Arahkan kursor ke lingkaran untuk melihat formasi perusahaan:
Perusahaan memenuhi kriteria
Perusahaan memenuhi sebagian kriteria
Perusahaan gagal memenuhi kriteria

Perusahaan-perusahaan dalam Tantangan Harimau diperingkat menurut upaya mereka untuk memastikan minyak sawit dalam rantai pasokan mereka adalah ramah terhadap harimau dan hutan. Ada lima hal yang harus dilakukan perusahaan untuk memastikan mereka tidak terkait dengan perusakan hutan.

  • Kebijakan: Apakah perusahaan memiliki kebijakan Nol Deforestasi yang tersedia untuk umum?
  • Keterlacakan: Dapatkah perusahaan melacak asal minyak sawit hingga ke tingkat perkebunan?
  • Penjadwalan: Apakah perusahaan memberlakukan jadwal ambisius dan tonggak dimana Nol Deforestasi akan tercapai dalam rantai pasokan mereka?
  • Transparansi: Apakah perusahaan melaporkan secara transparan dan terbuka kemajuan mereka menuju Nol Deforestasi?
  • Implementasi: Apakah perusahaan memetakan rantai pasokan mereka, melibatkan para pemasok, mengaudit operasinya, dan diberi perlakuan istimewa kepada pemasok yang bertanggung jawab?

Greenpeace mengulurkan tangan pada lebih dari 250 perusahaan konsumen, kesemuanya pengguna besar kelapa sawit, pada tahun 2013. Tantangan Harimau mendasarkan informasi yang diterima dari perusahaan yang merespon, serta informasi publik yang tersedia.

Kelapa sawit, bahan yang ditemukan dalam hampir separuh produk yang ada di pasaran, adalah penyebab terbesar kerusakan hutan di Indonesia. Tantangan Harimau mengungkapkan mana konsumen global minyak sawit sedang bekerja untuk memastikan bahwa produk mereka ramah terhadap harimau dan hutan dan perusahaan mana yang membuka konsumen terhadap peluang perusakan hutan. Dengan hanya 400 harimau Sumatra yang tersisa di Indonesia, tindakan mendesak sangat diperlukan.

Procter & Gamble telah berkomitmen untuk tidak merusak hutan dengan mengeluarkan kebijakan Nol Deforestasi bulan April 2014 sebagai hasil dari kampanye publik yang dimobilisasi Greenpeace. Kebijakan baru P&G adalah pengembangan dari kriteria RSPO dan termasuk di dalamnya perlindungan terhadap lahan gambut dan area HCS/HCV. Greenpeace akan terus berhubungan dengan P&G untuk memastikan kebijakan ini diimplementasikan sebelum tahun 2020 dan tindakan efektif dengan pemasok bermasalah segera diambil. Kamu bisa ikut beraksi di sini.
Merek-merek utama: Head & Shoulders, Gillette, Pampers

 

Colgate Palmolive bergantung pada GreenPalm dan RSPO untuk pasokan minyak sawit berkelanjutan. Ini berarti bahwa mereka tidak dalam posisi untuk memastikan apakah minyak kelapa sawit dan turunan yang mereka gunakan ramah terhadap hutan dan harimau ramah.
Merek-merek utama: Colgate, Sanex, Palmolive soaps

 

Ferrero memiliki salah satu Kebijakan Nol Deforestasi yang paling progresif dalam sektor ini dan telah menetapkan waktu yang ambisius pada tahun 2015 untuk pelaksanaannya. Mereka telah berkomitmen pada keterlacakan bagi semua minyak sawit yang digunakan dalam produk mereka dan berencana untuk melaporkan secara terbuka kemajuan mereka setiap enam bulan.
Merek-merek utama: Ferrero Rocher, Nutella, Kinder Chocolate

 
General Mills logo

General Mills telah mengambil beberapa inisiatif untuk memetakan rantai pasokan mereka dan melibatkan para pemasok, tetapi tidak membuat komitmen publik untuk memastikan keterlacakan penuh untuk kelapa sawit dan turunan yang digunakannya. Kecuali mereka melakukannya, perusahaan ini tidak memiliki cara untuk menjamin bahwa produknya bebas dari kerusakan hutan.
Merek-merek utama: Häagen-Dazs, Cheerios

 

Godrej adalah salah satu perusahaan barang konsumen terbesar India. Ia tidak memiliki komitmen untuk melaksanakan Kebijakan Nol Deforestasi. Godrej adalah anggota RSPO. Mereka bergantung sepenuhnya pada RSPO untuk memasok semua minyak sawit berkelanjutan yang mereka beli, dan tidak memiliki kriteria tambahan untuk menghapus kerusakan hutan dari produk-produknya. Godrej tidak bisa mengklaim tahu dari mana minyak kelapa sawit yang gunakan berasal.
Merek-merek utama: Cinthol, Godrej (shaving cream), Genteel

 

Johnson & Johnson, nama yang cukup dikenal untuk produk bayi. Perusahaan ini sedang dalam proses pemetaan rantai pasokan. Namun, mereka tidak membuat komitmen publik untuk mengimplementasikan Kebijakan Nol Deforestasi atau mengatur jadwal target yang ambisius untuk memastikan bahwa produknya bebas dari kerusakan hutan.
Merek-merek utama: Clean & Clear, Neutrogena

 

Kao kosmetik adalah merek yang berbasis di Jepang dengan distribusi global. Ia tidak memiliki komitmen Kebijakan Nol Deforestasi. Menurut kebijakan pengadaan mereka pada tahun 2013, Kao bergantung sepenuhnya pada RSPO untuk memenuhi kriteria keberlanjutan mereka. Ini berarti perusahaan tidak dapat menjamin bahwa produknya bebas dari kerusakan hutan.
Merek-merek utama: Bioré, John Frieda, Molton Brown

 

Kellogg's, produsen sereal dan produk makanan lainnya, membuat komitmen baru untuk menerapkan Kebijakan Nol Deforestasi dengan keterlacakan penuh pada tahun 2015. Pengumuman ini adalah hasil dari kampanye oleh berbagai organisasi masyarakat sipil. Jika dilaksanakan sepenuhnya, akan menghapus deforestasi dari rantai pasokan Kellogg, dengan keterlacakan hingga ke tingkat perkebunan.
Merek-merek utama: Kellogg’s, Pringles, Froot Loops

 

Liby adalah perusahaan Cina yang menjual berbagai produk perawatan rumah tangga, deterjen dan produk perawatan pribadi di Cina dan internasional. Meskipun anggota Consumer Forum Goods (CGF), mereka tidak memiliki komitmen untuk melaksanakan Kebijakan Nol Deforestasi. Liby bukan anggota RSPO. Menanggapi Greenpeace Asia Timur, Liby menyatakan bahwa tidak mempertimbangkan deforestasi sebagai risiko lingkungan dalam rantai pasokan minyak sawit mereka.
Merek-merek utama: Liby, Chaowei, Lantian

 

L'Oréal berkomitmen pada Kebijakan Nol Deforestasi di awal 2014 dan bertujuan untuk mencapai keterlacakan 100% pada tahun 2020. Sementara kebijakan mereka progresif, jadwal target mereka pada tahun 2020 tidak ambisius. L'Oréal akan melaporkan pelaksanaan kebijakan ini secara transparan dan kami akan terus terlibat dengan perusahaan ini untuk memastikan bahwa mereka menerapkan kebijakannya sebelum 2020.
Merek-merek utama: Maybelline, Garnier, Kiehl's

 

Mars Pada awal tahun 2014, Mars berkomitmen untuk melindungi hutan dengan mengeluarkan kebijakan Nol Deforestasi menyeluruh termasuk keterlacakan sumber minyak sawit di semua produk mereka dan preferensi yang jelas bagi semua pemasok yang bisa menjamin Nol Deforestasi di tahun 2015. Hal ini menjadikan Mars sebagai salah satu pembeli progresif di industri minyak sawit.
Merek-merek utama: Snickers, Twix, Whiskas

 

Mondelēz International mengumumkan pada akhir 2013 bahwa mereka akan memastikan bahwa minyak sawit mereka beli tidak menyebabkan deforestasi. Tapi Mondelēz tidak menjelaskan bagaimana hal itu akan melampaui RSPO untuk memastikan tidak ada deforestasi yang memasuki rantai pasokan. Kebijakan mereka memiliki jadwal yang tidak ambisius pada 2020. Greenpeace akan terus melibatkan diri dengan Mondelēz untuk memastikan bahwa mereka sepenuhnya memenuhi Tantangan Harimau.
Merek-merek utama: Cadbury, Oreo, Côte d'Or

 

Nestlé memimpin industri dengan berkomitmen pada Kebijakan Nol Deforestasi, termasuk keterlacakan 100%, pada tahun 2010 setelah kampanye Greenpeace. Nestlé telah mulai menerapkan kebijakan dan melaporkan kemajuan mereka setiap tahun pada secara transparan.
Merek-merek utama: Mövenpick, Kit Kat, Maggi

 

Nice, salah satu dari tiga produsen deterjen dan pasta gigi Cina, tidak memiliki komitmen untuk melaksanakan Kebijakan Nol Deforestasi. Nice bukan anggota RSPO. Menanggapi Greenpeace Asia Timur, Nice menyatakan bahwa mereka tidak mempertimbangkan deforestasi merupakan risiko lingkungan terhadap rantai pasokan minyak sawit mereka.
Merek-merek utama: Diao, Nice, Chaoneng

 

PepsiCo tidak memiliki kebijakan yang berlaku untuk memastikan bahwa keripik yang tidak memiliki peran dalam perusakan habitat harimau. Perusahaan ini bergantung pada RSPO untuk memenuhi kebutuhan keberlanjutannya, sehingga tidak dapat menjamin bahwa produknya bebas dari kerusakan hutan.
Merek-merek utama: Pepsi, Lay’s, Doritos

 

Reckitt Benckiser sudah mulai terlibat dengan para pemasoknya untuk memetakan dari mana asal minyak kelapa sawit. Saat ini mereka bergantung pada GreenPalm dan RSPO untuk komitmen keberlanjutan mereka. Sementara perusahaan ini mengakui pentingnya keterlacakan, jadwal mereka pada tahun 2020 tidak ambisius dan kebijakan mereka saat ini tidak dapat memastikan bahwa produknya bebas dari kerusakan hutan.
Merek-merek utama: Clearasil, Vanish, Mr Sheen

 

Unilever berkomitmen pada Kebijakan Nol Deforestasi, dengan pelaporan pelaksanaannya yang transparan dan terpublikasi, pada akhir 2013 dengan tujuan untuk mencapainya pada tahun 2020. Keterlibatan Unilever dengan pemasok adalah langkah progresif, tetapi tidak harus menunggu sampai 2020 untuk menjamin produknya bebas dari kerusakan hutan.
Merek-merek utama: Dove, Pepsodent, Persil

 

Mengapa perusahaan-perusahaan ini?

Seleksi pertama perusahaan konsumen ini merepresentasikan pengguna akhir kelapa sawit terkemuka. Mereka adalah merek-merek yang dikenal dengan kekuatan untuk membantu mengubah industri kelapa sawit. Sebagai diungkapkan pemeringkatan kami, sementara beberapa menunjukkan kepemimpinan industri, yang lain masih harus berjalan panjang sebelum dapat dianggap ramah hutan dan harimau.

Banyak dari perusahaan-perusahaan ini mengandalkan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) skema sertifikasi untuk memenuhi komitmen keberlanjutan mereka. Namun, standar RSPO gagal untuk melarang perusakan hutan dan konversi lahan gambut. Jika merek ini serius untuk menghapus kerusakan hutan dari produk mereka, maka mereka harus melampaui RSPO dan membuat komitmen publik untuk menerapkan Kebijakan Nol Deforestasi.

Sebagian besar dari perusahaan-perusahaan ini juga anggota Consumer Goods Forum (CGF) - kelompok perusahaan yang telah berkomitmen tanpa deforestasi net pada tahun 2020. Sebagaimana ditunjukkan dalam analisis ini, banyak perusahaan yang anggota CGF memiliki jalan panjang untuk mencapai tujuan ini.


Terdapat solusi.

Industri kelapa sawit sedang mengalami transformasi pesat. Minyak sawit tidak perlu dikaitkan dengan kerusakan hutan.

Merek besar dapat memimpin jalan dalam melindungi hutan Indonesia. Perusahaan harus mengikuti contoh pemimpin seperti Nestlé, yang sudah menerapkan Kebijakan Nol Deforestasi, dan L'Oréal, Unilever dan Ferrero, yang baru-baru ini mengumumkan komitmen progresif untuk Nol Deforestasi.

Di lapangan, sudah ada sekelompok produsen progresif – the Palm Oil Innovation Group – yang berkomitmen pada produksi minyak kelapa sawit yang bertanggung jawab.

Cari tahu lebih lanjut di sini.

Kategori