Arktik dan Perubahan Iklim

Halaman - 7 Agustus, 2009
Arktik adalah percepatan pemanasan dari yang masih tersisa di dunia dan mengalami beberapa dampak iklim paling parah di muka Bumi. Salah satu yang paling menonjol adalah penurunan drastis dari ketebalan dan luas lautan es.

Kita semua tergantung pada kesehatan Arktik. Tetapi perusahaan-perusahaan dan pemerintah ingin mengebor minyak di perairan yang mencair. Pembakaran minyak menyebabkan terjadinya pencairan di tempat pertama. Kita perlu melindungi perairan Arktik dari pengeboran minyak dan industri perikanan. Bergabung dengan kami dan meminta para pemimpin dunia mendeklarasikan perlindungan global di sekitar kawasan Kutub Utara.

Beberapa pakar memperkirakan Samudera Arktik bisa kehilangan esnya pada musim panas tahun 2030 sementara yang lainnya memperkirakan itu bisa terjadi pada awal 2012. Permafrost mencair, gletser mencair, dan lapisan es di Greenland kehilangan esnya dalam tingkatan yang mencapai rekor.

Lautan es Kutub Utara mendasari seluruh ekosistem laut, dan karena menyusut dan menipis, ada dampak besar bagi masyarakat Arktik dan satwa liar.

Perubahan iklim yang semakin cepat menimbulkan tantangan baru untuk daya tahan kehidupan di Arktik.

Selain dampak dari perubahan iklim, tekanan lain datang dari aktivitas manusia secara simultan yang mempengaruhi kehidupan di Kutub Utara, termasuk pencemaran udara dan air, penangkapan ikan berlebihan, meningkatnya radiasi ultraviolet akibat ozon yang semakin tipis, perubahan habitat dan polusi karena ekstraksi sumber daya.

Sejumlah faktor-faktor yang mengancam ini menguasai kapasitas adaptasi dari beberapa populasi dan ekosistem di Arktik.

Polar bear on sea ice

"Saya telah melihat langsung dampak pemanasan global di Arktik, ketika lautan es mundur jauh dari pantai ketika satu-satunya beruang kutub terdampar di perairan terbuka, berenang untuk mencari apakah di pecahan es itu masih bisa menemukan anjing laut cincin (ringed seal) mangsanya sejauh ratusan mil dari tepian es. Beruang es itu tidak akan lama bagi dunia ini, dan gambaran itu menghantui saya setiap kali saya membaca laporan suram lainnya tentang nasib beruang kutub di dunia kita yang semakin panas.”
Melanie Duchin, Juru Kampanye Iklim Greenpeace

Dampaknya bagi Kehidupan Masyarakat Arktik dan Satwa Liar

Sejumlah masyarakat adat yang dan akan terkena dampak negatif dari menipisnya lautan es karena berkurangnya jumlah hewan yang mereka jadikan bahan makanan. Beberapa spesies sudah menghadapi kepunahan. Erosi pantai yang disebabkan oleh naiknya permukaan air laut dan penurunan lautan es yang memungkinkan gelombang tinggi dan badai untuk mencapai pantai, sehingga beberapa masyarakat pesisir terpaksa harus pindah.

Beruang kutub benar-benar bergantung lautan es selama siklus kehidupan mereka -mulai dari berburu anjing laut, mangsa utama mereka untuk meningkatkan jumlah keturunan. Para peneliti melaporkan peningkatan jumlah beruang kutub yang tenggelam karena mereka harus berenang lebih jauh di antara gumpalan-gumpalan es. Sejumlah lainnya menghabiskan waktu dengan tidak makan samil menunggu lautan es membeku pada akhir musim panas. Penelitian juga menemukan bahwa untuk pertama kalinya, beruang kutub saling membunuh satu sama lain karena stres terkait makanan, sebagai dampak langsung dari hilangnya lautan es yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Banyak spesies lain seperti anjing laut, ikan paus dan walrus juga tergantung pada lautan es. Anjing laut yang bergantung kepada es, termasuk anjing laut cincin (ranged seal), anjing laut pita (ribbon seal), anjing laut tutul (spotted seal), dan anjing laut berjanggut (bearded seal), sangat rentan terhadap berkurangnya di lautan es Kutub Utara karena mereka melahirkan dan perawat anak anjing mereka di atas es dan menggunakannya sebagai tempat beristirahat. Mereka juga mencari makan di dekat tepi es dan di bawah es. Hal ini akan sangat tidak mungkin bagi spesies ini untuk bisa beradaptasi dengan kehidupan di darat dalam kondisi tidak ada es di musim panas kawasan lautan es.

NASA/Goddard Space Flight Center Scientific Visualization Studio

Dampaknya bagi Iklim Global

Arktik dikenal juga sebagai “kulkasnya dunia” dan salah satu alasannya adalah lautan es ikut mengatur iklim global. Lautan es memantulkan cahaya, sedangkan Samudera Arktik yang gelap menyerap cahaya. Ketika lautan es mencair, sebagian dari Samudera Arktik akan ikut terkena, yang berarti lebih banyak sinar matahari yang diserap. Ini menyebabkan pemanasan lebih, yang pada gilirannya menyebabkan lautan es lebih banyak yang mencair dan proses itu akan berlanjut. Ini adalah contoh dari umpan balik, suatu situasi di mana pemanasan menyebabkan terjadinya pemanasan namun akan berlebih.

Situasi umpan balik lainnya di Kutub Utara adalah mencairnya permafrost. Permafrost adalah tanah yang secara harfiah merupakan bagian yang telah membeku, dan dapat ditemukan di seluruh permukaan tanah Arktik serta dasar laut di bawah bagian dangkal dari Samudera Arktik. Karena suhu naik, permafrost mencair, melepaskan metana yang terperangkap ke atmosfer.

Metana adalah gas rumah kaca yang kuat, sehingga lapisan es mencair dan melepaskan metana ke atmosfer, pemanasan diperburuk yang pada gilirannya akan menyebabkan lebih banyak lagi permafrost yang mencair. 

Lenyapnya lautan es dan mencairnya permafrost menciptakan pemanasan global yang lebih, krisis Arktik berdampak konsekuensi serius bagi seluruh planet.

Kategori