“Citarum panca warna, seperti es campur. Mungkin karena daerahnya daerah pelangi, makanya airnya juga warna-warni seperti pelangi.” demikian penuturan seorang warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Citarum yang direkam dalam sebuah film dokumenter berjudul ‘Pelangi di Citarum’ produksi Greenpeace Indonesia bersama sutradara Yuslam Fikri Anshari. Peluncuran perdana film ini diadakan pada  hari Selasa, 4 Desember 2012 di Blitz Megaplex Paris Van Java, Bandung Jawa Barat dan dihadiri sekitar 260 tamu undangan yang terdiri dari publik, pendukung Greenpeace, dan tim sukses Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat.


Peluncuran Film ‘Pelangi di Citarum’ Greenpeace Indonesia

Film berdurasi satu jam ini menampilkan sebuah realita.  Realita kehidupan warga masyarakat yang tinggal di sekitar Citarum. Realita yang mengusik siapapun yang menyaksikannya.

Bagi warga yang tinggal di sekitarnya, Sungai Citarum adalah bagian dari kehidupan yang sangat dekat dengan mereka. “Waktu saya kecil, Citarum adalah tempat berenang dan wudhu”, kesaksian Tisna Sanjaya, seorang seniman dan budayawan yang mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan Citarum. “Dulu masih ada ikan asli Citarum seperti ikan berod, ikan betrik, dan ikan beureum mata. Sekarang sudah jarang, hampir tidak ada. 75% ikan hampir musnah di Citarum”, seorang Bapak yang bekerja sebagai nelayan bertutur sambil tetap sibuk  menyiapkan perangkat memancing.  “Dulu masih bisa buat kokombongan, sumur yang langsung digali dan airnya dipakai untuk mandi dan mencuci.”

Sekarang semuanya sudah berubah. Sungai Citarum bukan lagi seperti yang mereka kenal. “Air limbah mulai dialirkan dari maghrib sampai jam 3 subuh.” seorang Ibu menyampaikan sambil menunjuk ke arah sungai. “Kalau pagi tercium bau yang membuat sesak nafas.” lanjutnya. Tak hanya membawa dampak bagi kesehatan, bahkan saat ini Sungai Citarum sudah tak lagi menjanjikan bagi mereka yang dulunya menggantungkan kehidupan darinya. “Ikan-ikan di sini, boro-boro untuk dijual, untuk dimakan sendiri saja sudah sulit.”

Pencemaran mulai mencapai titik terburuk di tahun 2002. Sebagian besar industri tekstil mengalirkan limbahnya langsung ke Sungai Citarum. Hal inilah yang membuat Greenpeace mulai menyoroti pencemaran limbah industri dan melakukan riset bersama komunitas di sekitar Sungai Citarum sejak tahun 2011.

“Banyak pipa-pipa siluman muncul di persawahan dan lahan kosong yang mengalirkan limbah ke Sungai Citarum.” ujar Hilda Meutia dari Greenpeace.  “Tidak bisa hanya mengandalkan IPAL. Zat kimia persisten tidak bisa hilang dan akan terakumulasi di alam dan dalam ikan-ikan yang kita makan, materi itu akan terus terbawa. Solusinya adalah sejak awal produksi bahan-bahan ini tidak digunakan. Jika di awal tidak ada maka di akhir juga tidak akan ada.” Hilda menjelaskan.

Yang lebih mengejutkan adalah hasil dari penelitian sampel air yang diambil Greenpeace, ditemukannya unsur logam berat dalam konsentrasi yang tinggi. “Prinsip unsur logam ketika dibuang ke lingkungan, tidak bisa didegradasi dan  akan terakumulasi dalam organisme di rantai makanan, yang jika dikonsumsi oleh manusia  dalam jangka waktu lama akan sangat berbahaya dan memiliki dampak kronis dapat merusak saraf dan menimbulkan kematian.” hal ini disampaikan oleh peneliti dari Universitas Pajajaran dan Universitas Indonesia yang bekerja sama dengan Greenpeace Indonesia.

Dalam kampanye air bebas racun, Greenpeace mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menoleh dan mencermati realita yang terjadi di Sungai Citarum.  “Kita tidak boleh mengabaikan sebuah sumber air yang penting seperti Citarum. Hal ini akan menyebabkan bahaya dalam jangka panjang jika tidak diambil komitmen dari sekarang.” ujar Ahmad Ashov Birry, Juru Kampanye Air Bersih Greenpeace di awal peluncuran Film ‘Pelangi di Citarum’.

Harapan Greenpeace film ini dapat menjadi inspirasi bagi kawan-kawan yang bekerja untuk mengatasi krisis yang saat ini tengah terjadi di Sungai Citarum. Seperti harapan serta impian seniman dan budayawan Tisna Sanjaya yang melakukan ritual di tepi Sungai Citarum kemudian diabadikan dalam film. “Saya punya imajinasi suatu saat sungai ini akan bersih lagi.”

Ini bukan impian dan harapan Tisna seorang diri saja. Fakta-fakta yang sudah dimunculkan dalam film ini harusnya mengusik seluruh lapisan masyarakat termasuk pihak penguasa dan pengusaha. Seperti yang dituturkan Ashov, “Faktor pentingnya saat ini adalah kepemimpinan di Jawa Barat yang bertanggung jawab dan mau berkomitmen mewujudkan Citarum bersih.”

Fakta, harapan dan impian sudah disingkapkan melalui film ‘Pelangi di Citarum’. Tentunya film yang mengusik siapapun yang menontonnya bisa menjadi awal penggerak kita semua untuk ikut menoleh, mencermati dan ikut bergerak dalam upaya mewujudkan Citarum bersih.

Mari terus dengungkan realita Sungai Citarum, mari bicara Citarum. Kunjungi website : www.greenpeace.or.id/pelangicitarum untuk ambil bagian dalam petisi untuk mendesak calon – calon pemimpin Jawa Barat agar berani mengambil langkah dan komitmen mewujudkan Citarum bersih bebas bahan kimia berbahaya. Sebarkan realita ini dan undang Greenpeace datang ke sekolah, kampus, komunitas Anda untuk bersama menyaksikan film ‘Pelangi di Citarum’.

Tisna Sanjaya berani bermimpi “Kalau kita bersama-sama kekeuh bersuara, sungai ini pasti bersih lagi.” . Bagaimana dengan kita?