Tidak berselang lama sejak tim Mata Harimau mengungkapkan temuan-temuan terbaru tentang bagaimana APP terus membabat hutan Indonesia. Sebuah laporan terbaru kembali mengungkap lagi bagaimana Asia Pulp and Paper - perusahaan penghancur hutan Indonesia- masih melanjutkan operasi tidak bertanggung jawabnya menghancurkan hutan alam dan lahan gambut untuk membuat produk kertas murah sekali pakai. Kali ini laporannya bukan milik Greenpeace, tapi dari koalisi NGO Indonesia bernama Eyes of The Forest (WWF Indonesia, Jikalahari, dan Walhi Riau).

Laporan yang berjudul "Kebenaran dibalik praktik Greenwash APP" ini mengungkap bukti bukti detail keagresifan APP langsung ke pusatnya, menguak praktik Greenwash mereka yang bernilai jutaan dollar untuk menyembunyikan perilaku mereka merusak hutan alam yang menjadi habitat harimau, gajah, dan orangutan. Bahkan laporan ini juga mengungkap praktik pembukaan hutan didalam kawasan Konservasi Biosfer yang telah diakui oleh UNESCO

APP, bagian dari Sinar Mas Grup, diperkirakan telah menghancurkan lebih dari dua juta hektar hutan Indonesia untuk dijadikan bahan baku bubur kertas sejak pertama kali mereka beroperasi pada tahun 1984. Kehancuran hutan yang disebabkan oleh APP ini telah memicu kritik global, dan banyak  merek besar seperti Lego, Mattel, Hasbro, kini telah berhenti menggunakan produk kertas dari APP yang terkait dengan deforestasi.

Alih alih menunjukkan perhatian pada masalah yang sebenarnya, APP malah menghabiskan uang jutaan dollar hasil dari deforestasi hutan Indonesia untuk mendanai praktik pencitraan global yang ofensif. Mereka lebih suka memoles pesan " APP Cares" (APP Peduli) agar terlihat lebih cantik, dengan membayar kampanye iklan yang sangat mahal, bekerja sama dengan banyak pelobi industri untuk menutupi praktek deforestasi mereka yang terjadi di lapangan. Tapi untunglah Komite Etik Periklanan Belanda menyadari hal ini dan melarang iklan APP ditayangkan di seluruh media massa di Belanda karena terbukti pesan yang disampaikan membohongi masyarakat.

Beberapa waktu yang lalu, Greenpeace bersama WARSI, WBH dan WALHI melakukan perjalanan Mata Harimau menggunakan motor melintasi hutan alam Sumatera. Dalam perjalanan melintasi Provinsi Riau, Jambi, dan Palembang, serta memakan waktu hampir satu bulan tersebut, Tim Mata Harimau menemukan berbagai bukti penghancuran hutan yang masih terus dilakukan oleh berbagai anak perusahaan dan penyuplai APP. Bahkan pihak sekuriti Sinar Mas melakukan insiden pencegatan secara kasar dan melarang Tim Mata Harimau melewati jalan koridor di Taman Nasional Bukit Tigapuluh dalam perjalanan menemui Kelompok Orang Rimba, masyarakat adat Jambi yang hidup dan bergantung kepada hutan yang semakin terancam karena hutan mereka terus dihancurkan.

Lihat peta perjalanan Mata Harimau dan peta deforestasi Indonesia

Tidak hanya melalui darat, pemantauan dari udara yang Greenpeace lakukan atas kawasan hutan di sepanjang Riau dan Jambi juga menemukan bukti baru praktik pembakaran hutan untuk pembukaan lahan yang terjadi di areal konsesi milik APP dan menambah daftar panjang bukti perilaku jahat APP yang terus menghancurkan hutan alam yang berharga, rumah bagi spesies langka seperti harimau, gajah dan orangutan hanya untuk dijadikan produk kertas toilet dan kertas pembungkus murah sekali pakai buang.

Praktik jahat yang APP lakukan telah mencederai komitmen dan kepemimpinan Presiden SBY dalam mengurangi emisi Indonesia dari sektor kehutanan dan telah merusak citra Indonesia di mata dunia. Karena itulah, Greenpeace mendesak agar Inpres Moratorium yang telah dikeluarkan oleh Presiden SBY harus diperkuat, dengan cara melakukan pengkajian ulang izin-izin konsesi yang telah diberikan, termasuk konsesi di di lahan gambut, dan lahan konsesi yang berkonflik dengan masyarakat adat. Greenpeace juga akan terus berkampanye secara global mendesak industri agar berhenti berbisnis dengan APP sampai APP berkomitmen untuk tidak membuka hutan alam Indonesia dan berhenti menghancurkan hutan habitat harimau, gajah , dan orangutan yang semakin terancam keberadaannya.

Greenwash adalah praktik yang dilakukan oleh industri untuk menunjukkan kepada publik seolah olah mereka peduli terhadap lingkungan, namun pada kenyataannya tidak sama sekali.

Baca laporan lengkap Eyes of The Forest "Kebenaran dibalik praktik Greenwash APP"

-- Zulfahmi, Jurukampanye Hutan, Greenpeace