Indonesia tidak butuh PLTN

Di tahun 2009 : Setelah kita melakukan tekanan untuk menolak Nuklir di seluruh kawasan Asia Tenggara, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudyono mencabut rencana pembangunan PLTN dan mengatakan akan mengembangkan energi terbarukan sebagai alternatif sebelum memilih nuklir. Di Tahun 2011 setelah bencana nuklir Fukushima, Presiden Kembali menegaskan, Indonesia harus lebih memilih alternatif lain sebagai sumber energi.

Akhir dari Zaman Nuklir

Nastya, berasal dari Belarus berusia tiga tahun saat ia di vonis menderita kanker rahim dan paru. Berdasarkan dari dokter setempat mengatakan naiknya tingkat penderita kanker anak semenjak bencana Chernobyl.

Greenpeace selalu berjuang - dan akan terus berjuang - melawan penggunaan tenaga nuklir karena resiko tinggi yang akan di tanggung lingkungan dan manusia. Ini adalah solusi yang dapat di lakukan untuk dapat menghentikan penambahan pembangkit listrik tenaga Nuklir.

Kita memerlukan sistem energi yang dapat memerangi perubahan iklim, yang berdasarkan pada energi terbarukan  dan efisiensi energi. Energi nuklir  hanya dapat menghasilkan sedikit energi dibanding energi terbarukan dan pembagiannya akan semakin menurun dimasa yang akan datang.

Bertentangan dengan apa yang dikatakan industri nuklir kepada kita, menurut mereka membangun banyak PLTN guna untuk mengurangi emisi rumah kaca dan akan membutuhkan dana triliunan dolar, menciptakan ribuan ton sampah radioaktif dengan level tinggi, berkontribusi pada meluasnya materi senjata nuklir dengan hasil seperti Chernobyl, dengan skala kecelakaan sekali setiap satu decade. Mungkin yang paling signifikan, hal tersebut akan menghabiskan energi yang dibutuhkan untuk solusi perubahan iklim yang bermanfaat.

Zaman nuklir dimulai pada Juli 1945 ketika Amerika serikat menguji coba bom nuklir pertama mereka di dekat, Alamogordo, New Mexico. Beberapa tahun kemudian pada tahun 1953, Presiden Eisenhower meluncurkan Program "atom untuk tujuan damai" ditengah-tengah gelombang optimisme PBB terhadap atom.

Tapi seperti yang kita ketahui tidak ada yang "damai" tentang nuklir. Lebih dari setengah abad setelah pidato Eisenhower planet ini diwarisi limbah nuklir. Warisan ini membuat kita mengenali kebenaran hal tersebut.

Beberapa hal berjalan pelan kearah yang benar. Pada November 2000 dunia mengenal nuklir sebagai kekuatan kotor, berbahaya dan teknologi yang tidak perlu, serta tidak memberikan kredit gas rumah kaca selama perundingan tentang perubahan iklim di Den hauque.

Kekuatan nuklir mendapatkan pukulan ketika konferensi pembangunan berkelanjutan PBB menolak memberi label teknologi berkelanjutan  pada April 2001.

Resiko teknologi nuklir adalah nyata, inheren dan tidak bertahan lama!!!

Keselamatan :

Pada dasarnya tidak ada reaktor nuklir yang benar-benar aman. Semua reaktor operasional memiliki kelemahan pada keamanan dasar yang tidak dapat dihilangkan begitu saja dengan meningkatkan tingkat keamanan. Sisa bahan bakar radioaktif tinggi memerlukan pendinginan yang terus menerus. Apabila ini gagal maka akan terjadi bencana pelepasan radiasi. Reaktor juga sangat rentan akan tindakan sabotase, termasuk serangan teroris.

Limbah:

Pada saat penambangan, uranium telah menghasilkan limbah nuklir dalam skala yang luar biasa.  Tidak ada cara penyimpanan limbah nuklir yang aman dan bebas risiko. Tidak ada satupun negara di dunia yang mempunyai solusi limbah radioaktif tingkat tinggi yang radiasinya bertahan hingga ratusan ribu tahun. Saat ini cara yang dilakukan adalah menyimpan limbah tersebut di   di atas permukaan tanah di tempat penyimpanan kering di lokasi asalnya, namun opsi inipun menyimpan banyak ancaman dan tantangan besar.

Kepemilikan senjata nuklir oleh Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Inggris dan Cina mendorong perbayakan  teknologi dan bahan nuklir. Setiap negara yang memiliki kemampuan tenaga nuklir memiliki cara untuk memperoleh bahan nuklir yang dapat digunakan dalam senjata nuklir. Hal ini berarti bahwa dari  44 negara yang memiliki tenaga nuklir  dapat menjadi 44 negara yang memiliki  senjata nuklir. Banyak negara dengan program tenaga nuklir komersil yang aktif, memulai riset mereka dengan dua tujuan - pembangkitan listrik serta membuka peluang bagi pengembangan senjata nuklir. Program nuklir yang berlandaskan pemprosesan ulang plutonium dari sisa bahan bakar telah meningkatkan risiko perbanyakan  secara signifikan karena  lebih banyak plutonium berarti lebih banyak limbah nuklir yang akanmenjadi materi  tersedia untuk pembuatan bom nuklir.

Titik-titik kematian

Click di sini untuk menemukan senjata pemusnah masal dunia tanpa harus meninggalkan meja anda!

klik di sini untuk melihat peta 'Titik-titik Kematian' di beberapa negara yang memiliki senjata nuklir dan penyimpan an bahan nuklir.

Kategori