Studi kasus: Bukit Tigapuluh

Halaman - 26 Februari, 2012
Bentang Hutan Bukit Tigapuluh di Sumatra bagian tengah adalah salah satu suaka terakhir untuk spesies terancam punah termasuk harimau Sumatra, dan perannya penting untuk masa depan orangutan Sumatra. Sementara sebagian dari Bentang Hutan ini dicanangkan untuk taman nasional, banyak habitat yang akan ditebangi dan terancam oleh SMG/APP.

 

APP menghancurkan habitat harimauMini map of Indonesia

Oops, something is broken!

For the cool interactive map, you need to install Adobe Flash Player. Sorry about that.
 

 

  • Bentang Hutan Bukit Tigapuluh adalah habitat yang sangat penting untuk kehidupan sejumlah spesies yang kritis terancam punah. Hutan ini juga lokasi Pusat pelepasliaran Orangutan Sumatra (Sumatran Orang-utan Reintroduction Centre) dan tempat tinggal hampir 10% semua harimau Sumatra di alam bebas.
  • Bentang Hutan Bukit Tigapuluh penting bagi dua kelompok masyarakat adat hutan: Orang Rimba dan Talang Mamak.
  • SMG/APP memperluas operasinya di Bentang Hutan Bukit Tigapuluh.

Hutan Bukit Tigapuluh adalah suaka Harimau Terakhir

Jambi: Bukit Tigapuluh adalah habitat kritis untuk harimau.

 

Harimau Sumatra di ambang kepunahan, antara lain diakibatkan oleh hilangnya habitat hutan. Diperkirakan terdapat sekitar 400 harimau Sumatra tersisa di alam bebas,[1] sekitar 30 ekor diperkirakan tinggal di Bentang Hutan Bukit Tigapuluh.[2] Wilayah ini begitu kritis untuk keberlangsungan hidup harimau di alam bebas, sehingga ditetapkan sebagai satu dari duapuluh Bentang Konservasi Harimau Prioritas Global.[3]

Harimau-harimau ini berbagi habitat dengan lebih dari 150 gajah Sumatra [4] dan 130 orangutan Sumatra yang telah direintroduksi ke alam bebas.[5] Bentang alam ini juga merupakan tempat tinggal masyarakat dari dua kelompok adat hutan: Orang Rimba dan Talang Mamak.[6]

Kurang dari sepertiga Bentang alam ini telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai taman nasional[7] Taman nasional secara prinsip meliputi wilayah dataran tinggi yang sulit diakses. Sebaliknya, gajah, harimau dan satwa liar lainnya secara umum hidup di hutan dataran rendah di luar taman nasional. Misalnya pada Mei 2011, WWF mengeluarkan gambar video dari jebakan kamera mereka yang menunjukkan 12 harimau termasuk anak-anak mereka di wilayah luar batas-batas taman nasional.[8] Hutan dataran rendah di luar taman nasional diidentifikasi sebagai habitat sangat baik untuk reintroduksi orangutan Sumatra ke alam bebas, sebuah program yang dimulai tahun 2002.[9]

Walau demikian, pemerintah telah membagi banyak hutan dataran rendah untuk dibuka untuk perkebunan hutan industri seperti untuk kayu pulp.[10] Hasilnya, perusahaan-perusahaan termasuk SMG/APP terus menargetkan dan secara aktif menebang habis hutan Sumatra yang paling penting untuk keberlangsungan satwa liar yang secara kritis terancam kepunahan.

Selanjutnya, sejak tahun 2007 SMG/APP telah membuka jalan logging membelah wilayah hutan ini untuk membawa kayu-kayu dari konsesi mereka ke pabrik-pabrik pulp.[11] Jalan ini membentang dari barat laut sampai tenggara, persis bersebelahan dengan batas taman nasional.

Pencurian satwa liar di wilayah sekitar taman nasional meningkat tajam setelah jalan logging SMG/APP membuka akses ke wilayah ini, menurut data yang dikumpulkan antara lain oleh Frankfurt Zoological Society (FZS).[12] Di beberapa tempat, jalan logging melintasi hanya beberapa kilometer dari batas taman nasional, dan koalisi ini telah mendokumentasikan beberapa kejadian pencurian yang persis di batas taman nasional.[13]

Hal-hal pelengkap

Catatan kaki

[1] WWF (2011)
[2] KKI Warsi / Frankfurt Zoological Society / Eyes on the Forest / WWF-Indonesia (2010): 8 mengutip Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Kabupaten Tebo, Kabupaten Tanjabar, Kabupaten INHIL, Kabupaten INHU, Frankfurt Zoological Society, WWF, Warsi, ZSL, PKHS (2009)
[3] Bentang Alam Konservasi Harimau Prioritas Global (Global Priority Tiger Conservation Landscapes) adalah habitat yang dapat mendukung setidaknya 100 harimau dimana terdapat bukti perkembangbiakan. Sumber: Dinerstein et al (2006).
[4] KKI Warsi / Frankfurt Zoological Society / Eyes on the Forest / WWF-Indonesia (2010): 8 mengutip MoFor (2007a); Moßbrucker (2009)
[5] KKI Warsi / Frankfurt Zoological Society / Eyes on the Forest / WWF-Indonesia (2010): 8, sejak 1 September 2010
[6] eg KKI Warsi / Frankfurt Zoological Society / Eyes on the Forest / WWF-Indonesia (2010): 12
[7] Bentang Hutan Bukit Tigapuluh terdiri dari hampir 508.000 hektar hutan bersambungan di dataran rendah dan pegunungan. Sumber: Website Kemenhut, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/bukit30_NP.htm
[8] WWF (2011). Lihat http://gvn.panda.org/?r=3138&k=d4fe799aad
[9] Perth Zoo website. Populasi orangutan yang dibangun kembali sekarang menempati banyak bagian bentang alam Bukit Tigapuluh, terutama di zona pengangga selatan. Sumber: GRASP (2009).
[10] Berdasarkan analisis Unit Pemetaan Greenpeace akan peta-peta Tataguna lahan Kementrian Kehutanan. Sumber: Kemenhut (2010d).
[11] APP (2009b): 4, lihat juga KKI Warsi / Frankfurt Zoological Society / Eyes on the Forest / WWF-Indonesia (2010): 26 dan investigasi Greenpeace 2010.
[12] KKI Warsi / Frankfurt Zoological Society / Eyes on the Forest / WWF-Indonesia (2010): 27 Peta 14.
[13] KKI Warsi / Frankfurt Zoological Society / Eyes on the Forest / WWF-Indonesia (2010): 27 Peta 14

Tautan terkait

APP Menghancurkan habitat satwa liar

Jambi, 2010: Truk logging di jalan yang dibangun untuk mengangkut kayu ke pabrik pulp APP.

Dokumen rahasia SMG/APP 2007[14] yang diperoleh Greenpeace menunjukkan bahwa kelompok ini menargetkan sepuluh wilayah hutan untuk ekspansi dalam Bentang Hutan Bukit Tigapuluh, berbatasan dengan Taman Nasional.

Pada tahun 2011, para pemasok SMG/APP mendapatkan izin atau izin prinsip pada setidaknya empat konsesi kayu pulp.[15]

According to Greenpeace mapping analysis, between 2007 and 2011 SMG/APP has added 69,500 hectares inside the Bukit Tigapuluh Forest Landscape to its pulpwood supply areas.[16] Two thirds of the area was forested in 2006.[17]

Investigasi Greenpeace mendokumentasi kehilangan pesat hutan hujan dan pembangunan perkebunan setelah tahun 2006 dalam konsesi SMG/APP yang baru-baru ini diperoleh di ujung barat laut dari Bentang Hutan Bukit Tigapuluh.

Pada bulan Juli 2010, bukti dokumenter yang dirilis Greenpeace mengenai penebangan aktif di bagian barat laut Bentang Hutan Bukit Tigapuluh oleh pemasok SMG/APP, PT Artelindo Wiratama. Konsesi yang telah ditentukan oleh SMG/APP sebagai target ekspansi dalam dokumen internal 2007, dan investigasi lapangan mendokumentasikan kayu gelondongan ditransportasikan kilang APP Indah Kiat di Riau. Konsesi ini tertulis dalam dokumen pemerintah sebagai pemasok Indah Kiat di tahun 2009. Pada bulan Agustus 2010, pemantauan udara Greenpeace mendokumentasi penebangan yang berlangsung di wilayah PT Artelindo Wiratama.

Konsesi dekat PT Tebo Multiagro adalah pemasok SMG/APP lainnya.[22] Pada tahun 2006, lebih dari dua pertiga wilayah ini berhutan, menurut data Kementrian Kehutanan.[23] Pada bulan Agustus 2010, pemantauan udara Greenpeace menunjukkan wilayah luas yang baru-baru ditanami, serta penebangan yang berlangsung di bagian barat konsesi.

Hal-hal pelengkap

Catatan kaki

[14] Sinarmas Forestry (2007)
[15] PT Artelindo Wiratama, PT Rimba Hutani Mas PT Tebo Multi Agro dan PT Wirakarya Sakti. Tiga konsesi yang ada telah ditargetkan oleh SMF untuk ekspansi, tapi apakah pengambil alihan telah dirampungkan tidak diketahui (ini adalah PT Arangan Lestari, PT Wana Mukti Wisesa dan PT Wana Teladan). APP (2009b); lihat juga Chundawat et al (2008).
[16] PT Artelindo Wiratama (10.470ha) + PT Rimba Hutani Mas (total wilayah 52.000ha, dengan 39.300ha dalam bentang alam BTP) + PT Tebo Multi Agro (19.770ha) = 69.531ha.
[17] Analisis pemetaan Greenpeace 2011
[18] Informasi lebih rinci mengenai pengadaan APP dari wilayah ini dapat ditemukan dalam Greenpeace (2010): 16-17
[19] Sinarmas Forestry (2007)
[20] Investigasi Greenpeace Maret 2010
[21] Kemenhut (2009b)
[22] Sinarmas Forestry (2007) dan WWF (2008): 8 (lihat foto)
[23] Kemenhut (2009a)

Tautan terkait

Investigasi Greenpeace Menguak Bagaimana APP Menargetkan Habitat Satwa Liar

Riau, 2009: Orangutan Sumatra dalam suaka di mana mereka siap untuk dilepas ke alam bebas
© Rose/Greenpeace

Dokumen rahasia SMG/APP tahun 2007[24] yang diperoleh Greenpeace menunjukkan wilayah-wilayah yang ditargetkan kelompok ini untuk ekspansi yang berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

Wilayah ini termasuk 31.000 hektar wilayah ex-HPH PT Dalek Hutani Esa, dimana – dengan dukungan Kementrian Kehutanan Indonesia – FZS telah membangun stasiun lapangan pada tahun 2002 dan memulai program reintroduksi orangutan ke alam bebas.[25] Hutan dataran rendah telah diidentifikasi sebagai habitat yang cocok dan memberikan orangutan kesempatan paling baik yang memungkinkan untuk berkembang biak, dan membangun keluarga-keluarga baru.[26] Pada tahun 2010, koalisi organisasi konservasi termasuk FZS juga memetakan kehadiran satwa liar yang terancam punah di wilayah ini, termasuk harimau, gajah dan tapir.[27]

Menurut dokumen Kementrian Kehutanan, pada tahun 2009 PT Rimba Hutani Mas – pemasok SMG/APP – telah mendapatkan izin [28] prinsip untuk ekspansi di wilayah Bentang Alam Bukit Tigapuluh. Ex-HPH PT Dalek Hutani Esa disebutkan dalam dokumen[29] rahasia perusahaan 2007 sebagai salah satu wilayah target. Peta Kementrian Kehutanan menunjukkan bahwa sejak 2011 wilayah konsesi ini sekarang mendapatkan izin penuh untuk pengembangan perkebunan kayu pulp.[30]

Jambi, 2009: Seorang perempuan Orang Rimba di daerah perkebunan SMG/APP.
© Beltra/Greenpeace

 

Analisis pemetaan Greenpeace menunjukkan bahwa pada tahun 2006 sekitar separuh dari konsesi ini adalah hutan habitat harimau.[31] Hutan dalam wilayah konsesi ini beririsan dengan wilayah yang disebutkan pada tahun 2009 dan 2010 sebagai pendukung hidup masyarakat pemburu dan pengumpul hasil hutan, yaitu masyarakat Orang Rimba dan Talang Mamak.[32]

Pada bulan Agustus 2010, pemantauan udara Greenpeace mendokumentasikan hutan hujan yang tersisa dalam konsesi PT Rimba Hutani Mas di wilayah dekat stasiun lapangan FZS antara jalan logging dan Taman Nasional.

Hal-hal pelengkap

Catatan kaki

[24] Sinarmas Forestry (2007)
[25] Misalnya KKI Warsi / Frankfurt Zoological Society / Eyes on the Forest / WWF-Indonesia (2010): 16
[26] Prietje et al (2009)
[27] Lihat KKI Warsi / Frankfurt Zoological Society / Eyes on the Forest / WWF-Indonesia (2010): 9 Peta 2
[28] Peraturan Menteri Kehutanan No. 777/Menhut-IV/2008
[29] Sinarmas Forestry (2007)
[30] Kemenhut (2011)
[31] Analisis Pemetaan 2011
[32] Cara hidup masyarakat ini bergantung pada berlangsungnya kesehatan hutan dataran rendah Bukit Tigapuluh dan keanekaragaman hayati yang didukungnya; deforestasi mengabaikan kepentingan masyarakat hutan ini. Survei Frankfurt Zoological Society pada tahun 2009 menemukan 42 keluarga Talang Mamak (dengan 165 jiwa) yang hidup dalam konsesi afiliasi APP/SMG yaitu PT Rimba Hutani Mas (ex-HPH PT Dalek Hutani Esa), yang bersebelahan dengan PT Lestari Asri Jaya. Sumber: KKI Warsi / Frankfurt Zoological Society / Eyes on the Forest / WWF-Indonesia (2010) mengutip Presentasi ‘Aliansi NGO untuk Ekosistem B30’ oleh KKI Warsi, FZS, PKHS, ZSL dan WWF, 2009. Populasi Orang Rimba di ekosistem Bukit Tigapuluh berjumlah 551 orang, terbagi menjadi 15 kelompok yang tersebar di Hutan Produksi sebelah selatan taman nasional, yaitu wilayah konsesi ex-PT IFA dan ex-PT Dalek Hutani Esa. Sumber: KKI Warsi / Frankfurt Zoological Society / Eyes on the Forest / WWF-Indonesia (2010): 12 mengutip survei KKI WARSI, April-Juni 2010.

Kategori
Tag