Demo Warga Batang

Di bawah guyuran hujan di hari ke empat belas bulan suci Ramadhan, sekitar 150 warga Batang mengunjungi Kedutaan Besar Jepang di Jalan MH Thamrin untuk menyampaikan pesan dan aspirasi yang mereka bawa dari desanya, dari kerabat dan keluarga serta puluhan ribu warga lainnya yang tak sempat hadir untuk menolak pembangunan PLTU Batubara di Batang.

Pembakaran energi kotor batubara menyebabkan perubahan iklim yang telah menjadi ancaman global saat ini.  Dan pembangunan PTLU yang dimotori oleh konsorsium PT.Bhimasena Power Indonesia akan  menghancurkan sawah dan laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Dalam suratnya bagi pemerintah Jepang, warga menuturkan kegelisahan, ketakutan serta harapan mereka.

…Tuan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe yang terhormat. Dua perusahaan dari Jepang yaitu J-Power dan Itochu menjadi pihak yang berencana membangun PLTU Batang di desa kami, dua perusahaan ini bersama satu perusahaan dari Indonesia membentu sebuah konsorsium yang bernama PT.Bhimasena Power Indonesia. Konsorsium dimana J-Power dan Itochu tergabung inilah yang menjadi sumber ketakutan dan penganggu ketentraman hidup kami yang semula damai, sejahtera dan bebas dari rasa takut.

Tuan Abe yang terhormat, dua perusahaan dari Jepang ini telah melakukan berbagai hal termasuk pelanggaran HAM untuk memaksakan pembangunan PLTU Batubara Batang bisa dilakukan di desa kami, mulai dari intimidasi terhadap warga, kriminalisasi terhadap para tokoh kami, pengrusakan kebun melati sumber penghidupan kami dan perampasan lahan sumber mata pencaharian kami.

Tuan Abe yang terhormat, seperti warga Jepang, kami warga Batang juga ingin bebas dari rasa takut dan bebas dari ancaman terhadap masa depan kami, kami menolak keras rencana pembangunan PLTU Batang di desa kami. Kami menolak pengrusakan terhadap sumber penghidupan kami, dan kami akan melawan segala bentuk perampasan terhadap lahan sumber mata pencaharian kami.

Warga meminta kepada pemerintah jepang untuk menghentikan dan membatalkan investasinya melalui J-Power dan Itochu. Terkejut mendengar pelanggaran HAM yang terjadi, perwakilan dari Kedutaan Besar Jepang mengatakan mereka akan menyampaikan aspirasi warga kepada pemerintahnya. Pelanggaran HAM dan pelanggaran konservasi alam adalah informasi-informasi yang tak pernah mereka dengar sebelumnya, jika tidak datang dari suara rakyat Batang.

“Apakah suara kami akan didengar?”, pertanyaan Ibu Rohmini seorang warga yang ikut berdiri di tengah guyuran hujan menggantung seperti mendung di atas langit Jakarta hari ini.  Seandainya ada jawaban yang bisa diberikan pada Ibu Rohmini dan puluhan ribu masyarakat lainnya yang sedang menunggu. Tapi apapun yang terjadi, rakyat sudah bertekad akan terus melanjutkan perjuangan demi masa depan anak-anak mereka dan demi masa depan alam serta bumi kita, karena Batubara membunuh masa depan, apa masih perlu penjelasan lagi?

***