Satu kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana praktek  industri ‘nakal’ di wilayah Citarum adalah: brutal. Itu kesan yang saya dapat ketika menyusuri wilayah industri di Citarum mulai dari Majalaya hingga Purwakarta. Sangat mudah untuk menemukan saluran buangan yang warna-warni, berbau menyengat dengan asap panas mengepul.

Tanpa malu, takut, ataupun sungkan mereka membuang limbah ke badan sungai siang-malam tanpa henti. Tentu saja yang mereka buang bukan ‘limbah’ sisa makan malam atau kotoran kambing, tapi zat-zat berbahaya yang digunakan dalam proses produksi (seringnya) tanpa diolah. IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) diperlakukan layaknya aksesoris, dipajang untuk menghindari hukuman.

Manusia macam apa yang membuang limbah berbahaya ke saluran air tempat orang  (mencari) makan dan minum tanpa diolah tersebut? bahkan dilakukan secara terang-terangan? orang-orang ini secara sengaja melanggar aturan hukum, norma sosial dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Benar-benar  vulgar, tak sanggup lagi untuk kita nalar.

Susahnya menjadi orang kecil (tapi) baik hati

Di tengah perjalanan menyusuri kantong-kantong industri Citarum saya berhenti di Rancaekek, dan bertemu abah Oni (70th) kakek bersuara merdu nan bijak bersahaja. Abah berusia sama dengan Republik ini, lahir di tahun 1945, dia adalah saksi sejarah bagaimana perubahan signifikan yang terjadi sebelum dan setelah industri masuk ke daerah Rancaekek. 

Abah Oni

Abah Oni

Dengan bahasa sunda halus yang hampir tidak saya mengerti, abah Oni mulai bercerita bagaimana perbedaan hidup 40 tahun lalu dan sekarang. Suara Abah ini serius merdu, sekilas mirip suara Adam Levine ketika melengkingkan She Will be Loved, jika lahir tahun 90an mungkin Abah akan jadi anak band, tapi Abah lahir tahun ’45 dan memilih berbahagia menjadi petani mengolah tanah leluhurnya. “Baheula mah sae”, demikian Abah membuka cerita. Saya rasa benar apa yang disampaikan Abah, Rancaekek dan Majalaya adalah sentra pertanian unggulan dengan hasil berkualitas atas, tapi itu dulu.

Pada awalnya semua tampak akan baik-baik saja, tanah yang subur dan air sungai yang mengalir “herang” (bersih) adalah berkah untuk Abah dan keluarga. Selain untuk keperluan sawah, air sungai Cikijing digunakan untuk mandi dan semua keperluan sehari-hari. Namun jika kamu lihat sekarang, maka situasinya sangat berbeda. Untuk minum Abah harus membeli air galonan, untuk mandi abah mengandalkan air sumur, “gatal sih awalnya, tapi lama-kelamaan sudah kebal” begitu kata Abah, menuturkan air sumur yang tercemar limbah.

Setelah berdirinya pabrik, menurut Abah semua mulai berubah. Air sungai Cikijing tidak lagi bisa digunakan, jangankan untuk mandi atau minum, untuk mengairi sawah saja tidak layak. Hasil padi juga menurun drastis, jika dulu satu hektar bisa menghasilkan hingga 5 ton gabah, sekarang untuk mendapatkan 2 ton saja harus susah payah. Di sekitar tempat Abah tinggal terdapat lebih dari 1000 hektar sawah yang terbengkalai dan tak bisa lagi digunakan untuk produksi karena tercemar limbah.

Sama seperti petani di sekitar Cikijing, Abah menderita kerugian material dan non-material yang sangat besar akibat bencana limbah ini. Di balik segala tantangan bertani di tengah tekanan industri, Abah menghidupi keluarga dengan 8 anak, dan tetap teguh bertani hingga sekarang. Dan begitulah Abah, tak ada raut sedih saat bercerita kisah pilu ini. Abah tetap ramah, tersenyum dan tak henti berucap syukur masih bisa bertani dengan segala tantangan yang harus dihadapi.

Bersiap untuk bencana kesehatan tak terduga

Tahun 1996 Erin Brokovich memenangkan gugatan melawan raksasa Pacific Gas and Electric Company (PG&E) karena pencemaran Cr(VI) (hexavalent chromium) di aliran air minum warga Hinkley, California Selatan. Setelah melalui proses peradilan panjang dan pembuktian, ditemukan bahwa ada kaitan antara penggunaan Cr(VI) di saluran pendingin PG&E yang bocor ke sumur-sumur warga dan memicu bencana kesehatan. Hal ini dibuktikan dengan tingginya angka penderita kanker di sekitar pabrik PG&E, di wilayah sekitar 3km. Kisah ini diangkat ke dalam film dengan judul yang sama, diperankan oleh Julia Roberts dan berhasil memenangkan Oscar untuk kategori pemeran wanita utama terbaik.

Tentu saja Rancaekek bukan Hinkley California, tetapi bukan tidak mungkin akan muncul bencana kesehatan yang mengerikan di daerah tersebut atau wilayah lain di Citarum. Dalam penelitian Balai Penelitian Tanah (2002) di sekitar wilayah Majalaya, Rancaekek dan sekitarnya pada sampel jerami dan beras ditemukan kandungan logam berat Cr (Kromium) jauh di atas ambang kritis dan berbahaya (>5ppm). Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Dr. Sunardi saat saya temui di laboratorium air Unpad, Sekeloa. Logam berat yang karsinogenik tidak kasat mata dan bersifat akumulatif sangat berbahaya. Orang yang mengkonsumsi tidak akan menyadari dalam kurun waktu tertentu, dan ketika jumlahnya semakin tinggi dalam tubuh bencana akan terjadi secara mendadak.

Dr. Sunardi

Dr. Sunardi

Masih menurut Dr. Sunardi, Citarum sudah mengalami pencemaran yang sangat serius terutama dari sisi pencemaran senyawa-senyawa polutan yang beracun, diantaranya logam berat. Kita tahu bersama, bahwa hampir tidak mungkin pencemaran limbah seperti ini bersumber dari limbah domestik, sehingga yang perlu mendapat perhatian utama adalah industri ‘nakal’ di wilayah Citarum. Penegakan hukum ini adalah domain utama pemerintah, semua aturan yang ada harus ditegakkan, dipatuhi dan tanpa pandang bulu.

Selain penegakan hukum, Dr. Sunardi menambahkan, pengawasan perlu diperkuat dengan payung hukum untuk unsur-unsur lain yang berada di luar  baku mutu (belum diatur), seperti Na+ yang pada kasus pertanian sering menyebabkan gagal panen. Masih banyak bahan berbahaya yang belum diatur pengunaannya. Pemakaian senyawa organik berbahaya lain seperti NPE, PFC, NP dll juga harus mendapat perhatian khusus.

Zat-zat berbahaya telah menumpuk sekian lama di Citarum, dan mengutip Dr. Sunardi,   “Akan terjadi bencana-bencana yang terjadi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya”. Saya sangat paham kenapa Dr. Sunardi berkata demikian, belum lama ini dia melakukan penelitian di wilayah Majalaya dan menemukan kandungan Merkuri (Hg) dan Cadmium (Cd) di badan air dan sumur warga jauh di atas baku mutu. Sumur warga? merkuri? cadmium? Sudah berapa lama? itulah yang paling kita takutkan. Bukan cuma tragedi Hinkley, tragedi Minamata bisa saja terulang di sini.

Jika keadaan ini tidak berubah (saya setuju dengan apa yang di katakan Dr. Sunardi) akan terjadi bencana tak terduga yang tak diharapkan oleh siapa pun. Termasuk manusia bebal yang masih terus saja membuang limbah berbahaya ke tempat minum warga.

Kenapa "NOL Pembuangan" menjadi penting

Masalah Citarum ini sangat kompleks, di satu sisi ada pabrik yang menopang ekonomi sementara di sisi lain praktek mereka yang tidak bertanggung jawab telah turut merugikan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Dan rakyat, si kecil yang baik hati, selalu jadi korbannya.

Penegakan hukum menjadi sangat krusial di sini. Saya dengar baru-baru ini telah dibentuk Satuan Tugas Khusus untuk masalah ini yang di resmikan pelantikannya oleh Gubernur, langkah yang bagus dan layak diapresiasi, jika terbukti efektif bekerja.

Kita harus berfikir out of the box, kita tidak seharusnya berfokus hanya pada baku mutu sebuah zat yang dianggap berbahaya sebagai patokan dan bertumpu pada kerja IPAL (yang seringnya jadi asesoris belaka) untuk menjaga lingkungan tetap terjaga. Tentu saja hal ini penting, tetapi ada hal yang lebih penting seperti mencari substitusi. Logika sederhananya begini, bila setiap makan sambal bisa membuat kamu diare, bikin kotor dan bau, tetapi kamu tidak bisa makan tanpa sambal, maka yang biasanya kita lakukan adalah membuat beragam cara/aturan untuk mengatur takaran sambal. Nah, bagaimana kalau jika kita balik cara berfikirnya, bila setiap makan sambal saya pasti diare namun saya tidak bisa makan tanpa sambal, yang harusnya kita lakukan adalah mencari sambal yang bukan sambal biasa. Kita mencari bahan penganti, yang lebih ramah tidak bikin diare.

Kecanduan kita pada penggunaan bahan kimia berbahaya sudah waktunya dihentikan, dan fokus untuk mencari pengganti zat-zat berbahaya itu. Jika sedari awal kita tidak mengunakan zat berbahaya, tentu kita tidak repot memikirkan buangannya, bukan?. Tentu, disaat bersamaan aturan yang sudah ada ditegakkan, jika belum ada bahan pengganti maka harus patuh pada baku mutu dan bersifat transparan kepada publik (Lihat Kampanye Detox untuk mendorong komitmen Industri pakaian).

Tentu saja hal ini tidak mudah, tapi kita tidak boleh menyerah, seburuk apapun keadaan. Belajarlah dari Abah, harapan itu diciptakan bukan diimpikan.