Menyangkut soal kerusakan hutan, Indonesia pernah memegang rekor dunia yang tercatat dalam Guiness Book of World Record sebagai negara dengan angka laju deforestasi tertinggi di dunia. Artinya tutupan hutan yang telah hilang semakin lama semakin luas meskipun secara rata-rata dari tahun per tahun menurun, seperti yang diklaim oleh Pemerintah Indonesia saat ini laju deforestasi Indonesia adalah 450.000 Ha/tahun. Sayangnya klaim seperti ini tidak didukung data yang bisa diakses oleh publik, sehingga angka klaim penurunan laju deforestasi tersebut masih diragukan.      

Menurut data yang bersumber dari pemerintah Indonesia, saat ini hutan hujan tropis primer di Indonesia tersisa kurang dari 50% dari total 130 juta hektar yang di klaim sebagai kawasan hutan. Sedangkan konsentrasi hutan hujan tropis primer tersisa sebagian besar berada di Papua. Bisa dibayangkan betapa sedikitnya hutan hujan tropis primer tersisa di pulau-pulau besar di Indonesia. Masalah kehutanan kembali menguat dalam isu perubahan iklim karena kontribusi signifikan dari  deforestasi dan alih fungsi hutan yang mencapai hingga 60%-70% dari total emisi Indonesia.

"Keep the trees up than chopped them down and increasing carbon sink. This is the time for solution and consensus, the only dogma is human survival. So let's seal the deal here!”  Demikian disampaikan Presiden SBY sebagai penutup pidatonya di Pertemuan Tingkat Tinggi untuk Perubahan Iklim di Copenhagen tahun 2009.

Sebelum itu, di Pittsburgh, Amerika Serikat pada tahun yang sama, Presiden SBY mengumumkan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26%-41%.  Setelah itu pemerintah Indonesia dan Norway menyepakati kerjasama bernilai 1 miliar dollar Amerika, yang bertujuan untuk membantu Indonesia mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Komitmen Indonesia yang disampaikan Presdien SBY tersebut ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya INPRES No.10/2011 mengenai “Penundaan Pemberian Ijin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Primer dan Lahan Gambut.” Secara politis, kebijakan tersebut adalah merupakan langkah maju terlepas bahwa isi INPRES tersebut masih perlu ditingkatkan.

Penghujung Bulan Mei adalah batas waktu berakhirnya masa Moratorium tersebut. Tak ada lagi waktu yang lebih baik untuk mengingatkan Sang Presiden pada komitmennya untuk melindungi hutan Indonesia.  Desakan agar Moratorium diperpanjang ditegaskan Greenpeace bersama para pendukung kami melalui berbagai aksi, termasuk diantaranya adalah aksi jalan mundur yang dilakukan 50 aktivis pada hari Kamis 18 April 2012. Aksi ini menyampaikan pesan pada Presiden SBY untuk tidak mundur dari komitmennya dan tetap memperpanjang Moratorium yang berbasis pencapaian.

Perpanjangan dan penguatan moratorium hutan menjadi sangat penting bagi terwujudnya penyelamatan hutan dan pengurangan emisi seperti yang menjadi komitmen pemerintahan SBY. Inilah yang menjadi keyakinan kami. 

Bantu kami mengingatkan Presiden SBY dengan mengirimkan pesan singkat untuk memperpanjang Moratarium melalui twitter : @SBYudhoyono dan kicaukan keprihatinan serta harapan Anda akan hutan lestari bagi Indonesia dengan menggunakan hashtag #forest4ever

Inilah waktunya mengingatkan Sang Presiden.