Metodologi

Halaman - 25 Februari, 2012
Penyelidikan Greenpeace menggunakan serangkaian teknik, sumber data dan metodologi untuk mendokumentasikan, menganalisis dan mengekspos dampak yang bertanggung jawab atas perusakan hutan Indonesia dan lahan gambut yang kaya karbon. Ini termasuk investigasi lapangan; peta dan analisis citra satelit; pengujian data pemerintah, perusahaan dan perdagangan; dan uji forensik bahan kertas, tisu dan kemasan.

Mendokumentasikan dampak APP pada hutan tropis Indonesia

Di Indonesia, analisis independen dari dampak operasi sektor pulp dan minyak sawit terhambat oleh kurangnya transparansi pemerintah dan industri; ini termasuk kesulitan memperoleh data terbaru atau yang cukup rinci. Mengingat kekurangan-kekurangan ini, analisis harus dipahami sebagai suatu penilaian risiko indikatif. Temuan harus dikonfirmasi melalui validasi lapangan.

Meski dengan keterbatasan ini dan dengan menggunakan sumber resmi terbaik, sumber-sumber pemerintah dan ahli yang ada, Greenpeace telah menggunakan beberapa teknik untuk menilai risiko operasi Sinar Mas Group (SMG)/APP dan risiko rencana ekspansi mereka ke daerah-daerah terhadap habitat hutan, lahan gambut dan satwa liar dan untuk memantau dampak operasi ini.

Metode dan data set yang kami gunakan juga sering digunakan oleh pemerintah, kelompok konservasi dan bahkan perusahaan memegang konsesi, termasuk Sinar Mas, untuk menilai risiko dan memonitor perubahan. 

Ada beberapa tingkatan analisis:

Langkah satu: pemetaan risiko (analisis spasial)

  1. Pemetaan operasi perusahaan: diperlukan pengetahuan tentang batas-batas konsesi. Sinar Mas tidak membuatnya tersedia untuk publik, sehingga menghambat pengawasan masyarakat terhadap operasinya. Sementara Kementrian Kehutanan Indonesia menyediakan peta konsesi perkebunan kayu pulp yang memiliki izin, namun tidak selalu mutakhir dan tidak merinci kepemilikan tapi hanya nama konsesi yang biasanya berbeda untuk hampir setiap konsesi. Informasi terbaik yang tersedia untuk konsesi SMG/APP harus dikompilasi dari serangkaian sumber termasuk Kementrian Kehutanan, dokumen internal perusahaan, kantor dinas daerah, organisasi konservasi dan penilai lingkungan.
  2. Pemetaan nilai ekologis: menggunakan data pemetaan spasial terbaik yang ada (Geographic Information System, GIS) dari Kementrian Kehutanan, Wetlands International, Program Lingkungan PBB (UNEP), kelompok ahli konservasi dan pihak berwenang lainnya, ahli GIS menggunakan layer-layer data untuk membuat visi ekosistem. Hal ini menunjukkan, misalnya, pada tingkat lanskap, kualitas tutupan hutan, luas dan kedalaman gambut, mengidentifikasi kawasan konservasi keanekaragaman hayati utama dan habitat orangutan dan harimau.
  3. Analisis risiko: mengidentifikasi dimana nilai-nilai ekologis yang perlu perlindungan berada dalam area konsesi.

Langkah dua: Pemetaan dampak (analisis temporal)

  1. Membandingkan citra satelit dalam suatu kerangka waktu yang relevan: salah satu metode untuk menentukan tingkat pembukaan hutan dalam kawasan konsesi adalah dengan menganalisa dan membandingkan gambar satelit dari beberapa tanggal yang berbeda. Tidak seperti Amazon Brasil yang memiliki satu bulan dengan langit yang relatif bebas awan, daratan Indonesia sering dikaburkan oleh awan tebal, mengakibatkan penggunaan gambar satelit menjadi terbatas dalam menilai perubahan tutupan lahan.
  2. Analisis overlay citra satelit dengan peta nilai ekologis dan batas-batas konsesi untuk menentukan perubahan dalam kualitas atau tingkat nilai dalam wilayah konsesi.

Langkah tiga: Investigasi lapangan dan monitor udara (ground truthing)

  1. Tentukan wilayah prioritas untuk investigasi berdasarkan analisis risiko ekologis, analisis dampak dan informasi lainnya yang mengindikasikan potensi penebangan aktif. 
  2. Melakukan surveilans kelompok-kelompok konsesi untuk memastikan dan mendokumentasikan penebangan aktif dan pembangunan infrastruktur dalam wilayah yang dengan nilai ekologis penting. 
  3. Mendapatkan akses ke wilayah konsesi untuk mendapatkan bukti dokumenter nilai-nilai ekologis dan sosial yang terdampak operasi perusahaan. Jika memungkinkan secara logistik, ini bisa termasuk bukti kedalaman gambut, keberadaan orangutan (misalnya sarang) atau harimau (misalnya jejak kaki), kualitas hutan dan kepatuhan hukum dalam operasi. Informasi selanjutnya dapat dikumpulkan melalui kesaksian dari para pekerja dan masyarakat.

Investigasi rantai kepemilikan: menghubungkan merk internasional dengan APP

Greenpeace menginvestigasi kaitan dagang antara APP dengan merk internasional dan pasar utama di Indonesia dan Cina. 

Langkah-langkah kunci untuk investigasi semacam ini adalah: 

  1. Mengidentifikasi dan memetakan perdagangan APP antara pabrik pulp dan pabrik kertas di Indonesia dan Cina.
  2. Mengidentifikasi dan memetakan perdagangan dari pabrik kertas APP ke percetakan yang berafiliasi dengan APP dan pihak ketiga, produsen kemasan, pedagang dan distributor di Indonesia, Cina dan pasar regional utama melalui data perdagangan dan sumber perusahaan.
  3. Mengidentifikasi konsumen korporat APP melalui data perdagangan, bahan publikasi dan sumber-sumber rahasia. 

Mengingat skala operasi APP di berbagai komoditas dan pasar, investigasi semacam ini hanyalah puncak gunung es dalam hal mengungkapkan skala potensi hubungan perdagangan antara pasar global dan APP. Implikasinya jelas: dalam ketiadaan kebijakan pengadaan perusahaan yang kuat, setiap perusahaan atau merek yang membeli produk kertas dari Cina atau Indonesia yang belum dilakukan uji tuntas yang ketat berisiko terkait dengan APP dan mendorong perusakan hutan hujan Indonesia.

Uji forensik: menunjukkan merk-merk internasional terkait dengan perusakan hutan hujan 

Sumber-sumber APP untuk kayu keras campuran (mixed tropical hardwoods, MTH) untuk menghasilkan pulp murni berkualitas tinggi untuk digunakan sebagai kertas fotokopi, tisu, kemasan dan bahan cetakan glossy. 

Melalui uji forensik, investigasi Greenpeace mengidentifikasi konsumen perusahaan tidak hanya terkait dagang dengan APP, tapi juga kaitan material dengan penghancuran hutan hujan. Ini menunjukkan bahwa perdagangan mereka tidak hanya mendukung perusahaan yang merusak, tapi mereka dengan sendirinya secara langsung terlibat dengan penghancuran tersebut. 

Langkah-langkah kunci untuk investigasi Greenpeace untuk mengidentifikasi kaitan dengan penghancuran hutan hujan Indonesia ini adalah: 

  1. Mengidentifikasi merek perusahaan dan produk yang memiliki potensi kaitan dengan APP. 
  2. Mengirim sampel kertas, tisu atau bahan kemasan ke beberapa laboratorium pengujian yang diakui dunia dan digunakan oleh sektor industri kertas. 
  3. Di sana, para ahli akan menyiapkan dan memeriksa sampel untuk mengidentifikasi jenis spesies kayu yang digunakan. 
  4. Misalnya, pada bahan kemasan, kandungan serat murni pada lapisan paling luar papan kemasan biasanya diuji untuk mengidentifikasi bagian/persentase serat MTH - mixed tropical hardwood – atau akasia.
  5. Adanya MTH atau akasia secara kuat mengindikasikan bahwa serat pulp berasal dari Indonesia.

Pengujian semacam ini telah mengkonfirmasi adanya MTH dan akasia di berbagai produk yang dihasilkan oleh APP, mulai dari kertas fotokopi sampai tisu, kemasan dan bahan cetakan glossy. Bukti forensik seperti ini mengaitkan merek-merek global dengan perusakan hutan hujan Indonesia.

Kategori
Tag