini dari Hapsoro, Greenpeace Southeast Asia Forest Campaigner di Forest Defenders Camp, tepian Sungai Cenaku, Indragiri Hulu, Riau.

Beberapa minggu berada di Forest Defender Camp Greenpeace rasanya seperti menjadi bagian dari komunitas tersendiri. Sebuah komunitas yang memiliki latar belakang berbeda, namun juga beradaptasi dengan komunitas asli setempat. Kami adalah komunitas penyelamat hutan yang juga dipengaruhi oleh kearifan lokal masyarakat rawa gambut yang berada di sepanjang Sungai Cenaku. Kami tinggal di tepi kawasan gambut di tepi Sungai Cenaku dalam pada perkampungan ramah lingkungan yang dibangun dengan sentuhan budaya Melayu dan teknologi modern. Kami hadir dengan tujuan bersama memastikan keselamatan hutan gambut yang tersisa sekaligus mengupayakan pulihnya ekosistem gambut yang terancam menjadi kering di wilayah ini. Kami adalah sebuah suku baru, Suku Penyelamat Hutan Gambut.

Hutan gambut tropis di kawasan dimana Suku Penyelamat Hutan Gambut ini tinggal sedang menghadapi ancaman besar. Ekosistem gambut yang khas dengan berbagai macam keanekaragaman hayati akan musnah. Hutan besar dihancurkan sama sekali dengan menebang habis dan mengeringkan rawanya. Semua itu terjadi hanya karena ketamakan akan minyak sawit. Ketamakan menjadi beberapa pihak untuk menjadi penguasa sawit dunia, ketamakan mendapatkan untung besar hasil ekspor sawit, serta ketamakan pada konsumsi minyak sawit dalam jumlah besar untuk bahan makanan, kosmetika, dan bahan bakar ramah lingkungan (biofuel).

Sejak beberapa hari ini, sejumlah besar Suku Penyelamat Hutan Gambut menjadi lebih sibuk bekerja. Perkampungan kami menjadi sepi setiap pagi hingga sore hari, namun menjelang malam seluruh anggota suku kembali meramaikan suasana. Suku ini sedang melakukan upaya untuk mengurangi deras air gambut yang mengalir keluar dari tempatnya semula. Kami meyakini bahwa ketika air gambut dialirkan keluar melalui kanal-kanal perusahaan perusak hutan, maka kawasan ini akan menjadi kering. Maka dengan semangat tinggi anggota Suku Penyelamat Hutan Gambut bersepakat untuk menutup beberapa 2 buah kanal yang berpotensi besar untuk mengeringkan kawasan gambut di sekitar perkampungan mereka. Kanal-kanal tersebut dibangun dengan puluhan ton material penyusun (ratusan batang kayu dan karung pasir).

Di hari pertama pembangunan bendungan-bendungan tersebut, kami menghabiskan waktu untuk mengangkut ratusan kayu balok sejauh 1 km dari tepian Sungai Cenaku. Puluhan orang, baik laki-laki maupun perempuan, berkulit hitam, sawo matang, kuning langsat, maupun yang berkulit putih pun mengerahkan segenap kemampuan fisiknya. Peluh kami keluar tak terbendung sepanjang hari, pundak kami pun terasa nyeri karena beban berpuluh batang kayu penyusun bendungan yang harus dipanggul. Sebagian orang lagi harus rela berendam di air gambut untuk menarik puluhan batang kayu lagi melalui kanal-kanal. Hanya dengan semangat tinggi dan keyakinan yang besar lah yang membuat kami para anggota Suku Penyelamat Hutan Gambut ini mampu bertahan dengan beban berat pekerjaan fisik ini.

Menjelang tengah hari sebagian besar bahan baku penyusun bendungan telah berhasil dipindahkan pada 2 buah lokasi bendungan. Kami pun mulai membangun bendungan sesaat setelah makan siang. Kampak mengayun untuk meruncingkan tiang-tiang yang akan memagari kanal. Dentuman pemukul, suara gergaji, teriakan penyemangat, serta helaan terdengar bersahutan ketika tiang pancang ditancapkan ke dalam kanal. Sungguh sebuah irama serempak yang dibangun dalam aktivitas ini. Kekompakan dalam bekerja yang juga diselingi canda-tawa saat beristirahat.

Di hari-hari selanjutnya suasana kerja di setiap lokasi bendungan tak jauh berbeda dengan sehari sebelumnya. Kedua tim pembendung kanal berkerja penuh semangat. Keduanya bahkan berkompetisi untuk adu cepat menyelesaikan pekerjaan pembendungan. Sejak hari kedua, kami mendapat bantuan tenaga dari masyarakat kampung sekitar. Maka pembangunan bendungan pun bisa dilanjutkan dengan lebih cepat. Kini, dua buah bendungan telah berhasil dibangun. Masih tersisa 3 buah bendungan lagi yang menunggu kami.

Semoga pembangunan ini segera rampung, dan kehadiran Suku Penyelamat Hutan Gambut pun dapat menjadi lebih berguna. Berguna bagi masyarakat kampung Kuala Cenaku dan Kuala Mulia, berguna bagi selamatnya hutan gambut, serta bagi upaya penyelamatan iklim global. Semoga upaya ini bisa menjadi awal bagi cita-cita memastikan terjadinya penghentian pengrusakan hutan gambut, hanya karena kelapa sawit ....