Mengenai kampanye

Halaman - 28 Februari, 2012
Hutan dan lahan gambut Indonesia yang kaya karbon sedang dihancurkan pada laju lebih dari satu juta hektar per tahun, menjadikan Indonesia sebagai penghasil emisi gas rumah kaca ketiga terbesar di planet ini. Hal ini membahayakan spesies termasuk harimau Sumatra dan orangutan dan merusak masa depan bagi jutaan orang Indonesia yang bergantung pada hutan untuk pangan, tempat tinggal dan mata pencaharian mereka.

  

Riau, 2010: Pembukaan hutan rawa gambut Kerumutan

Pemerintah Indonesia mengidentifikasi sektor pulp dan kertas serta sektor minyak kelapa sawit sebagai pendorong utama deforestasi. Pada Mei 2011, pemerintah memberlakukan moratorium dua tahun pada konsesi (izin) baru untuk pembukaan hutan dan lahan gambut untuk perkebunan pulp dan kelapa sawit.

Tetapi sebagai akibat pengaruh industri, moratorium dibatasi untuk wilayah hutan primer dan lahan gambut di luar konsesi yang ada. Ahli pemetaan Greenpeace telah menghitung bahwa dalam keadaannya saat ini, moratorium hanya akan relatif sedikit sekali mencegah pembukaan hutan dan lahan gambut tambahan. Hutan dan lahan gambut dalam konsesi yang ada tidak tercakup. Jutaan hektar hutan hujan sedang diklasifikasi ulang sebagai 'lahan terdegradasi' tanpa kriteria yang jelas serta boleh dikembangkan.

Pada kenyataannya, baik sektor kertas dan kelapa sawit bersiap-siap untuk ekspansi besar-besaran, dengan target produksi pulp tiga kali lipat selama 15 tahun ke depan dan produksi minyak sawit dua kali lipat dalam dekade berikutnya. Tanpa pendekatan perubahan radikal, berjuta hektar lagi hutan dan habitat penting keanakeragaman hayati yang tersisa akan berisiko.

Pemain terkemuka di sektor pulp dan minyak kelapa sawit adalah Sinar Mas Grup: Asia Pulp & Paper (APP) adalah divisi pulp; Golden Agri Resources (GAR) adalah divisi kelapa sawit. Sementara GAR memberlakukan kebijakan konservasi hutan di 2011 'untuk memastikan bahwa operasi minyak kelapa sawit tidak memiliki jejak penggundulan hutan', APP mengumumkan bahwa mereka harus tetap bergantung pada pembukaan hutan hujan Indonesia hingga akhir 2015.

Produsen pulp dan kertas terbesar di Indonesia (dan mengaku sebagai terbesar ketiga di dunia), APP memiliki strategi perusahaan yang didasarkan pada eksploitasi hutan hujan Indonesia untuk dijadikan produk konsumen – dan membuat klaim berani tentang komitmen lingkungan dan sosial.

Hutan yang telah dibuka siap untuk ditanami.

 

Greenpeace telah bekerja di Indonesia, langsung di garis depan kerusakan hutan, selama bertahun-tahun. Penyelidikan kami dan analisis data satelit terperinci menunjukkan bahwa data deforestasi menunjukkan bahwa pemasok APP menghancurkan hutan hujan secara sengaja, termasuk wilayah yang dipetakan sebagai habitat harimau dan lahan gambut yang kaya karbon untuk memenuhi kebutuhan pabrik pulp APP.

Lahan bergambut dalam terus dikeringkan dan dibuka secara ilegal - pada kenyataannya, wilayah ini secara aktif ditargetkan oleh para pemasok APP. Mereka terus membuka wilayah yang jelas bernilai keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, seperti Bentang Hutan Bukit Tigapuluh di Sumatra Bagian Tengah, salah satu tempat perlindungan terakhir bagi harimau Sumatra langka dan tempat tinggal bagi salah satu program reintroduksi satu-satunya yang berhasil bagi orangutan Sumatra yang terancam punah.

Kami telah memetakan temuan kami di sini. Demi kepentingan transparansi, kami juga menyediakan data mentah dan dokumen-dokumen utama yang mendasari bukti kami dengan harapan ini akan memungkinkan pengawasan masyarakat terhadap tindakan industri yang, sampai saat ini, telah ditandai dengan kebingungan dan korupsi.

Jadi, bagaimana caranya menghentikan kehancuran?

Pada tahun 2011, perusahaan kelapa sawit Sinar Mas, Golden Agri Resources, mengumumkan kebijakan konservasi hutan baru a) melindungi daerah-daerah dengan nilai konservasi tinggi melalui penilaian independen b) tidak akan mengembangkan perkebunan di lahan gambut dan c) untuk melindungi daerah-daerah dengan nilai karbon tinggi. Sementara itu, pemasok APP terus memperluas ke hutan dan lahan gambut. Kami ingin melihat langkah serupa oleh APP dan kami mendorong perusahaan untuk mengikuti langkah GAR.

Pulp hutan hujan APP digunakan untuk menghasilkan produk kertas, tisu dan kemasan yang digunakan oleh merek-merek besar di seluruh dunia, menjadikan mereka terlibat dalam perusakan hutan hujan Indonesia. Investigasi Greenpeace telah melacak rantai kehancuran, mengikuti rantai pasokan dari hutan ke pabrik APP di Indonesia dan Cina untuk perusahaan yang membuat kemasan dan produk kertas lainnya. Pada tahun 2011 pekerjaan kami difokuskan pada kemasan untuk merek mainan global termasuk Mattel, Lego, Disney dan Hasbro serta kertas toilet dan produk tisu di negara-negara seperti AS, Australia dan Selandia Baru.

Untuk melakukan ini, kami mengirim kemasan dari produk bermerek untuk pengujian forensik untuk mendeteksi kayu keras tropis campuran (MTH). MTH hanya dibubur (dijadikan pulp) pada skala komersial di Indonesia, sehingga kehadiran MTH dalam produk kertas, serta hasil investigasi rantai pasokan kami yang menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan oleh APP, membuktikan bahwa MTH berasal dari serat hutan tropis Indonesia.

Riau, 2010: Hutan rawa gambut Kerumutan.

 

Pada Juni 2011, kami merilis laporan online 'Bermain-main dengan Kepunahan' dan meluncurkan kampanye global yang ditujukan kepada APP melalui pelanggan mereka di sektor mainan. Pada saat itu, tidak ada merek mainan terkemuka yang memiliki kebijakan yang berlaku di seluruh perusahaan untuk memastikan bahwa mereka tidak menyumbang perusakan hutan hujan yang tersisa di dunia.

Sebagai hasil dari kampanye tersebut - termasuk video spoof, aksi langsung tanpa kekerasan, pembicaraan dengan perusahaan dan dukungan massal dari masyarakat (lebih dari 500.000 email telah dikirim ke kantor pusat Mattel saja) - Hasbro, Lego dan Mattel mengumumkan bahwa mereka akan berhenti membeli kertas dan kemasan yang terlibat perusakan hutan hujan. Greenpeace menyerukan agar Disney untuk mengikutinya.

Perusahaan-perusahaan ini bergabung dengan meningkatnya jumlah perusahaan konsumen yang setelah kampanye Greenpeace dan tekanan dari pendukung kami, telah mengambil tindakan untuk secara khusus mengeluarkan APP dari rantai pasokan mereka, atau memberlakukan kebijakan untuk mengatasi deforestasi, yang mengecualikan APP. Perusahaan-perusahaan ini termasuk Kraft, Nestlé, Unilever, Carrefour, Tesco, Auchan, LeClerc, Corporate Express dan Adidas. Anda dapat mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai tindakan yang diambil perusahaan lain terhadap APP melalui update kami di sini. 

Dalam menghadapi tekanan seperti itu, APP perlu meninggalkan model pertumbuhan ekonomi yang bergantung pada deforestasi. Hal ini bisa dan seharusnya memimpin pertumbuhan rendah karbon dengan menetapkan standar praktik industri terbaik. Kami menghimbau APP untuk mengikuti jejak GAR, perusahaan saudaranya di bawah Sinar Mas, dan mengakhiri ketergantungannya pada pembukaan kawasan hutan dan lahan gambut untuk kayu pulp.

Sementara itu, Greenpeace menyerukan pemerintah Indonesia untuk memulai suatu tinjauan hukum langsung pada konsesi yang ada, dan untuk segera memperkuat moratorium pembukaan hutan untuk menyertakan semua hutan hujan dan lahan gambut. Bekerja bersama masyarakat sipil dan LSM Indonesia, kami juga berkampanye untuk tercapainya sebuah kesepakatan internasional yang berarti untuk melindungi hutan hujan dan lahan gambut Indonesia, demi sebuah jalur pembangunan hijau yang baru dan nol deforestasi di Indonesia pada tahun 2015.

Sinar Mas dalam Investigasi merupakan bagian dari kampanye kami yang lebih luas demi masa depan yang lebih baik untuk Indonesia, hutannya, keanekaragaman hayati dan iklim global. Ini juga merupakan bagian dari kampanye kami yang lebih luas untuk mengakhiri deforestasi global, dan untuk melindungi alam, keanekaragaman hayati dan hutan hujan dunia sementara mempromosikan keadilan sosial di masa depan. Anda dapat bergabung dengan kami di sini.

Kategori
Tag