Ramin di pabrik pulp utama APP

Halaman - 26 Februari, 2012
Penyelidikan selama setahun di pabrik pulp Asia Pulp & Paper terbesar di Indonesia, Indah Kiat Perawang, memperlihatkan bagaimana kayu ramin ilegal secara reguler dicampur ke dalam pasokan kayu dari pembukaan hutan alam (atau yang dinamakan kayu keras tropis campuran atau MTH). Perdagangan ramin ini dilarang dalam peraturan Indonesia dan peraturan nasional CITES. Bukti video dan forensik yang diperoleh dalam investigasi ini tersedia bagi otoritas terkait di dalam negri dan internasional – Kementrian Kehutanan Indonesia dan Sekretariat CITES di Jenewa.

Stockpiles of rainforest logs at APP's Indah Kiat Perawang pulp mill.
  • Pada bulan Februari 2011 dan Januari 2012, investigasi mengumpulkan bukti video dalam sembilan bulan terpisah dan mendokumentasikan kehadiran reguler kayu ramin illegal dalam logyard MTH di sekitar pabrik Indah Kiat Perawang.
  • Dokumentasi video menggambarkan prevalensi perdagangan ramin ilegal APP – jumlah kayu ramin yang ditemukan dalam bagian-bagian tumpukan kayu yang dapat diakses berkisar antara 10 sampai 17. Sebagian dari kayu ramin ini berdiameter sampai dengan 1 meter.
  • Verifikasi spesies independen diperoleh dengan mengumpulkan sampel kayu dari batang-batang kayu berbeda dalam kompleks Indah Kiat Perawang. Sejumlah sampel ini dikirim ke laboratorium pengujian kayu independen, dimana seorang ahli yang diakui memiliki spesialisasi dalam mengidentifikasi kayu yang terdaftar dalam CITES memastikan bahwa ke-46 sampel adalah ramin.
  • APP sudah memperluas penggunaan kayu dari pembukaan hutan alam dan produksi pulp mereka, dengan demikian meningkatkan ancamannya terhadap hutan hujan Indonesia dan habitat ramin:
    • Dokumen pemerintah Indonesia menunjukkan bahwa Indah Kiat Perawang merencanakan untuk meningkatkan dua kali penggunaan kayu MTH dari 20% dari pasokan kayu pulp mereka (2,4 juta m3) pada tahun 2009 menjadi 44% (5 juta m3) pada tahun 2011.
    • Dokumen pemerintah Indonesia mengungkapkan bahwa wilayah pemasok kayu MTH untuk Indah Kiat Perawang termasuk wilayah yang dipetakan sebagai hutan rawa gambut.
    • Pada tahun 2011 laporan APP menyatakan bahwa Indah Kiat Perawang sedang dalam proses meningkatkan kapasitas terpasang berlisensinya sebanyak 50%, dari 2 menjadi 3 juta ton per tahun.

Ramin ilegal terdokumentasi dalam pasokan kayu pulp APP

Investigasi ini memperlihatkan bagaimana ramin ilegal memasuki pasokan kayu pulp APP di pabrik utamanya, Indah Kiat Perawang – melanggar larangan ramin Indonesia dan peraturan nasional CITES. Pabrik pulp dipasok dengan kayu hutan hujan dari penebangan habis hutan termasuk hutan rawa gambut; dalam logyard mereka terdapat bahan baku pulp termasuk kayu ramin ilegal. Pabrik ini berdagang dengan setidaknya 12 pabrik APP kertas di Indonesia dan Cina.

Indah Kiat Perawang, Riau, Sumatra, Indonesia, September 2011: Sebuah investigasi rahasia selama setahun mendokumentasikan banyak kayu bulat ramin ilegal bercampur dengan kayu hutan hujan lainnya menunggu untuk dijadilan pulp di pabrik pulp APP Indah Kiat Perawang.
© Greenpeace

Investigasi lapangan sebelumnya ke dalam rantai pasokan APP telah mendokumentasikan ketergantungan kelompok ini pada kayu keras tropis campuran (MTH) yang berasal dari penebangan hutan rawa gambut, habitat ramin dan harimau penting di daerah termasuk Kerumutan (Riau) dan Bukit Tigapuluh (Jambi).

Investigasi ini memperlihatkan bagaimana ramin - jenis pohon yang dilindungi secara hukum baik di Indonesia dan dalam perdagangan internasional - secara teratur dan ilegal memasuki pasokan kayu pulp MTH APP dalam pabrik pulp utama APP Indah Kiat Perawang di Sumatra. Adanya ramin dalam logyard kayu pulp MTH Indah Kiat Perawang merupakan pelanggaran terhadap larangan ramin di Indonesia dan peraturan nasional CITES.

Investigasi mendokumentasi tiga masalah rantai pasokan yang berkaitan dengan pelarangan ramin Indonesia dan pelanggaran peraturan nasional CITES oleh Indah Kiat Perawang:

 

  • Ketergantungan Indah Kiat Perawang pada serat dari penebangan hutan alam cukup besar dan meningkat. Wilayah pasokan Indah Kiat Perawang meliputi kawasan luas hutan rawa gambut, habitat penting ramin (menunjukkan tingkat penggunaan MTH dan tumpang tindih kawasan pasokan dengan habitat ramin).
  • Logyard Indah Kiat Perawang berisi kayu ramin yang bercampur dengan spesies kayu lain dari hutan alam (menunjukkan adanya ramin ilegal dalam pasokan MTH).
  • Indah Kiat Perawang berdagang dengan setidaknya 12 pabrik kertas APP [1]di Indonesia dan Cina yang kemudian menjual produk kertas ke pasar global (menampilkan beberapa rute jalur penyelundupan global untuk pulp Indah Kiat). Uji serat telah mengkonfirmasi kehadiran MTH dalam rantai pasokan dari sebagian besar pabrik-pabrik ini.

Dalam setiap dokumen yang diterbitkan atau halaman web yang terkait dengan investigasi ini, ‘Jalur Kertas Ramin', 'Greenpeace' mengacu pada Greenpeace Internasional, yang terdaftar di Amsterdam, yang bertanggung jawab penuh atas isi dan temuan-temuannya.

Hal-hal pelengkap

Catatan kaki

[1] The 12 mills are Indah Kiat Perawang, Indah Kiat Tangerang, Indah Kiat Serang, Tjiwi Kimia (counting the paper mill and printing facility as one), Pindo Deli Perawang, Univenus Perawang, Univenus Java, Gold East, Gold Huasheng, Yalong, Ningbo Zhonghua and Ningbo Asia Pulp and Paper.

Pasokan kayu pulp APP bergantung pada pembukaan habitat penting bagi ramin

Wilayah pasokan kayu pulp APP - terutama berada di Sumatra - meliputi wlayah lahan gambut yang luas. Antara 2003 dan 2009, luas hutan rawa gambut berukuran dua kali kotaNew York ditebangi habis di wilayah ini. Hampir setengah dari kayu pulp dipasok ke pabrik APP Indah Kiat Perawang berasal dari pembukaan hutan alam.Bertentangan dengan komitmennya untuk hanya menggunakan serat tanaman terbarukan, APP telah meningkatkan proporsi kayu hutan hujan - yang juga disebut kayu keras tropis campuran atau MTH - dalam pasokannya.

Risiko ramin: Pasokan kayu pulp Indonesia APP terletak terutama di provinsi yang memiliki habitat ramin

APP memiliki dua pabrik pulp utama di Indonesia, keduanya berada di pulau Sumatra. Menurut laporan keberlanjutan perusahaan APP terakhir 2008/2009 (diterbitkan November 2011):[2]

  • Indah Kiat Perawang, di Riau, memproduksi kurang lebih 2 juta ton pulp pada tahun 2009[3] dan menyumbang 73% produksi pulp APP di Indonesia;.
  • Lontar Papyrus, di Jambi, memproduksi kurang lebih 700.000 ton pulp pada tahun 2009[4]dan menyumbang 27% dari produksi pulp APP Indonesia..

Wilayah pasokan kayu pulp APP terutama terletak di Sumatra, terutama di provinsi Riau, Jambi dan Sumatra Selatan.[5]Ini termasuk daerah luas lahan gambut, habitat utama ramin yang diidentifikasi oleh Kementrian Kehutanan.[6]

Analisis pemetaan Greenpeace menunjukkan bahwa dalam wilayah yang dikendalikan oleh para pemasok APP terdapat 440.000ha hutan rawa gambut Sumatra pada tahun 2003 dan hanya 260.000 ha hutan rawa gambut pada tahun 2009.[7] Hilangnya hutan rawa gambut sebesar 180.000 ha setara dengan pembukaan wilayah lebih dari dua kali luas kota New York.[8]

Selanjutnya, dokumen Kementrian Kehutanan tahun 2009[9]menyebutkan wilayah pemasok untuk Indah Kiat Perawang mengungkapkan bahwa sejumlah penting dari MTH yang dipasok ke pabrik berasal dari konsesi yang terletak pada lahan gambut.

Tingginya penggunaan MTH sejak lama: APP Indah Kiat Perawang secara historis bergantung pada penebangan hutan alam

Sejak larangan penebangan ramin tahun 2001, pabrik pulp APP telah menjadi sangat tergantung pada serat MTH dari penebangan hutan hujan untuk memenuhi kebutuhan produksi pulp. Sebuah dokumen Sinarmas Forestry yang diperoleh Greenpeace merinci pangsa pasokan bahan baku antara 2002 dan 2006 untuk pabrik APP Indah Kiat yang dipenuhi oleh kayu pulp MTH (yaitu dari pembukaan hutan alam):[10]

  • Pada tahun 2002, 77% dari kayu pulp dipasok ke pabrik adalah MTH;
  • Pada tahun 2006, 45% dari kayu pulp dipasok ke pabrik adalah MTH.

Penggunaan ekstensif MTH saat ini: hampir setengah pasokan kayu pulp APP Indah Kiat Perawang berasal dari penebangan hutan alam

Rainforest logs Indah Kiat Perawang, Riau, Sumatra, Indonesia, May 2011: Kayu bulat hutan hujan menunggu dijadikan pulp di pabrik pulp APP Indah Kiat Perawang.
© Greenpeace
 


Menurut laporan keberlanjutan perusahaan APP 2008/2009, diterbitkan pada tahun 2011, sekitar 20% dari pasokan kayu pulp Indah Kiat Perawang pada tahun 2009 dinyatakan sebagai kayu keras tropis campuran.[11]

Namun, laporan yang sama menunjukkan bahwa Indah Kiat Perawang sedang memohon izin untuk meningkatkan kapasitas produksi pulp berlisensi mereka dengan tambahan 1 juta ton per tahun,[12] atau peningkatan 50% dari kapasitas berlisensi mereka tahun 2009.

Menurut data Kementrian Kehutanan tahun 2011, pasokan kayu pulp ke Indah Kiat Perawang diperkirakan akan cukup untuk menghasilkan lebih dari 2,3 juta ton pulp,[13] yang mengindikasikan bahwa pabrik sudah memperluas produksi pulp.

Data Kementrian Kehutanan menunjukkan bahwa pabrik telah meningkatkan ketergantungan pada MTH dalam rangka memenuhi produksi mereka yang meningkat.Menurut data Kementrian, pabrik ini menggunakan 2,4 juta m3 MTH pada tahun 2009[14]- kira-kira setara dengan proporsi pasokan APP yang dinyatakan berasal dari MTH.[15]Data Kementrian Kehutanan menunjukkan bahwa volume ini meningkat menjadi lebih dari 4,5 juta m3 pada 2010 [16] dan direncanakan meningkat menjadi hampir 5 juta m3 pada tahun 2011[17]- setara dengan 44% dari pasokan ke pabrik bubur kertas.

Menggunakan tingkat produksi panen yang diasumsikan oleh dokumen internal Sinarmas Forestry, 5 juta m3 kayu MTH tersebut setara dengan kurang lebih 64.000 ha pembukaan hutan hujan pada tahun 2011 saja,[18] atau seluas kota Jakarta.[19]

Ini berarti bahwa APP saat ini meningkatkan penggunaan MTH sebagai proporsi dari persediaan mereka dan pada saat yang sama memperluas produksi pulp. Hal ini meskipun janji APP yang berulang kali selama dekade terakhir untuk menjadi sepenuhnya bergantung pada perkebunan kayu terbarukan - awalnya pada 2007, kemudian direvisi menjadi 2009[20]- dan untuk mengakhiri ketergantungannya pada pembukaan hutan kayu dari di Indonesia. Pada tahun 2011, kepala bagian keberlanjutan APP, Aida Greenbury, kembali merevisi komitmen untuk menggunakan serat perkebunan saja, menundanya ke akhir 2015[21]- delapan tahun setelah tanggal awalnya menjanjikan. Namun, angka di atas menunjukkan peningkatan berkelanjutan di tingkat produksi yang jauh melampaui ketersediaan pasokan perkebunan tumbuh, yang berarti ekspansi terus untuk bahan bakar perusakan hutan.

 

Hal-hal pelengkap

Catatan kaki

[2] APP (2011c)
[3] 1.98 million tonnes. Source: APP (2011c): 28.
[4] APP (2011c): 17
[5] See eg MoFor (2010f)
[6] Concessions: MoFor (2010c); peatlands: Wahyunto et al (2003)
[7] Greenpeace mapping analysis 2011
[8] NYC = 302 miles2 = 78,217ha
Source: US Census Bureau. State & country quick facts
[9] MoFor (2010h)
[10] Sinarmas Forestry (2007b)
[11] APP (2011c): 28
[12] APP (2011c): 27
[13] 2.31 million tonnes. Source: MoFor (2011c).
[14] MoFor (2010h)
[15] APP (2011c): 28
[16] MoFor (2010g)
[17] MoFor (2011c)
[18] 50 tonnes of MTH pulpwood/ha of cleared area. Source: Sinarmas Forestry (2007a): 8. Based on IKPP declared consumption of MTH in 2009, supplied by the company to the Ministry of Forestry in m_ and declared in tonnes in its 2008/2009 corporate sustainability report - 1 green tonne of MTH is equivalent to 1.56m3 (or 0.64t/m_). Sources: MoFor (2010h) and, in tonnes, APP (2011c): 28.
[19] Jakarta = 650km2
Source: www.jakarta.go.id/english/news/2011/03/jakartas-geography accessed 10/2/2012
[20] APP (2004): ii, APP (2007): 58
[21] Greenbury (2011). 'By the end of 2015, we will source 100 percent of our pulpwood supply from sustainable plantation stock and require our suppliers to meet Indonesia's mandatory sustainable forest management standards.'

Tautan terkait

Ramin adalah kayu yang mudah dikenali dengan karakteristik khas. Laboratorium pengujian dapat mengkonfirmasi identitas kayu ramin. Selama invetsigasi ini, sampel kayu dari pabrik Indah Kiat Perawang dianalisis oleh otoritas internasional yang diakui untuk jenis kayu yang dilindungi, dan 46 sampel dikonfirmasi adalah ramin.

Ramin adalah kayu yang mudah dikenali

Ramin Kayu bulat ramin ilegal diidentifikasi di pabrik pulp APP Indah Kiat Perawang. Kayu ramin rentan terhadap jamur berwarna biru jelas.
© Greenpeace
 


Ramin, khususnya Gonystylus bancanus, adalah spesies kayu yang mudah dikenali berwarna putih, diidentifikasi oleh sejumlah karakteristik penting selain warna kayu dan serat.

Menurut berbagai dokumen Kementrian Kehutanan, kayu ramin yang ditebang mudah diidentifikasi dari sejumlah fitur yang khas. Ini termasuk:

  • Kayu: inti kayunya berwarna keputihan sampai kuning pucat.[22]
  • Kulit kayu luar: permukaan kulit luar halus sampai retak, pecah-pecah dangkal atau bersisik, berwarna abu-abu kusam sampai coklat merah sampai coklat gelap, kadang-kadang dengan bercak putih.[23]
  • Kulit kayu dalam: kulit bagian dalam mengandung banyak serat halus, rapuh yang mudah patah dan mengiritasi kulit,[24] dan berwarna kuning, coklat, merah muda atau oranye.[25]
  • Berjamur: kayu rentan terhadap serangan jamur, menghasilkan perubahan warna noda biru.[26]

Dari sampel kecil kayu ramin, mata yang terlatih dapat mengidentifikasi karakteristik struktur dan anatomi kayu spesies Gonystylus menggunakan kaca pembesar genggam.[27]

Laboratorium pengujian dapat mengkonfirmasi identitas kayu ramin

Dr Gerald Koch Dr Gerald Koch, seorang ahli spesies kayu yang diakui secara internasional, memeriksa sampel ramin yang dikumpulkan di pabrik pulp APP Indah Kiat Perawang.
© Greenpeace
 

 

Institute of Wood Technology and Wood Biology, vTI, University of Hamburg, Germany, March 2011: Tampak radial pembuluh ramin. Gambar mikroskopis sampel kayu EC198612 menegaskan bahwa kayu ini adalah ramin. Sampel diambil dari kayu bulat ramin ilegal yang diidentifikasi di pabrik pulp APP Indah Kiat Perawang.
© Greenpeace

 

Pengujian laboratorium mudah dapat mengkonfirmasi identitas kayu ramin dari sampel kecil yang dikumpulkan di lapangan:

  • Serat/struktur badan kayu: melalui analisis makroskopik dan mikroskopik dari sebuah penampang kayu ramin yang diambil dari sampel kayu, identifikasi ramin dapat dikonfirmasikan berdasarkan karakteristik serat/struktur kayu.[28]

 

 

 

 

Investigasi pasokan kayu pulp Indah Kiat Perawang

Collection of wood sample EC198612 Indah Kiat Perawang, Riau, Sumatra, Indonesia, March 2011: Pengumpulan sampel kayu EC198612 dari kayu bulat ramin ilegal diidentifikasi di pabrik pulp APP Indah Kiat Perawang. Sampel terkunci dengan segel keamanan dan dikirim untuk verifikasi independen.
© Greenpeace

Pengumpulan sampel kayu EC198612 dari kayu bulat ramin ilegal diidentifikasi di pabrik pulp APP Indah Kiat Perawang. Sejumlah 46 sampel kayu diambil dari beberapa kayu bulat ramin didokumentasi dalam pabrik pulp. Seorang ahli independenmemverifikasi sampel memang kayu ramin.
© Greenpeace

 

Selama setahun, sampel-sampel kecil kayu diambil dari serangkaian kayu yang diidentifikasi sebagai ramin dalam logyard MTH Indah Kiat Perawang. Sampel spesimen kayu ditempatkan di tas anti bongkar (tamper-proof), yang kemudian dikunci dengan segel keamanan dengan kode unik dari pembuatnya.

Sampel-sampel ini ini dikirim ke Institut Teknologi Kayu dan Biologi Kayu di vTI, di Jerman. Di laboratorium segel dibuka dan seorang ahli yang merupakan spesialis identifikasi kayu yang terdaftar dalam CITES kemudian menganalisis sampel kayu dari dalam tas untuk mengkonfirmasi identitas mereka sebagai ramin.

vTI, Institut Riset Pemerintah Federal Jerman untuk Daerah Pedesaan, Kehutanan dan Perikanan, adalah otoritas internasional dihormati untuk identifikasi sampel kayu. Salah satu perannya adalah untuk membantu pemerintah Jerman dengan penegakan peraturan perdagangan CITES melalui identifikasi jenis kayu.

Dari sampel yang dikumpulkan dari dalam logyard pabrik, spesialis kayu dari lembaga tersebut mengkonfirmasi ke-46 sampel adalah ramin.

Hal-hal pelengkap

Catatn kaki

[22] MoFor/ITTO (2005b): 5
[23] MoFor/ITTO (2005b): 4
[24] MoFor/ITTO (2005c): 3
[25] MoFor/ITTO (2005b): 4
[26] MoFor/ITTO (2005b): 5
[27] Garrett et al (2010)
[28] Eg personal communication with vTI staff, 2011

Tautan terkait

Ramin ilegal adalah bagian dari campuran kayu di Indah Kiat Perawang

Laboratorium pengujian independen dan dokumentasi video dalam logyard di pabrik pulp Indah Kiat Perawang mengekspos kehadiran ramin secara reguler dalam pasokan pulp APP – melanggar larangan ramin Indonesia dan peraturan CITES di Indonesia. Sebagai lembaga yang bertanggung jawab untuk menegakkan larangan ramin di Indonesia dan peraturan nasional CITES, Kementrian Kehutanan Indonesia harus memberlakukan sanksi terhadap APP.

Investigasi selama setahun terhadap rantai pasokan untuk APP mengungkapkan bahwa ramin ilegal secara rutin dicampur dengan spesies kayu hutan lainnya saat menunggu untuk dihancurkan menjadi pulp di pabrik pulp Indah Kiat Perawang.

Rekaman video yang mendokumentasi kayu ramin tersebut dikumpulkan antara Februari 2011 dan Januari 2012 dari dalam daerah yang dapat diakses dalam logyard yang luas di dalam kompleks sekitar pabrik pulp Indah Kiat Perawang.

Indah Kiat Perawang mill

 

Sampel kayu dikumpulkan dari sejumlah kayu bulat tersebut selama investigasi dan dikirim ke ahli yang diakui secara internasional untuk identifikasi independen.

Secara kesuluruhan, 46 dari sampel kayu yang dikumpulkan dari dalam logyard pabrik antara Februari dan Desember 2011 dikonfirmasi adalah ramin oleh ahli tersebut.[29]

Pada bulan Desember 2011, 13 sampel kayu tambahan dikumpulkan dari kayu bulat yang dicurigai berasal dari spesies dalam Daftar Merah Spesies Terancam Punah IUCN.[30] Hasil analisis ahli tersebut menunjukkan bahwa 10 dari sampel ini berasal dari genera spesies yang terancam punah dalam daftar merah IUCN, termasuk Shorea spp, Durio spp, Palaquium spp, dan Alstonia spp.[31]

Ringkasan temuan secara keseluruhan

Sejumlah 59 sampel kayu dikumpulkan dari dalam logyard pabrik dan dikirim untuk identifikasi: 46 diantaranya adalah ramin, 10 adalah genera Daftar Merah IUCN dan 3 lainnya adalah dari spesies lainnya.[32]

Mengekspos kehadiran reguler ramin dalam persediaan pulp

Kayu bulat ramin ilegal diidentifikasi dalam pabrik pulp APP Indah Kiat Perawang. Kulit ramin ditandai dengan serat halus dan rapuh.
© Greenpeace

 

Kompleks APP Perawang meliputi 2.400 ha[33] dan merupakan lokasi pabrik pulp Indah Kiat Perawang, serta pabrik kertas dan tisu utama. Pabrik-pabrik ini dikelilingi oleh logyard besar yang disusun menjadi jalur-jalur terpisah, untuk kayu MTH dan perkebunan.

Pada awal 2011, penilaian awal dalam kompleks Indah Kiat Perawang sebagai bagian dari investigasi suplai kayu pulp pabrik mendokumentasi ramin dalam salah satu logyard MTH.

Untuk mengkonfirmasi bahwa ini bukanlah sebuah contoh yang luar biasa, investigasi termasuk kunjungan berulang selama periode satu tahun ke wilayah yang dapat diakses dalam berbagai bagian logyard. Ini termasuk poin di mana log MTH pada awalnya diturunkan, ditimbun atau diangkut ke fasilitas chipping yang terdapat pada pabrik pulp. Dalam masing-masing sembilan bulan yang berbeda ketika bukti dikumpulkan dalam kompleks, kayu ramin diamati, mengkonfirmasi kehadiran reguler ramin dalam rantai pasokan MTH.

Video dokumentasi yang dikumpulkan selama investigasi menunjukkan:

  • Kayu ramin bulat mudah dikenali dan dibedakan dari spesies lain di logyard MTH.
  • Beberapa kayu ramin dapat ditemukan dalam jalur kayu MTH tertentu, seringkali berjarak hanya beberapa langkah satu sama lainnya, menunjukkan bahwa pasokan kayu pulp pabrik termasuk kayu dari penebangan tanpa diskriminasi habitat ramin. Jumlah kayu ramin dalam bagian-bagian tumpukan kayu pendek yang dapat diakses biasanya berkisar antara 10 sampai 17.
  • Kayu ramin dalam kisaran ukuran, termasuk kayu dewasa dengan diameter hingga 1 meter.
  • Sampel perwakilan dari kayu yang diidentifikasi sebagai ramin dikumpulkan dan dikirim untuk verifikasi independen. Sampelkayu ini dikumpulkan dari kayu yang berbeda dari daerah-daerah yang dapat diakses dalam logyard di kompleks pabrik dan disegel di dalam tas bukti anti bongkar.

Seorang ahli yang diakui secara internasional di Institute of Wood Technology and Wood Biologydi vTI, Universitas Hamburg di Jerman telah mengkonfirmasikan bahwa 46 sampel adalah ramin. Ini menunjukkan bahwa ramin yang mudah dikenali telah diidentifikasi dengan benar dalam investigasi.

Bukti kami membuktikan adanya ramin dalam persediaan kayu pulp MTH untuk Indah Kiat Perawang. Ini merupakan pelanggaran terhadap larangan ramin di Indonesia dan peraturan nasional CITES.

APP telah gagal untuk menegakkan kebijakan serat, meskipun peluangnya cukup

Komponen investigasi ini difokuskan pada tahap transit akhir dalam rantai pasokan kayu pulp Indah Kiat Perawang untuk, sebelum masuk ke fasilitas chipping pabrik pulp. Terlepas dari kenyataan bahwa ramin mudah dikenali, bukti kami menunjukkan kegagalan ‘Kebijakan Pengadaan Serat’ APP untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan CITES dan menghilangkan ramin ilegal di setiap tahap sepanjang rantai pasokan sebelum tiba di tempat penyimpanan MTH pabrik itu. Peluang untuk inspeksi visual untuk mengontrol rantai pasokan kayu pulp sebelum memasuki gerbang pabrik - yaitu, dari hutan ke logyard pabrik – akan mencakup:

  • Sebelum ditebang: dalam kawasan hutan sebelum ada pembukaan yang direncanakan.
  • Sebelum kayu meninggalkan konsesi penebangan: dalam tumpukan kayu operasi penebangan dan logyard.
  • Pada setiap titik di sepanjang pengiriman masuk ke pabrik: saat kargo dimuat ke truk atau tongkang menuju ke pabrik.
  • Sebelum memasuki logyard MTH pabrik itu: di stasiun pemeriksaan kayu sebelum memasuki gerbang pabrik atau di sebuah pos pemeriksaan setara di pelabuhan Indah Kiat Perawang di mana tongkang kayu dibongkar muatannya.

Sementara secara publik APP mengklaim memiliki proses verifikasi untuk tidak menyertakan kayu ilegal sebelum itu memasuki pabrik pulp, investigasi kami memperlihatkan bagaimana kegiatan pemeriksaan dokumen ini mengaburkan kenyataan bahwa kayu ramin ilegal memasuki rantai pasokan dari pabrik pulp terbesar APP, Indah Kiat Perawang.

Kasus untuk sanksi Kementrian Kehutanan terhadap APP

Pada saat pemerintah Indonesia mengusulkan ramin masuk ke daftar Appendix II CITES, meskipun diakui adanya pembukaan dan konversi habitat ramin sebagai masalah, pemerintah tidak mengidentifikasi adanya perdagangan nasional atau internasional pulp dan produk kertas yang terkait dengan pemanfaatan ramin dari pembukaan hutan ini. Pemerintah melaporkan bahwa ramin ditebang hanya untuk memasok sektor kayu.[34]

Namun, sebagaimana ditunjukkan dalam investigasi, salah satu habitat ramin penting - hutan rawa gambut di Sumatra - sedang ditebangi habis untuk memasok APP dengan kayu pulp MTH dan kayu ramin akhirnya masuk ke dalam pasokan kayu pulp untuk APP.

Peran kunci bagi Kementrian Kehutanan sebagai Otoritas Manajemen CITES, untuk menegakkan pelarangan penebangan dan perdagangan ramin dan untuk memastikan tidak ada ramin yang memasuki perdagangan internasional dan melanggar peraturan CITES.

Berdasarkan peraturan CITES Indonesia yang menerapkan Konvensi, salah satu perah dari Otoritas Manajemen CITES adalah mencegah perusahaan manapun dari menggunakan ramin ilegal, termasuk ekspor produk turunannya. Dalam hal APP, ini artinya mencegah kayu ramin ilegal dari penebangan habis habitat ramin tanpa pilih memasuki rantai pasokan pulp APP.

Pasokan kayu pulp MTH untuk Indah Kiat Perawang mengabaikan hukum

Operasi-operasi pulp dan kertas APP di Indonesia melayani pasar yang berorientasi ekspor, dimana Indah Kiat Perawang, pabrik pulp terbesar di Indonesia, adalah sumber utama bahan baku pulp. Pulp MTH dari pabrik ini digunakan oleh pabrik-pabrik kertas APP yang berorientasi ekspor di Indonesia dan Cina, yang akhirnya berdagang dengan 136 negara penandatangan CITES.[35]

Pabrik ini mengadakan bahan baku kayu MTHnya melalui Sinarmas Forestry dari serat kayu hutan hujan, termasuk pembukaan besar-besaran hutan lahan gambut. Dengan demikian, adanya serat MTH dalam produk jadinya adalah indikator risiko yang menunjukkan bahwa produk menggunakan serat dari penebangan tanpa pilih dari habitat ramin; pasokan kayu pulp ke Indah Kiat Perawang ini telah terdokumentasi menyertakan ramin ilegal.

Sementara serat MTH secara mudah diidentifikasi dalam produk kertas, isolasi dan identifikasi dari spesies yang dilindungi seperti ramin dalam campuran akan sulit dan seperti untung-untungan – karena laboratorium penguji melihat sampel sebesar 1 cm2.

Bagian berikutnya mendokumentasikan bagaimana serat MTH dari produksi pulp Indah Kiat Perawang yang masuk ke dalam perdagangan internasional dan mungkin terkait dengan produk APP diproduksi dan diperdagangkan di negara-negara utama CITES.

Catatan kaki

[29] Koch (2012)
[30] www.IUCNredlist.org
[31] Koch (2012) dan www.iucnredlist.org/apps/redlist/search
[32] 59 sampel dikumpulkan dari dalam kompleks pabrik antara bulan Februari dan Desember 2011. Kesemua 33 sampel dikumpulkan sejak Februarisampai Desember telah dikonfirmasi sebagai ramin. Pada bulan Desember, sejumlah 13 sampel tambahan dikonfirmasi sebagai ramin. 13 sampel tambahan dikumpulkan dari kayu bulat lainnya. Dari 13 sampel tersebut, 10 di antaranya genera terdaftar IUCN.
[33] APP (2011c): 27
[34] Pemerintah Indonesia (2004): 6
[35] Afghanistan, Albania, Aljazira, Argentina, Armenia, Australia, Austria, Azerbaijan, Bangladesh, Barbados, Belarus, Belgia, Benin, Brazil, Brunei Darussalam, Bulgaria, Burkina Faso, Kamboja, Kamerun, Kanada, Cile, Cina, Kolombia, Congo-Brazzaville, Costa Rica, Pantai Gading, Kroasia, Kuba, Cyprus, Republik Czech, Republik Demokrasi Congo, Denmark, Djibouti, Dominika, Republik Dominika, Ekuador, Mesir, El Salvador, Ethiopia, Fiji, Finlandia, Perancis, Gabon, Gambia, Georgia, Jerman, Ghana, Yunani, Guadeloupe, Guatemala, Guinea, Guyana, Honduras, Hongaria, India, Indonesia, Iran, Irlandia, Israel, Italia, Jamaica, Jepang, Jordania, Kazakhstan, Kenya, Kuwait, Republik Kyrgyz, Latvia, Liberia, Lithuania, Libia, Macedonia, Madagascar, Malaysia, Mali, Malta, Mauritania, Mauritius, Meksiko, Mongolia, Maroko, Mozambique, Myanmar, Nepal, Belanda, Selandia Baru, Nikaragua, Nigeria, Norwegia, Oman, Pakistan, Panama, Papua New Guinea, Paraguay, Peru, Filipina, Polandia, Portugis, Qatar, Rumania, Russia, Saint Lucia, Sao Tome & Principe, Saudi Arabia, Senegal, Serbia, Sierra Leone, Singapura, Republik Slovakia, Slovenia, Afrika Selatan, Spanyo, Sri Lanka, Sudan, Suriname, Swedia, Swiss, Republik Arab Suriah, Tanzania, Thailand, Togo, Trinidad dan Tobago, Tunisia, Turki, Uganda, Ukraina, Uni Emirat Arab, Inggris, Amerika Serikat, Uruguay, Uzbekistan, Venezuela, Vietnam, Yaman, Zambia dan Zimbabwe

Tag