Keselamatan

Halaman - 29 Juli, 2008
Ketika warga dunia mulai menyadari bahwa pemanasan global merupakan ancaman nyata dan membutuhkan tindakan cepat, industri nuklir yang terus meredup sepanjang beberapa dasawarsa, mengambil kesempatan dengan mempromosikan tenaga nuklir sebagai jawaban terhadap krisis energi.

Kapal Greenpeace Arctic Sunrise membelakangi PLTN Takahama, Jepang.

 

Pemerintah beberapa negara di dunia seperti menderita amnesia dan ikut aktif dalam promosi tersebut. Pada kenyataannya, tenaga nuklir yang ditawarkan saat ini  tidak berbeda dengan tenaga nuklir di abad ke-20 - pada dasarnya tenaga nuklir jelas sangat berbahaya. Dari waktu ke waktu pihak industri selalu  menunjukkan tenaga nuklir dan keselamatan bukanlah dua hal yang berjalan berdampingan.

Reaktor yang aman adalah dongeng. Kecelakaan dapat terjadi di reaktor apapun, menyebabkan terjadinya pelepasan radiasi yang mematikan dalam jumlah besar ke lingkungan sekitarnya. Bahkan pada keadaan normal, operasional reaktor secara terus menerus membuang material radioaktif ke udara dan air. Melakukan kebohongan adalah adalah yang mereka lakukan saat mempromosikan pengembangan bom nuklir dan proyek pembangkit listrik tenaga nuklir pasca perang dunia II. Hingga saat ini mereka terus melakukannya.

Berikut adalah sebagian contoh kejadian di industri nuklir yang bisa memberikan gambaran bahwa dunia tak akan bisa lari dari kecelakaan nuklir;

  • Jepang, sebagai salah satu operator tenaga nuklir terbesar, mengalami kecelakaan nuklir terburuk pada tahun 1999 di PLTN di Tokai-mura, ketika dua orang pekerjanya terkena radiasi dengan dosis yang mematikan. Satu tahun kemudian baru terungkap bahwa data keselamatan utama dan hasil pemeriksaan telah dimanipulasi pada belasan reaktor yang ada untuk menghindari proses reparasi yang mahal dan proses penonaktifan yang memakan waktu lama;
  • Walaupun sudah ada pernyataan bahwa industri nuklir dan pemerintah telah mengadaptasi standar keselamatan yang lebih baik, ledakan uap di reaktor Mihama pada tahun 2004 telah mengakibatkan 5 orang pekerjanya tewas. Pada tahun 2006, pengadilan memutuskan menutup sebuah reaktor nuklir karena tidak akan bisa bertahan menghadapi gempa dengan kekuatan besar -- sebagai catatan, seluruh reaktor di Jepang berlokasi di atas salah satu jalur patahan geologis (geological fault) paling aktif di dunia;
  • Badan Keamanan Nuklir Perancis mengaktifkan pusat tanggap daruratnya pada tahun 2003 sebagai akibat dari lebatnya curah hujan di bagian hilir Sungai Rhone, yang diikuti dengan penutupan darurat dua reaktor (Cruas-3 dan Cruas-4) karena bahaya yang bisa ditimbulkan oleh banjir
  • Pada tahun 2000, petugas pemeriksa dari pemerintah Inggris menyatakan bahwa fasilitas pemrosesan kembali bahan bakar nuklir di Sellafied, Inggris mengalami kegagalan mendasar dalam hal prosedur keamanan -- namun ini baru dilakukan setelah publik mengungkap adanya kecurangan dalam kontrol kualitas dan standar keamanan pada pembangkit tenaga nuklir mereka yang terbaru (Sellafied MOX Plant). Akibatnya, pemerintah Irlandia menantang pemerintah Inggris secara hukum di Pengadilan Internasional PBB di Hamburg mengenai keamanan nuklir di Sellafied.
  • Amerika Serikat yang memiliki armada PLTN terbanyak di dunia berhasil menghindarkan sebuah bencana nuklir di tahun 2002 pada reaktor David-Besse, ketika pihak berwenang menemukan bahwa ada karat yang hampir melubangi alat tekanan yang vital. Hal tersebut dapat menyebabkan seluruh inti reaktor meleleh. Sepuluh tahun silam Greenpeace telah mengajukan keberatan kepada pemerintah AS, memperingatkan adanya bahaya karat pada semua pembangkit listrik tenaga nuklir AS. Peringatan ini tidak digubris. Setelah ditemukannya karat tersebut pada reaktor David-Besse, reaktor tersebut ditutup untuk dua tahunnya (menyebabkan kerugian 600 juta dolar AS), namun tetap diberikan lisensi pengoperasian hingga tahun 2017.

 

Sebagai tambahan atas risiko kecelakaan, pembangkit listrik nuklir sangat rentan terhadap  tindakan sabotase dan serangan teroris. Bahkan Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency - IAEA), yang ikut mempromosikan penggunaan tenaga nuklir, mengakui hal tersebut, terutama pasca serangan 11 September 2001 di New York:

"Sebagian besar PLTN yang  dibangun pada tahun 60-an dan 70-an dan seperti  halnya gedung  World Trade Center,  dirancang untuk  menahan benturan pesawat kecil seperti Cessna. Bayangkan jika sebuah pesawat jumbo jet dengan tangki BBM penuh; Sudah jelas rancangan bangunan tidak akan bisa menahan benturan  yang sedemikian dahsyatnya."