Dalam sebuah kesempatan di tengah perjalanan bersama Greenpeace, saya bertanya ke pak Firdaus tentang jatidiri orang Teluk Meranti. Jawab beliau, orang Teluk Meranti itu pekebun/peladang, petani dan nelayan. Dan untuk itulah kami disana, mendengar cerita langsung dari orang Teluk Meranti. Hanya mendengar? Tentu tidak karena selanjutnya saya akan ceritakan kembali ke teman-teman.

PMK sedang mengambil air dengan latar belakang kebakaran hutan.

Nama Teluk Meranti sendiri tak asing bagi saya, karena teman-teman di Pekanbaru sering mengunggah foto-foto Bono surfing yang sangat terkenal hingga mancanegara itu. Bono surfing adalah fenomena unik karena ombak mengalun yang menjadi idola para peselancar terjadi di sungai, bukan di laut. Saya lalu membayangkan pula akan berada di suatu daerah tujuan wisata yang lumayan ramai.

Pak sopir mengatakan jarak yang akan kami tempuh sekitar 4 jam. Mungkin benar, entahlah, karena saya agak pusing dijalan. Heheheee.... Kecurigaan muncul ketika tim kami berhenti membeli makan malam di Pangkalan Kerinci, padahal perjalanan masih 3 jam lagi. Waduh, apakah tempat itu sangat terpencil? Di Sorek, kami belok kiri dan mulai masuk jalan pedesaan. Satu jam pertama jalan mulus meski berkelok-kelok, sampai kemudian kami memasuki jalan berpasir. Laju mobil membuat debu pasir beterbangan menghalangi pandangan dan membuat badan kami terguncang dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kalau musim penghujan jalan itu pasti sangat berbahaya.

Ditengah perjalanan kami mendapati pemandangan tak terduga. Kepulan asap tampak dikejauhan dan semakin besar. Kebakaran! Sejak awal Februari lalu provinsi ini di selimuti asap dampak dari pembakaran hutan dan lahan. Meski presiden telah turun tangan sendiri dan memberi waktu 3 minggu pada BNPB dan pemprov Riau untuk menyelesaikan kebakaran hutan Riau, nyatanya kebakaran besar masih terjadi, apapun sebabnya. Kami langsung berhenti dan mengabadikan peristiwa tersebut dengan hati sangat miris. Pasti besar sekali jika dilihat dari dekat. Tak lama kemudian mobil pemadam kebakaran datang mengambil air didekat kami. Entah untuk memadamkan kebakaran yang kami lihat itu atau untuk kebakaran lain yang lebih dekat, rasanya kita harus berterima kasih pada bapak-bapak ini yang terus bekerja meski hari sudah mulai gelap.

Kami memasuki sebuah perkampungan yang gelap dengan akses masuk yang cuma muat untuk satu mobil. Malam itu kami akan menginap di rumah kayu pak Firdaus yang besar dan bagus. Pak Firdaus dulunya adalah ketua RW yang kemudian dicopot tanpa mengerti sebabnya. Mungkin karena pak Firdaus sering maju membela kepentingan masyarakat sekitar. Disana juga ada pak Dani, nelayan dan sesepuh masyarakat yang dulu pernah mengawal camp Greenpeace  (Climate Defender Camp) di tahun 2009 selama 2 bulan di Teluk Meranti dan mas Yanto yang sering menyediakan advokasi bagi masyarakat.

Sebenarnya waktu itu saya sudah susah melek karena kecapekan dan sedikit pusing. Tapi dialog dengan bapak-bapak tersebut membangkitkan keinginan untuk terus mendengarkan dan bertanya. Berbeda dengan Dosan, warga Teluk Meranti banyak menghadapi masalah hukum. Masalah hukum sering membuat kita gamang, lalu menghindar jauh-jauh. Tapi warga Teluk Meranti tidak, mereka percaya diri karena perjuangan mereka adalah demi generasi masa depan.

Berangkat pagi-pagi untuk melihat keindahan hutan Kerumutan.

Pak Dani bercerita, sebagai nelayan, dulu ikan mudah didapat. Setelah sebulan di sungai, 2 bulan kemudian bisa istirahat di darat. Sekarang tak lagi seperti itu, bisa seminggu istirahat saja sudah bagus. Mengapa begitu? Jika teman-teman pikir, ekstensifikasi perkebunan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nelayan, teman-teman keliru.

Perkebunan menggunakan pupuk dan berbagai bahan kimia untuk menyuburkan tanaman dan mempercepat masa panen. Meski ada aturan larangan mengusahakan lahan beberapa kilometer dari bibir sungai, beberapa pemilik perkebunan melanggar aturan tersebut sehingga bahan kimia masuk ke sungai. Beberapa jenis ikan yang tidak tahan terhadap bahan kimia tersebut makin sulit dicari, sedangkan yang masih ada tidak berkembang biak secepat dulu. Selain itu ada kisah nelayan lain yang akan saya ceritakan nanti.

Hutan Kerumutan yang memancarkan aura magis di pagi hari.

Sedangkan mas Yanto bercerita tentang masalah hukum warga. Banyak masalah yang timbul karena ketidakjelasan tapal batas lahan. Warga berusaha mematuhi hukum yang berlaku meski selalu kalah ketika pengaduan diproses. Semua persyaratan untuk memasukkan gugatan berusaha mereka penuhi meskipun sadar kemungkinan untuk menang sangat kecil, bahkan nyaris tak ada. Lahan di kawasan tersebut sudah tidak memadai lagi, sangat sempit. Warga pun mengolah lahan yang terbengkalai. Batas yang tidak jelas antara wilayah yang dilindungi dengan yang tidak, sering membuat warga dianggap melakukan pelanggaran. Sebaliknya, permintaan warga agar instansi terkait segara menetapkan tapal batas juga tidak segera dipenuhi.

Keluhan makin langkanya lahan yang bisa ditanami berkali-kali diungkapkan pak Firdaus. Lahan di wilayah tersebut banyak yang dijual ke perusahaan-perusahaan besar. Meski ada aturan yang melarang pengusahaan lahan gambut yang memiliki kedalaman kurang 3 meter, tapi bapak-bapak ini mengatakan bahwa ada yang nekad mengekplorasi lahan gambut yang memiliki kedalaman hingga 15 meter.

Masyarakat Riau tidak dikenal sebagai petani, tapi bukannya tidak ada. Contohnya masyarakat di Teluk Meranti ini ada yang berprofesi sebagai petani. Namun belakangan para petani ini putus asa dan beralih ke berbagai profesi lain, misalnya nelayan atau buruh. Sebab-sebab mereka putus asa adalah karena tidak tahan terhadap serangan hama hewan liar seperti monyet, babi, burung dan sebagainya. Hewan-hewan itu menyerbu lahan pertanian karena hutan didekatnya tak mampu lagi menjadi habitatnya. Meski hutan tampak masih rimbun dari tepi sungai, sesungguhnya sudah botak jika kita mau berjalan barang 2 km kedalam.

Malam itu, seperti malam sebelumnya, kami tidur beralaskan kesederhanaan.

Sebagian kecil satwa hutan Kerumutan yang berhasil difoto.

Pagi di Teluk Meranti menyajikan ketenangan yang dalam. Bersila di dermaga kayu memberikan kedamaian yang mengharukan. Gak ingin pulang....

Tapi kami harus segera beranjak dengan misi melihat keindahan hutan Kerumutan. Setelah dialog semalam, dalam hati saya bertanya, masihkah beautiful forest itu ada?

Kami berangkat dengan 2 speedboat, didampingi mas Yanto, bang Pendi dan kawan-kawan. Memasuki kawasan Kerumutuan, keheningan menjalar ke seluruh tubuh. Selain karena suasananya yang magis, kami juga tidak ingin mengganggu burung-burung yang terbang zig-zag kekanan dan kekiri mengiringi speedboat kami agar kami bisa mengabadikannya dengan kamera. Hewan yang kami lihat di sepanjang sungai sangat beragam. Untuk burung saja, saya melihat berbagai jenis: ada yang berwarna biru cerah, ada yang suka menyusur permukaan sungai, ada yang besar dan suka terbang tinggi, dan sebagainya. Monyet juga dari berbagai jenis, terlihat dari perbedaan ciri-ciri fisiknya. Kata bang Pendi, kadang terlihat buaya. Hanya saja ketika bang Pendi saya tanya ada anaconda atau tidak, bang Pendi diam saja. Heheheee.... Anaconda memang adanya di Amerika Latin, tapi ngeri juga ya kalau ada ular sungai yang seganas itu. Ah, kebanyakan nonton film.

Rumah yang ditinggali nelayan jika sedang menangkap ikan din sungai Kelantan.

Kami singgah di rumah nelayan bu Rosma. Rumah nelayan seperti itu hanya ditinggali seminggu, untuk kemudian ditinggal beristirahat selama seminggu di darat. Bu Rosma tinggal disana bersama anak lelakinya. Tak jauh dari bu Rosma, ada rumah nelayan lain yang ditinggali anaknya yang sudah berkeluarga. Jenis ikan yang dijual bu Rosma adalah ikan linca, yang juga dihidangkan bu Firdaus. Rasanya gurih dan renyah. Nelayan menangkap ikan dengan merendam ‘penilai’, semacam jaring berbentuk kotak, selama dua atau tiga hari. Bu Rosma mengeluhkan hal yang sama seperti pak Dani bahwa ikan semakin sulit didapat. Di belakang rumah nelayan bu Rosma ada bangunan untuk sarang burung walet. Di desa tersebut beberapa bangunan sejenis juga tampak, tapi kami tidak sempat melihat lebih dekat.

Ada yang unik dari para nelayan yang sedang mengecek ‘penilai’ yaitu semuanya berdua, mungkin suami istri, ada yang masih muda, ada yang sudah kakek nenek. So sweet :D .

Dari tempat bu Rosma, kami meneruskan perjalanan dan bertemu dengan bang Awaludin yang curhat berapi-api. Kamipun berhenti untuk mendengarkan. Kak Nenen yang sedang mengangkat jaring mendekat untuk ikut memberikan informasi. Mereka bercerita, baru-baru ini ada operasi pemburu pembakar hutan yang memang sedang gencar dilakukan sehubungan dengan instruksi presiden. Beberapa orang tertangkap, tapi ada juga yang berhasil melarikan diri.

Nelayan sungai Kelantan: Bu Rosma, Bang Awaludin dan Kak Nenen.

Dalam perjalanan ke tempat itu, kami menemui tumpukan kayu yang siap diangkut di tepi sungai. Menurut informasi pak Awaludin, para pembalak liar itu sudah ditangkap tapi belum semua. Jika kami meneruskan perjalanan, menurutnya akan ada 20 tempat seperti itu, sementara yang sudah kami lihat ada 4. Katanya satu tempat/kelompok biasanya membawa masuk 10 chainsaw, sedangkan 1 chainsaw biasanya dioperasikan oleh 3 orang. Pak Awaludin tampak sangat marah dengan ulah pembalakan liar ini. Bagaimana tidak? Kapal pongpong yang membawa kayu-kayu curian itu sering menabrak jala para nelayan. Mereka juga sering mengambil ikan yang siap dipanen nelayan.

Kami berbalik arah dan memutuskan berlabuh di tempat yang ditinggalkan pembalak liar. Menurut bang Pendi, kayu yang tertinggal tidak jadi diangkut sekitar 5 kubik. Kami menyusuri jalan kayu yang dibuat para pencuri kayu itu tapi tidak sampai jauh atau sampai camp. Menurut para nelayan, camp para pencuri itu sudah dibakar petugas. Semoga mereka tidak hanya ditangkap, tapi juga divonis berat dan tidak kembali lagi kesana setelah kabut asap reda dan Riau tenang, tidak lagi menjadi perhatian dunia.

Jejak pembalak liar di hutan Kerumutan.

Ketika kembali, speedboat kandas oleh pasir karena air sungai surut. Pengemudi speedboat terpaksa mendorong. Iya, seperti mendorong mobil mogok. Ternyata airnya tidak tinggi, hanya sedengkul. Sebelum pulang, bu Firdaus menghidangkan udang sungai Kampar yang terkenal besar-besar, yang ditangkap dari depan rumah beliau. Sekeping surga pedesaan yang tersisa.

Teringat kata-kata pak Dani, “Orang-orang pandai telah dibeli, tinggallah kami-kami yang bodoh ini." Saya tidak setuju. Orang pandai tidak tercermin dari gelar akademik. Orang pandai adalah mereka yang gigih memperjuangkan masa depan anak-anak mereka, masa depan orang banyak, masa depan bumi. Orang pandai adalah mereka yang tidak putus asa mengikuti aturan untuk memperjuangkan kepentingan orang banyak meski belum meraih kemenangan. Kita termasuk yang mana?

 

Tulisan dan foto oleh:

Lusiana Trisnasari, Riau
Sebagai pemenang lomba blog untuk hutan Indonesia #protectparadise