Konsumen sektor mainan APP

Halaman - 26 Februari, 2012
Sektor mainan menggunakan banyak kemasan mewah. Uji forensik menunjukkan bahwa kemasan yang digunakan banyak merk terkemuka mengandung serat dari hutan hujan Indonesia. Investigasi Greenpeace Internasional juga memperoleh kaitan antara merk mainan terkemuka ini dengan APP, perusahaan pulp dan kertas terbesar dan sangat terkenal yang beroperasi di Indonesia.

Toy sector graphic

  • Uji forensik menunjukkan penggunaan reguler serat kayu hutan alam tropis (MTH) dalam kemasan merk mainan terkemuka yang diproduksi di Cina atau Indonesia.
  • Bukti lacak balak (chain-of-custody) di Cina dan Indonesia menunjukkan bahwa APP adalah pemasok penting bagi bahan pengemasan merk-merk mainan ternama.
  • Hutan hutan Indonesia sedang dibabat habis untuk memproduksi pulp APP, yang dipasok ke sektor pengemasan di Indonesia dan Cina.

Ulasan Sektor Mainan

2011: Kemasan mainan bermerek Mattel berisi kayu keras tropis campuran (serat hutan hujan).

 

Anak perusahaan grup konglomerat Sinar Mas, Asia Pulp & Paper (APP)[1] secara umum adalah perusahaan kertas tak bernama (anonymous), walaupun mereka mengaku sebagai salah satu dari tiga produser pulp dan kertas teratas dunia. Produksi pulp utama APP berada di Indonesia.[2] Seperlima dari kayu hutan alam tropis campuran (mixed tropical hardwood, MTH) dari hasil penebangan habis hutan dan hutan gambut Indonesia dilebur dalam kilang-kilang APP.[3] Hilangnya hutan ini mendorong banyak spesies yang terancam punah lebih cepat menuju kepunahan serta penyebab perubahan iklim. Dalam tahun 2008, Staples - perusahaan produk alat kantor terbesar dunia[4] - menyatakan bila mereka tetap menjadi pelanggan APP akan 'sangat membahayakan merk kami'.[5]

Riau, 2010: Pembukaan hutan rawa gambut aktif di PT BDL, konsesi yang terkait dengan APP.

 

Menurut data terakhir, Cina telah melampaui AS sebagai produsen kertas dan papan dunia menurut volume.[6] Produksi kemasan merupakan 60% dari jumlah ini.[7] Sementara sektor ini juga menggunakan sejumlah besar pulp daur ulang, mereka tetap membuat sangat banyak serat kayu baru.[8]

Basis produksi utama APP untuk kertas dan pengemasan adalah Cina, dimana mereka mencirikan diri sebagai 'Pemasok Produk Kertas Berkualitas Tinggi'.[9] Cina adalah pasar kedua terbesar setelah Amerika Serikat untuk kemasan mewah.[10] APP menggunakan serat kayu baru untuk materi kemasan berkualitas tinggi.

Riau, 2010: Pembukaan hutan hujan habitat harimau baru-baru ini oleh pemasok APP di daerah Bukit Tigapuluh.

 

Sektor-sektor kunci untuk kemasan antara lain adalah makanan, minuman, farmasi, produk rumahtangga, dan barang pribadi serta peralatan listrik.[11] APP merupakan risiko bagi merk-merk dalam sektor ini, dengan mengaitkan mereka melalui rantai pasokan kertas dan kemasan dengan penghancuran hutan hujan Indonesia.

Sektor mainan adalah contoh yang paling nyata dari merk-merk konsumen yang menggunakan banyak kemasan mewah. Angka-angka APP yang tersedia di ranah publik tidak memungkinkan untuk menghitung seberapa penting sektor mainan untuk kelompok bisnis ini. Walau demikian, lebih dari separuh materi kemasan APP diproduksi di Cina, terutama oleh dua kilang APP di Propinsi Ningbo, Zhejiang. Propinsi ini juga merupakan lokasi banyak percetakan yang menyediakan jasa untuk kemasan sektor mainan.

Tidak seperti perusahaan-perusahaan progresif seperti halnya Unilever atau Nestle, pemain utama dalam sektor mainan tampaknya awam akan risiko kaitan merk mereka dengan deforestasi.

Hal-hal pelengkap

Catatan kaki

[1]APP secara formal tidak ada. Ia merupakan kelompok perusahaan Sinar Mas yang beroperasi di sektor pulp & kertas. PT Purinusa Ekapersada adalah pemegang saham terbesar di PT Indah Kiat, PT Pindo Deli, PT Lontar Papyrus dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia. PT Purinusa Ekapersada menguasai 52,7% saham PT Indah Kiat. Sumber:  Indah Kiat (2009): 48. PT Purinusa Ekapersada menguasai 97,73% saham PT Pindo Deli. Sumber: PT Pindo Deli (2010): 56. PT Purinusa Ekapersada menguasai PT Lontar Papyrus melalui PT Pindo Deli (lihat atas), yang menguasai 99,79% saham PT Lontar Papyrus. Sumber: Lontar Papyrus (2010): 33. PT Purinusa Ekapersada menguasai 59,6% saham Tjiwi Kimia. Sumber: Tjiwi Kimia (2010): 53
[2] APP (2009a). Lihat juga Tempo Interaktif (2010)
[3] % pada tahun 2007, menurut APP (2009a). Perhitungan Greenpeace berdasarkan data pemerintah Indonesia juga menghasilkan 20% pada tahun 2009. Sumber: Dephut (2010a).
[4] Website Staples
[5] Wall St Journal (2008)
[6] WRAP (2011): 5. Sumber-sumber yang digunakan oleh WRAP adalah China Paper Association, RISI, HMRC dan estimasi WRAP.
[7] WRAP (2011): 5
[8] WRAP (2011): 5
[9] Website APP
[10] Menurut Pira (2011), Cina adalah pasar kemasan mewah utama di wilayah Asia Pasifik dan pasar kedua terbesar dunia setelah AS. Kemasan mewah didefinisikan dalam studi ini sebagai kemasan primer dan sekunder termasuk tutup dan segel, yang digunakan khususnya untuk barang-barang berharga premium dalam sektor barang konsumen.
[11] Freedonia (2010) and Datamonitor PLC (2009))

Bukti Forensik mengaitkan sektor mainan pada penghancuran hutan Indonesia

Laporan forensik Barbie Fashionista. Sampel laporan forensik dari laboratorium pengujian IPS menganalisis kandungan spesies pada lapisan atas sampel kemasan, termasuk Barbie Fashionistas. Gambar (a) adalah surat pengantar yang ditandatangani. Gambar (b) Tabel 4 adalah hasil ringkasan untuk Barbie Fashionistas, mengkonfirmasi adanya MTH dalam sampel. Gambar (c) Tabel 7 adalah rincian dari hasil pengujian untuk Barbie: kurang lebih 74% dari komponen kayu keras dari sampel kemasan MTH menurut berat, dari setidaknya 10 jenis pohon yang berbeda. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa 70% dari sampel adalah kayu keras. Oleh karena itu, sekitar 50% dari sampel keseluruhan adalah MTH, yaitu serat hutan hujan.

 

Indonesia adalah satu-satunya produsen skala besar pulp MTH (kayu hutan alam tropis campuran) dan akasia.[12] Di Indonesia sendiri terdapat hanya dua produsen skala besar pulp MTH, yaitu APP dan APRIL.[13] APRIL tidak memproduksi materi kemasan di Indonesia,[14] yang artinya APP adalah produsen utama materi kemasan dengan kandungan MTH.

Di Cina, hanya terdapat tiga jalur nyata bagaimana MTH bisa muncul dalam produk kemasan: pertama, melalui impor papan kemasan dari Indonesia, dimana APP merupakan produsen utama; kedua, melalui impor pulp MTH dari APP atau APRIL yang kemudian diproduksi menjadi materi kemasan di Cina; dan ketiga, melalui impor kayu serpih dari pembukaan hutan hujan di Indonesia yang kemudian dilebur dan dijadikan materi kemasan di Cina.

APP adalah produsen terbesar kertas dan kemasan di Cina.[15]

Dua pertiga produksi pulp APP di Cina pada tahun 2009 bergantung pada kayu impor,[16] termasuk dari Indonesia. Selanjutnya, APP Cina mengimpor hampir sepertiga kebutuhan pulp mereka,[17] termasuk dari Indonesia. Bila diketahui bahwa materi APP Cina mengandung MTH, secara logis dapat dikatakan bahwa ini diimpor dari APP Indonesia.[18] Tidak seperti perusahaan-perusahaan pulp lainnya, APP tidak mengiklankan produksi pulp mereka untuk dijual ke pasar bebas atau di website mereka.[19]

APP mengadakan kayu hutan alam tropis campuran (MTH) untuk memproduksi pulp baru (bukan daur ulang) berkualitas tinggi untuk dibuat kertas fotokopi, kertas tisu, kemasan dan materi cetakan mewah (glossy).[20] Faktanya, diperkirakan 20% dari serat yang masuk ke kilang-kilang pulp perusahaan ini berasal dari pembukaan hutan alam.[21] Sisanya berasal dari perkebunan - sebagian besar akasia.

Investigasi Greenpeace bertujuan untuk mengidentifikasi konsumen korporat dalam sektor mainan yang menggunakan produk kemasan buatan Cina atau Indonesia dan kaitannya dengan pengrusakan hutan hutan serta kaitannya dengan APP. . Langkah-langkah kunci dalam investigasi Greenpeace adalah sebagai berikut:

  1. Greenpeace mengidentifikasi serangkaian merk mainan utama di sejumlah negara di dunia.
  2. Greenpeace mengirim contoh materi kemasan ke IPS, otoritas global untuk pengujian produk kertas, yang secara luas digunakan oleh sektor kertas.[22]
  3. Seorang ahli IPS menyiapkan dan menguji contoh-contoh kemasan dengan mikroskop forensik untuk mengidentifikasi spesies kayu yang digunakan.
  4. Dalam sebagian besar kasus, kandungan serat kayu baru dari lapisan mewah dari papan kemasan yang diuji untuk menentukan besar kandungan MTH - kayu hutan alam tropis campuran - atau serat akasia dalam kemasan.[23]
  5. Adanya MTH atau akasia secara kuat mengindikasikan bahwa serat pulp tersebut berasal dari Indonesia.[24]

IPS telah mengkonfirmasi ditemukannya MTH dan akasia dalam rangkaian contoh yang diuji.[25] Bukti forensik ini mengaitkan pemain-pemain utama dalam sektor mainan dengan pengrusakan hutan hujan Indonesia.

Setelah ditemukannya kaitan antara kemasan yang digunakan oleh beberapa merk mainan terkemuka dengan pengrusakan hutan hujan Indonesia, investigasi Greenpeace berusaha untuk mengkonfirmasi kaitan dagang dengan APP.

 

Hal-hal pelengkap

Catatan kaki

[12] Lihat misalnya: Pihlajamäki & Hytonen (2004). Para penulis bekerja di konsultan spesialis industry pulp dan kertas Jaakko Pöyry
[13] Kedua perusahaan memproduksi pulp dalam jumlah besar, Kertas Nusantara (ex Kiani Kertas) dan PT Tanjung Enim Lestari, hanya menggunakan serat akasia. Lihat Pirard & Cossalter (2006).
[14] APRIL (2009).APRIL memproduksi papan kertasnya di kilang mereka SSYMB di Cina.
[15] APP (2009a): 6
[16] APP (2010): 36
[17] APP (2010): 36. Data bea cukai resmi Cina menunjukkan bahwa kilang papan kertas APP Cina mengimpor pulp Indonesia. Sumber: Informasi Perdagangan Impor & Ekspor Bea Cukai Cina (CTI) (2010). Data perdagangan rahasia yang diperoleh Greenpeace menunjukkan bahwa kilang pulp APP di Perawang, Riau adalah eksportir pulp di Cina. Sumber: Data rahasia 2010, salinan dimiliki oleh Greenpeace Internasional.
[18] Hanya APP dan APRIL yang memproduksi pulp MTH di Indonesia. Keduanya mengekspor pulp ke Cina. Kedua perusahaan memiliki kilang di Cina. Namun sangat kecil kemungkinannya bila APP Cina membeli dari saingan mereka APRIL
[19] Lihat APP website
[20] Lihat APP website
[21] % pada tahun 2007, menurut APP (2009a). Perhitungan Greenpeace berdasarkan data pemerintah Indonesia mendapatkan hasil sama 20% untuk 2009. Sumber: Kemenhut (2010a).
 [22] Integrated Paper Services (IPS)
[23] Mengikuti standar industri TAPPI T401
[24] Jika sebuah produk mengandung kayu rimba campuran (MTH), artinya produk tersebut berasal dari Indonesia. Negara lain dengan hutan tropis tidak menebang habis dan membubur hutan mereka dalam skala perdagangan komersial. Pulp akasia juga hampir eksklusif berasal dari Indonesia. Di wilayah tropis lain, eucalyptus adalah spesies utama yang ditanam di perkebunan kayu pulp
[25]Hasil uji IPS 2010–2011. Salinan dimiliki oleh Greenpeace

Tautan terkait

Investigasi Greenpeace menemukan kaitan sektor mainan dengan APP

Kemasan mainan bermerek Mattel mengandung MTH (serat hutan hujan), dicetak oleh Sansico.

 

Banyak merk terkemuka dalam sektor mainan diproduksi di Cina dan Indonesia dan dijual dengan banyak kemasan mewah.

Tidak ada di antara produsen mainan besar seperti Mattel, Disney, Hasbro dan LEGO memiliki kebijakan perusahaan yang memastikan mereka dan pemasok pihak ketiga atau pemegang lisensi tidak berkontribusi pada pengrusakan hutan hutan dunia yang tersisa.[26]

Greenpeace melakukan investigasi untuk menentukan adanya kaitan dagang di Indonesia dan Cina antara APP dan pemain utama dalam sektor mainan.

Langkah-langkah kunci dalam investigasi adalah:

  1. Greenpeace menentukan beberapa produk mainan dari merk-merk ternama dan teremuka dari sejumlah negara di dunia.
  2. Greenpeace mengidentifikasi dan menginvestigasi percetakan dan pabrik kemasan dari kemasan terkait, bila memungkinkan.
  3. Greenpeace mengidentifikasi industri penggunan produk APP melalui data perdagangan, materi publikasi dan sumber-sumber rahasia.

Hasil investigasi menunjukkan bahwa kemasan untuk produk bermerk Mattel, Disney, LEGO dan Hasbro menggunakan kertas APP.

Investigasi ini hanya puncak gunung es dalam hal menguak skala potensi kaitan perdagangan di Indonesia dan Cina antara sektor mainan dan APP, serta dampaknya terhadap hutan hujan Indonesia.

Sebagian besar produk konsumen dijual dengan kemasan. Tanpa adanya kebijakan pengadaan korporat yang kuat, perusahaan atau merk apa saja yang mengadakan produk kertasnya dari Cina dan Indonesia berisiko dikaitkan dengan APP dan turut mendorong pengrusakan hutan hujan Indonesia.

Hal-hal pelengkap

Catatan kaki

[26] Greenpeace mempelajari kebijakan pengadaan dan lingkungan yang tersedia di ranah publik dari Mattel, Disney, LEGO, Hasbro serta lainnya

Kategori
Tag