Konferensi Internasional Untuk Perubahan Iklim adalah sebuah kesepakatan internasional yang bertujuan untuk menstabilisasi konsentrasi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global. Konferensi tersebut dibentuk pertama kali pada saat Earth Summit di Rio de Janeiro pada  tahun 1992.  Setiap tahunnya, pihak-pihak yang terlibat dalam konvensi tersebut (negara-negara di dunia) bertemu untuk meninjau ulang perkembangannya, mengadaptasi pemecahan masalah, dan sebagainya, dan juga menegosiasi  perkembangan terbaru untuk dimasukkan ke dalam kesepakatan, seperti Protokol Kyoto, ketentuan legal yang mengikat terhadap perjanjian, dibuat pada tahun 1997 yang kemudian disahkan pada tahun 2005, yang pada akhirnya mengharuskan negara-negara industri untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Kemudian di tahun 1997 terbentuklah konferensi negara-negara (Conference of Parties) yang  kemudian menghasilkan beberapa inisiasi yang cukup dramatis saat COP 15 diselenggarakan di Copenhagen dua tahun yang lalu. COP 15 dinilai gagal dan sering disebut sebagai  “Flopenhagen” , karena para pemimpin dunia gagal dalam merumuskan kesepakatan baru dalam menangani perubahan iklim. Banyak memang yang putus asa, tetapi lebih banyak lagi yang tetap berjuang, termasuk kami, Greenpeace.

Minggu lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk menghadiri diskusi perubahan iklim berskala internasional ini di Panama. Diskusi di Panama ini merupakan pertemuan terakhir sebelum COP 17 yang akan diselenggarakan di Afrika Selatan akhir tahun ini.

Di Panama, saya tidak sendiri, saya bersama penasihat kebijakan Greenpeace, Zelda Soriano, yang merupakan bagian dari tim Greenpeace yang memantau UNFCCC dalam melakukan usaha global untuk mempengaruhi posisi berbagai negara agar mengusung FAB – Fair, Ambitious and Binding – (Adil, Berambisi, dan Mengikat)—permasalahan iklim global sudah sepantasnya begitu, demi mereka yang menderita akibat terjadinya perubahan iklim serta demi generasi mendatang.

Saya berbincang dengan Zelda untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang UNFCCC ini (atau biasa disebut badan dunia negosiasi iklim).  Berikut penuturannya:

Kenapa negosiasi iklim tingkat dunia ini begitu penting?

UNFCCC sangatlah penting.  Saat ini, hanya UNFCCC lah yang mengakomodir seluruh negara di dunia untuk berbincang kesepakatan dan bekerjasama dalam menemukan solusi terhadap permasalahan perubahan iklim.

Tanpa diskusi internasional ini tidak akan mungkin  ada mekanisme yang mengajak semua negara untuk bekerjasama dalam mencapai satu tujuan bersama. Perubahan iklim merupakan tantangan terbesar manusia; tanpa batas dan berdampak pada siapapun, kaya atau miskin, orang kota, yang tinggal di pesisir maupun pegunungan- apa yang terjadi pada suatu negara, akan memiliki konsekuensi global terhadap negara-negara yang lain. Jadi, tantangan ini benar-benar membutuhkan pendekatan secara global dan terpadu, dan UNFCCC adalah cara untuk mewujudkan hal ini.

Sepertinya pernyataan diatas terdengar terlalu berterus terang.

Ya memang begitu adanya, bahkan kenyataan di lapangan malah lebih rumit. Pertama, kami membutuhkan perkembangan terkini tentang negosiasi iklim tersebut, dan itu yang Greenpeace lakukan bersama kelompok sosial lainnya. Kami ingin memastikan bahwa kami mencapai kesepakatan, solusi yang baik bagi seluruh pihak. Kami percaya bahwa solusi efektif tersebut harus berlandaskan  Fair, Ambitious and Binding – kesepakatan FAB (Adil, Berambisi, dan Mengikat).

Nyatanya, ada beberapa negara yang menghambat FAB itu terwujud—sangat disayangkan karena harus mengorbankan kesejahteraan negara lain.

Mengapa ada negara-negara yang berniat menghambat kebaikan terwujud bagi semua pihak?

Ya, yang pasti untuk melindungi kepentingan mereka. Banyak sekali negara maju yang mencetak sejarah jadi negara pembuang gas terbesar, adalah mereka yang seharusnya bertanggung jawab lebih terhadap emisi karbon yang menyebabkan terjadinya krisis iklim dan berdampak bagi seluruh dunia, karena mereka telah menggunakan batubara dan minyak sebagai bahan bakar selama puluhan tahun, jauh sebelum negara berkembang memakainya.

Singkat kata, konsumsi massif mereka terhadap bahan bakar fosil puluhan tahun yang lalu telah membawa mereka ke keadaan dimana mereka berdiri sekarang, dan celakanya hal tersebut memicu permasalahan global- perubahan iklim- itulah yang menyebabkan seluruh dunia khususnya negara-negara miskin, yang harusnya memiliki tanggung jawab hanya sedikit, menjadi ikut-ikutan pusing menerima akibatnya contohnya cuaca yang ekstrem.

Contohnya Amerika, mereka tidak ingin terikat secara legal untuk mengurangi emisi- meskipun sebenarnya mereka harus bertanggung jawab lebih akan timbulnya masalah ini- karena (ambil contoh sederhana) mereka tidak ingin kehilangan mata pisau mereka terhadap negara-negara lain.

Sementara, ada juga beberapa negara berkembang, apakah itu negara emitter terbesar seperti China dan India, atau negara kecil yang baru saja berkembang, yang tidak ingin mengurangi emisinya karena alasan tertentu. Pertama, karena mereka menyatakan bahwa bukanlah negara mereka yang harus bertanggung jawab atas permasalahan global ini; kedua, hal tersebut akan menghambat pertumbuhan ekonomi mereka; dan yang ketiga jika Amerika, yang notabene sebagai emitter nomor satu di dunia, belum melakukannya kenapa mereka harus?

Jadi, ini jalan buntu? Atau ada solusi lain?

Inilah alasan mengapa UNFCCC disebut sebagai negosiasi iklim, negara-negara di dunia bernegosiasi akan posisi-posisi mereka terhadap kesepakatan yang akan dibuat.

Saat ini, UNFCCC sedang masuk ke dalam pembicaraan negara-negara berkembang mana saja yang tidak termasuk pencetak sejarah emisi gas buang. Sejauh ini, negara-negara seperti  India, China, Indonesia, dan Singapura, sudah memberikan komitmennya untuk menurunkan emisi mereka meskipun bukan merupakan sebuah kewajiban. Yang menjadi perhatian dunia saat ini, akankah kemudian negara-negara maju akan mengikuti jejak negara-negara tadi.

Beberapa isu lainnya adalah, negara berkembang merumuskan pendanaan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk membantu negara maju, karena sekali lagi; merekalah yang harus memikul tanggung jawab lebih untuk masalah ini sehingga setiap orang merasakannya, dan membuat negara miskin menderita.

Seperti apa diskusi yang sedang berlangsung sekarang? Apa yang dapat kita harapkan dari pertemuan COP di Durban nanti?

Dibandingkan pertemuan sebelumnya, negosiasi di Panama berhasil menyimpulkan beberapa hal. Pendanaan untuk iklim harus menjadi agenda politik para perdana menteri dan pemimpin negara saat menghadiri COP Durban nanti.

Ada sedikit kejutan juga bahwa pertemuan tersebut bukannya membahas negosiasi perjanjian legal yang mengikat untuk negara-negara yang tidak meratifikasi Protokol Kyoto (seperti Amerika, China, India), tetapi justru membahas beberapa pilihan yang harus diambil oleh para pemimpin negara saat di Durban nanti.  Tentunya, masalah perjanjian legal yang mengikat masih masuk dalam daftar pilihan tersebut, namun tetap saja, kita belum mencapai target yang diinginkan.

Dan juga, para negosiator berupaya untuk menyelesaikan bagian yang substansial  tentang teknis kerja untuk menjalankan Dana Iklim Hijau (Green Climate Fund), mekanisme teknologi, komite adaptasi dan lain-lain. Jadi sekarang, setidaknya tidak ada alasan teknis-hanya politik- untuk tidak melakukan hal tersebut.

Berarti pekerjaan masih berlanjut…

Ya. Kami akan masih terus memantau diskusinya dan mengawasi negara-negara yang seharusnya bertanggung jawab. Di saat yang sama, contohnya negara-negara ASEAN, terus aktif berperan dan berkontribusi dalam negosiasi iklim tingkat global ini. Kesepuluh negara yang tergabung didalam ASEAN ini, berada dalam posisi yang sejajar untuk mewujudkan kesepakatan FAB, dan tentu saja ini merupakan kontribusi yang besar dalam proses negosiasi.