Pelanggan APP: Disney

Halaman - 26 Februari, 2012
Hasil uji forensik menunjukkan bahwa serangkaian luas produk kertas dan kemasan yang bermerk Disney secara reguler mengandung bahan kayu dari hutan hujan Indonesia Di Indonesia, Mattel memproduksi serangkaian luas boneka busana bermerk Disney. Mattel dipasok oleh APP, sebuah kelompok dimana dari investigasi Greenpeace terbukti terus menerus terbukti menghancurkan hutan hujan habitat dari satwa yang sangat terancam punah dan juga terlibat dengan pengrusakan lahan gambut berskala besar.

 Disney graphic

  • Kesepakatan lisensi Disney berlaku untuk semua perusahaan yang memproduksi produk yang menggunakan merk Disney. Walau demikian, kesepakatan ini tidak mensyaratkan tidak digunakannya kayu yang berasal dari hutan hujan.
  • Mattel memproduksi serangkaian luas boneka busana Princess bermerk Disney, termasuk Snow White, Cinderella, Rapunzel dan boneka Sleeping Beauty, pada pabrik yang sama yang membuat Barbie.
  • Bukti-bukti Greenpeace menunjukkan bahwa Mattel Indonesia menggunakan kayu yang berasal dari hutan hujan Indonesia untuk kemasan produk bermerk Disney.
  • Investigasi Greenpeace menunjukkan bahwa APP memasok papan kemasan untuk produk Disney yang diproduksi oleh Mattel.

Disney adalah merk lisensi nomor satu

2011: Kemasan bermerek Disney ditemukan mengandung kayu keras tropis campuran (MTH) (serat hutan hujan).

 

Disney adalah 'pemberi lisensi [produk] terbesar dunia dengan hasil penjualan eceran global sebesar $27 milyar pada tahun 2009'.[1]

Disney adalah perusahaan publik, terdaftar pada Bursa Efek New York, dengan kantor pusatnya di Burbank, California, USA.[2] Perusahaan yang dibentuk tahun 1923 sebagai studio kartun, saat ini telah berkembang menjadi bisnis hiburan multinasional.[3]

Total penjualan Disney tahun 2010 mencapai US$ 38,1 milyar (€28,2 milyar).[4] Sementara divisi produk konsumennya hanya merupakan 7% dari penjualan,[5] perusahaan saat ini bekerja sama dengan para pengecer utamanya untuk bergeser dari 'model bisnis lisensi' menjadi 'perusahaan produk konsumen':[6] yang bercita-cita untuk mengembangkan pemasaran produknya.

'Produk bermerk Disney terinspirasi film-film animasi Disney yang sangat dicintai, termasuk film pertama - Snow White and the Seven Dwarfs - sampai film-film terbaru seperti The Princess and the Frog serta Toy Story dan Cars dari Disney Pixar'[7]

'Disney Princess telah menjadi merk gaya hidup yang kuat dan menyumbang $4 milyar dari penjualan eceran global, menyentuh tiap aspek kehidupan anak-anak perempuan di seluruh dunia.'[8]

Kebijakan kertas

'Konservasi alam adalah prioritas utama Disney.'[9]

Disney telah menyurati Greenpeace mengakui perannya dalam mengurangi deforestasi,[10] dan telah memberlakukan kebijakan pembelian yang berlaku pada sebagian dari pembuatan produksi langsungnya.

Produksi sendiri

'Disney bertujuan untuk mendapatkan 100% dari kertas yang dipasok untuk produk dan kemasan oleh bisnis non-lisensinya dari sumber berkelanjutan. Kertas yang dipasok akan memuat kandungan daur ulang, dipasok dari hutan bersertifikat, atau yang sumber asalnya diketahu.'[11]

Kebijakan lemah ini tidak memastikan bahwa Disney tidak berdagang dengan dengan perusahaan-perusahaan yang terlibat deforestasi. Dengan 'mengetahui sumber asalnya' artinya bahwa 'pembeli telah diberitahu di mana kayu tumbuh dan telah dipastikan bahwa asalnya bukan dari tempat yang tidak diinginkan (misalnya ditebang secara ilegal)'.[12]

Produk yang diproduksi oleh pihak ketiga atau pemegang lisensi

'Sebagian besar produk bermerk Disney diproduksi dan dijual di bawah lisensi yang diberikan oleh Disney kepada pihak ketiga.'[13]

Secara teori, kode perilaku (code of conduct) Disney berlaku untuk semua produsen produk-produk Disney, termasuk barang-barang yang diproduksi pihak ketiga dan pemegang lisensi.[14] 'Perusahaan-perusahaan yang membuat produk bermerk Disney harus menandatangani kontrak yang menyatakan bahwa mereka tidak sedang dan tidak akan mempekerjakan buruh di bawah umur,[15] misalnya. Namun di bawah judul 'Perlindungan Lingkungan', kode ini hanya mensyaratkan produsen untuk 'mematuhi semua peraturan dan perundang-undangan lingkungan yang berlaku'.[16] Selanjutnya, kebijakan kertas Disney[17] hanya berlaku untuk sejumlah produk terbatas yang diproduksi sendiri. Persyaratan ini tidak diberlakukan pada lebih dari 3.700 pemegang lisensinya[18] untuk menghindarkan mereka dari berdagang dengan perusahaan-perusahaan yang terlibat deforestasi.

Hal-hal pelengkap

Catatan kaki

[1] Disney (2010)
[2] Disney (2011a)
[3] Disney (2011a)
[4] Disney (2011a): 28
[5] Disney (2011a): 30
[6] Disney (2010)
[7] Disney (2010)
[8] Disney (2010)
[9] Disney (2011b)
[10] Stevens (2011)
[11] Disney (2011b)
[12] Disney (2011b)
[13] Disney (2011b)
[14] Website Perusahaan Walt Disney: 'Corporate Citizenship - Labor Standards - Code of Conduct for Manufacturers'
[15] Website Perusahaan Walt Disney:: 'Corporate Citizenship - Labor Standards - FAQ'
[16] Website Perusahaan Walt Disney:'Corporate Citizenship - Labor Standards - Code of Conduct for Manufacturers' .Lihat juga website The Walt Disney Company website ‘Corporate Citizenship - Labor Standards - FAQ’: http://corporate.disney.go.com/citizenship/faq.html; misalnya ‘Sebagai syarat berbisnis dengan Disney’ perusahaan ini mensyaratkan ‘para pemegang lisensi dan vendor untuk mengidentifikasi pabrik dimana mereka berniat untuk memasok produk bermerk Disney’..[17] Disney (2011b)[18] Disney (2011b)

Hasil bukti Forensik mengaitkan Disney pada perusakan hutan alam Indonesia

Kemasan bermerek Disney ditemukan mengandung MTH (serat hutan hujan) dan dicetak oleh Sansico.

 

Hasil uji forensik ahli menunjukkan bahwa MTH secara reguler ditemukan dalam serangkaian luas produk kemasan dan kertas bermerk Disney.[19] Hal ini membuktikan bahwa Disney berperan dalam pengrusakan hutan hujan Indonesia.

 

Hal-hal pelengkap

Catatan kaki

[19] Hasil tes IPS 2010-2011. Salinan dipegang oleh Greenpeace
[20] Hasil tes IPS 2010-2011. Salinan dipegang oleh Greenpeace

Barang-barang bermerek Disney yang mengandung MTH

Pengumpulan bukti oleh Greenpeace akan produk kemasan dan kertas bermerk Disney terbukti mengandung MTH:[20]

Nomor Sampel Negara Pembelian Merk/Produk Kode Produk Perusahaan Kemasan dan Percetakan Adanya MTH dalam sampel uji Adanya akasia dalam sampel uji
21 Britania Raya Boneka Sleeping Beauty R4855 - ya ya
22 Britania Raya High School Musical 3 doll N6880 - ya ya
23 Britania Raya Boneka Cinderella R4854 - ya ya
24 Britania Raya Snow White doll R4858 - ya ya
25 Britania Raya Princess Doll Belle doll R4842 Sansico ya ya
26 Britania Raya Rapunzel doll T3244 - ya ya
27 Britania Raya Boneka Rapunzel (hanya kertas intruksi) T2579 - ya ya
28 Jerman Princess Belle / Bath Beauty R4870 Sansico ya ya
29 Brasil Boneka Princess Ballerina Cinderella R4304 - ya ya
30 Jerman Kartu Permainan UNO Winnie the Pooh Uno   - ya ya
             

Investigasi Greenpeace menunjukkan kaitan Disney dengan APP

Kartu UNO bermerek Disney dibuat oleh Mattel.

Disney Princess brand 'Made in Indonesia'[21]

Merk Disney Princess 'Made in Indonesia'[21]

Greenpeace telah mengidentifikasi bahwa Mattel memproduksi boneka-boneka busana bermerk Disney Princess dan High School Musical di Indonesia. Boneka-boneka khas ini, termasuk Snow White, Cinderella, Rapunzel dan Sleeping Beauty, diproduksi pada pabrik Mattel Indonesia yang sama yang memproduksi Barbie. Uji forensik pada serangkaian luas materi kemasan untuk boneka-boneka ini menunjukkan bahwa secara reguler ditemukan sejumlah besar MTH.[22]

Investigasi Greenpeace menunjukkan bahwa Mattel Indonesia menggunakan materi kemasan buatan APP. Mattel Indonesia memproduksi boneka busana bermerk Disney. Sebagian dari kemasan untuk produk ini memakai label sebagai produksi Sansico, yang menerima pasokan bahan baku dari APP. Lihat 'Investigasi Greenpeace Mengaitkan Mattel dengan APP'.

Puncak gunung es[23]

Disney duduk sebagai 'pemberi lisensi terbesar dunia dengan penjualan eceran global mencapai $27 milyar pada tahun 2009.[24] Lebih dari 3.700 perusahaan lisensi memproduksi barang-barang bermerk Disney dengan lisensi di seluruh dunia.[25] Sebagian besar produk Disney dijual dengan kemasan atau merupakan produk kertas (alat tulis, teka-teki, buku gambar, dsb).

Kemasan untuk produk bermerk Disney yang diproduksi oleh Mattel Indonesia jelas hanya merupakan puncak gunung es dalam hal kaitan perusahaan ini dengan APP dan pengrusakan hutan hujan Indonesia. Ningbo Asia Pulp & Paper memperoleh sertifikat Mattel untuk papan kertas permainan kartu.[26] Hasil uji forensik kartu dan kemasan untuk edisi Disney dari permainan kartu UNO dari Mattel buatan Cina telah terbukti mengandung MTH.[27]

Di Indonesia, investigasi awal Greenpeace mengidentifikasi serangkaian barang bermerk Disney yang dipasarkan secara luas oleh sejumlah pemegang lisensi untuk penjualan eceran internasional seperti Carrefour. Hasil uji forensik dari serangkaian kemasan untuk produk-produk ini menunjukkan pemakaian MTH.[28]

Tanpa adanya pengaman khusus, produk-produk kertas terutama dari Cina dan Indonesia berisiko tinggi dikaitkan dengan APP dan menjadi pendorong hancurnya hutan hujan Indonesia.

Hal-hal pelengkap

Catatan kaki

[21] Investigasi Greenpeace 2010-2011
[22] Hasil tes IPS 2010-2011. Salinan dipegang oleh Greenpeace
[23] Investigasi Greenpeace 2010-2011
[24] Disney (2010)
[25] Disney (2011b)
[26] Ningbo Zhonghua Paper Co. Ltd., online
[27] Hasil tes IPS 2010-2011. Salinan dipegang oleh Greenpeace
[28] Hasil tes IPS 2010-2011. Salinan dipegang oleh Greenpeace

Tautan terkait

Kategori
Tag