Perbanyakan Senjata

Halaman - 29 Juli, 2008
Merupakan suatu fakta bahwa Badan PBB Bidang Energi Atom Internasional (IAEA) dipersembahkan bagi pengembangan tenaga nuklir dunia. Namun badan ini juga berfungsi sebagai pengawas pengembangan persenjataan nuklir ilegal. Dua fungsi yang bertolakbelakang inilah jawaban mengapa pengembangan persenjataan nuklir tak dapat dihentikan.

Ini adalah fakta sederhana bahwa setiap negara yang memiliki kemampuan tenaga nuklir pasti memiliki kemampuan mengembangkan persenjataan nuklir. Terdapat 44 negara yang memiliki tenaga nuklir saat ini, artinya terdapat 44 negara yang berpotensi memiliki kemampuan persenjataan nuklir. Beberapa negara telah menggunakan operasi nuklir non-militer untuk pengembangan kemampuan persenjataan, termasuk India, Pakistan, dan Korea Selatan.

Tak hanya Kami  yang mengatakan demikian, Dr. Mohamed El Baradei, Direktur Jenderal IAEA mengatakan, « Ketika sebuah negara memiliki kemampuan mengembangkan siklus bahan bakarnya secara utuh, untuk tujuan apapun, untuk menghentikan komitmen non-pengembangannya, sebagian besar ahli malah yakin bahwa negara itu dapat menghasilkan senjata nuklir hanya dalam hitungan bulan."

Cadangan plutonium untuk tujuan non-militer seluruh dunia menjadi pangkal berkembang pesatnya pengembangan persenjataan nuklir. Di akhir 2003, kira-kira 238 ton plutonium telah diurai dalam fasilitas-fasilitas pemprosesan ulang komersial, bandingkan dengan 250 ton yang dihasilkan untuk senjata nuklir. Kira-kira 103 ton dari plutonium militer telah dinyatakan 'berlebih' dan akan dialihkan untuk cadangan plutonium 'non-militer'.

Sebagian besar plutonium untuk tujuan militer terdapat di Rusia (103 ton) dan Amerika Serikat (100 ton). Sementara produksi plutonium militer telah hampir berhenti sepenuhnya setelah perang dingin berakhir, namun pemrosesan ulang komersial masih terus berlanjut.

Mengingat bahwa hanya dengan 5 kg plutonium reaktor cukup untuk menghasilkan sebuah hulu ledak - bom nuklir yang telah menghancurkan Nagasaki, Jepang, di tahun 1945, dan membunuh 50,000 manusia, mengandung 6.1 kg plutonium - kebutuhan keamanan untuk cadangan plutonium harus maksimal.

Cadangan Sipil

Terdapat cadangan  non-militer tersimpan di Prancis, Inggris, Rusia, Jepang, India, Belgia, Jerman, dan Amerika Serikat. Namun Inggris, Prancis, Jepang, Rusia, dan India terus menghasilkan lebih banyak lagi plutonium non-militer. Diperkirakan pada akhir 2010, cadangan dari plutonium yang telah diurai akan terus meningkat dari 238 menjadi 286 ton.

Sebuah program yang dibuat sebagai respon 9/11 akan menghabiskan US $ 20 milyar dalam 10 tahun sebagai bagian upaya di tingkat global mencegah kelompok-kelompok teroris dan lainnya untuk memperoleh persenjataan nuklir. Satu-satunya jalan untuk menuntaskan masalah ini adalah hanya dengan menghentikan segala pemrosesan kembali dan produksi plutonium.