Sejak pertengahan tahun 2010 mata dunia telah mengamati bagaimana sepak terjang perusahaan Pulp dan Kertas Asia Pulp and Paper dalam berusaha menutupi praktik-praktik penghancuran hutannya yang sangat nyata dan cepat. Karut marut wajah APP tidak berhasil ditutupi dengan upaya “bersolek” yang selama ini mereka lakukan.


Bukti Nyata APP Menghancurkan hutan Sumatra untuk perkebunan
© Jeremy Sutton-Hibbert/Greenpeace

Sebuah artikel di The Ecologist yang ditulis Aida Greenbury, Direktur Keberlanjutan dan Pelibatan Stakeholders dari APP dengan bersemangat bercerita tentang kesalahan LSM lingkungan yang menilai perusahaan mereka, dan mengatakan bahwa APP telah menerapkan praktik-praktik terbaik kehutanan secara bertanggung jawab di Indonesia. Artikel ini sangat memuakkan di beberapa bagiannya. Arahan penulisan yang dilakukan oleh Humas APP, Cohn dan Wolfe sedemikian rupa memutar balikkan fakta dan mengalihkan perhatian dari kenyataan praktik-praktik yang sebenarnya mereka lakukan di hutan Indonesia dan mengangkat beberapa proyek kecil yang mereka lakukan sebagai upaya pencitraan  semata.

Artikel yang cukup panjang ini banyak memaparkan klaim-klaim yang berbeda dari kenyataan yang sebenarnya, misalnya:

“….sekitar 85 persen daribahan baku APP berasal dari perkebunan yang lestari yang kami miliki (yang ditanam kembali  setiap  enam  atau  tujuh tahun), dan sisanya secara legal berasal dari campuran sisa kayu- Dalam lima tahun, kami menargetkan sumber bahan baku tersebut 100 persen akan berasal  perkebunan kami sendiri.”

Angka-angka ini telah menimbulkan pertanyaan besar, termasuk dari sisi legalitasnya –misalnya, bisakah APP menjelaskan siapa yang memverifikasi kayu hasil konversi hutan sebagai “sumber legal’? Juga, menjadi hal yang sangat menarik untuk menilik lebih jauh rencana mereka yang hanya akan menerima bahan baku dari perkebunan.

Bagi yang belum tahu, yang mereka maksud dengan sisa campuran kayu  adalah  hasil dari “kehancuran hutan hujan” di Sumatera, di area yang dipetakan mencakup lahan gambut dan di dalam habitat seperti harimau Sumatera.  Klaim-klaim mereka ini  sangat meyakinkan masyarakat dan konsumen bahwa seolah-olah mereka tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi lihatlah hasil pembukaan hutan yang mereka lakukan untuk memenuhi bahan baku perusahaan mereka

Jadi kalimat-kalimat cantik yang mereka tuliskan sebenarnya adalah kesiapan mereka untuk terus merusak hutan Indonesia setidaknya lima tahun kedepan.  Saya menggunakan kata “setidaknya” karena sebelumnya pada tahun 2004, APP juga mengklaim hanya akan bergantung pada kayu perkebunan di 2007 dan ternyata hal ini tidak pernah terjadi. Lalu di tahun 2007 mereka kembali mengatakan bahwa pada tahun 2009 mereka akan berhenti menghancurkan hutan (baca lebih lengkapnya di “bagaimana sinar mas meluluhkan bumi”)

Mungkinkan mereka akan mengulangi klaim ini untuk ketiga kalinya tanpa ketahuan? Yah, jika itu keuntungan mereka. Tetapi pertanyaanya adalah apakah di lima tahun kedepan ada perusahaan bertanggung jawab yang mau membeli produk kertas dan menerima bahwa tidak menjadi masalah untuk tetap menerima hasil dari penghancuran hutan dan keanekaragaman hayati di kawasan hutan  gambut Indonesia hanya untuk menghasilkan kertas dan hanya untuk di buang?

Ibu Aida, anda secara tidak sengaja telah membuka kedok Anda sendiri!

 

-- Zulfahmi, Juru Kampanye Hutan, Greenpeace Asia Tenggara