Hampir sepanjang tahun lalu tim kami melakukan investigasi dan mendokumentasikan operasi kotor perusakan lingkungan dan hutan Indonesia yang masih tersisa. Investigasi ini mengungkapkan kisah tentang sebuah perusahaan besar, dengan perilaku tidak bertanggung jawab dan melanggar hukum serta berhubungan langsung dengan hilangnya satwa yang terancam punah seperti harimau Sumatera.

Tapi kita semua adalah pelaku dalam kisah ini. Karena perusahaan ini menghasilkan produk – minyak sawit – yang berasal dari perusakan hutan – yang langsung dilemparkan ke pasar global dan berakhir di rumah kita masing-masing.

Merek-merek produk keperluan rumah tangga dengan kebutuhan minyak kelapa sawit yang berasal dari Wilmar Internasional, perusahaan penjual minyak sawit berbasis di Singapura, sebut saja seperti pembuat biskuit Oreo,  krim pencukur Gillette dan Clearasil, secara efektif membuat konsumen – saya dan Anda - menjadi kaki tangan perusakan hutan Indonesia.

GPS Tracking

 Kabut asap Riau

Dalam laporan kami License to Kill dijelaskan rincian beberapa kasus pelanggaran hukum dan perilaku yang tidak bertanggung jawab. Tapi dari semua kasus yang didokumentasikan, yang paling menyedihkan saya adalah apa yang terjadi di taman nasional di Sumatera. Satu dekade lalu penelitian ilmiah menemukan bahwa Teso Nillo adalah  lokasi keanekaragaman hayati tumbuhan paling kaya di dunia, Taman Nasional Tesso Nilo  juga merupakan  habitat penting dan utama bagi perlindungan 400 harimau Sumatera yang tersisa. 

Tapi dalam dekade terakhir, penghancuran Teso Nillo secara besar-besaran dan ilegal – sebagian besar untuk minyak sawit – memunculkan keraguan besar akan masa depan harimau yang tersisa di sana. Tesso Nilo Deforestation

palm oil inside Tesso Nilo National Park

Perdagangan Minyak Sawit Kotor di Dunia

Greenpeace juga memiliki bukti perdagangan yang dilakukan Wilmar dengan membeli dari perusahaan-perusahaan yang kegiatan usahanya meliputi pembabatan ilegal melalui pembakaran lahan gambut,  perusakan hutan hujan besar-besaran dan perkebunan sawit ilegal di Taman Nasional Tesso Nilo,  panen yang dilacak menuju ke pabrik Wilmar dan yang menyediakan kebutuhan minyak sawit bagi rantai pasokan di Indonesia, termasuk penghancuran habitat harimau secara ekstensif.

Meskipun Wilmar telah menjalankan high conservation value (HCV) – konservasi hutan dan lahan gambut di area konservasi mereka, area ini memasok kurang dari 4% minyak sawit yang diperdagangkan dan yang diolah, dengan sisanya diproduksi oleh pihak ketiga. Greenpeace melemparkan tantangan pada Wilmar dan perusahaan-perusahaan seperti P&G, Reckitt Benckiser dan Mondelez yang membeli minyak sawit kotor untuk segera membersihkan rantai pasokan mereka dan memutuskan lingkaran perusakan hutan.

Wilmar: menghancurkan atau melindungi?

Wilmar: menghancurkan atau melindungi?

Kami telah membawa pesan langsung ke perkebunan Wilmar di Jambi.

Seperti aksi Arktik 30 aktivitas kami dirancang untuk menyoroti perusakan lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang ceroboh dan sewenang-wenang.

Ini adalah bagian dari tradisi organisasi untuk ‘memberikan kesaksian’ dan menyoroti laju perusakan hutan yang sangat cepat.

Hutan, seperti halnya Arktik, adalah milik kita semua dan menjadi bagian integral dari warisan nasional. Kami percaya tak seorangpun berhak menghancurkan warisan ini dan khususnya tidak untuk kepentingan komersial jangka pendek, sebagai ganti pembangunan berkelanjutan jangka panjang yang menguntungkan seluruh rakyat Indonesia.

Arktik dan hutan Indonesia keduanya sangat penting tidak hanya bagian kawasan Indonesia saja, tapi bagi lingkungan global. Arktik berperan sebagai ‘pendingin’ dunia dan hutan sebagai ‘paru-paru’ dunia.

Kami melakukan pekerjaan ini karena, seperti halnya Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, kami tidak ingin nantinya harus menjelaskan kepada anak cucu kami bawa kami telah gagal mengambil tindakan untuk melindungi hutan dan lautan. Kami tidak ingin mengatakan pada mereka bahwa kami tidak melakukan apa-apa ketika harimau dan orangutan lambat laun punah seperti dinosaurus. Kita tidak harus menghancurkan hutan untuk menanam kelapa sawit dan seperti yang telah kami dokumentasikan disini dan disini solusi-solusi yang lebih baik telah tersedia.

Seperti yang dikatakan presiden dalam pertemuannya bersama Kumi Naido, Direktur Eksekutif Greenpeace Internasional, awal tahun ini:

“(Tolong) bantu mengkritik Indonesia tentang hal-hal yang perlu ditingkatkan negara ini dan beri masukan pada kami bagaimana menjaga lingkungan.”

Greenpeace percaya Wilmar dan merek-merek produk rumah tangga yang membeli minyak sawit kotor harus mengakui konsekuensi dari produksi minyak sawit yang tidak bertanggung jawab. Mereka harus memastikan bahwa pasokan minyak sawitnya memberikan kontribusi nyata dan berguna bagi pembangunan di Indonesia dan tidak malah menghancurkan masa depan rakyat, lingkungan, flora dan fauna serta iklim global yang menjadi kepentingan seluruh manusia.

Klik disini untuk mengetahui bagaimana kami melemparkan tantangan pada Wilmar Internasional untuk memutuskan hubungan dengan perusakan hutan, dan bergabunglah.

Laporan Terkait:

 

Bustar Maitar adalah kepala Kampanye Hutan Indonesia dari kantor Greenpeace Internasional.