Sebelas bahan kimia berbahaya yang harus di akhiri penggunaanya

Halaman - 20 Nopember, 2012
Greenpeace tengah melakukan aksi kampanye untuk menghentikan industri meracuni air dengan bahan kimia berbahaya, yang sulit terurai (persisten) dan mengganggu kerja hormon. Kampanye Detox memberikan tantangan kepada merek-merek ternama untuk melakukan perubahan. Mereka harus bekerja sama dengan para pemasok mereka, termasuk yang berada di berbagai negara berkembang. Kerjasama dilakukan untuk menyingkirkan semua bahan kimia berbahaya dari seluruh rantai pasokan, siklus-siklus produksi, serta produk mereka. Ini adalah daftar prioritas bahan kimia berbahaya yang perlu diakhiri penggunaannya oleh para pelopor Masa Depan Bebas Toksik. Kesebelas materi berikut merupakan awal dari daftar bahan kimia berbahaya yang harus diwaspadai; masih banyak bahan lainnya yang perlu dievaluasi keamanannya.

Clothing and the global toxic cycle

Alkylphenols

Alkylphenol yang biasa digunakan termasuk Nonylphenols (NPs),  Octylphenols dan dalam bentuk-bentuk ethoxylate-nya , terutama Nonylphenolethoxylate (NPE). NP banyak digunakan dalam industri tekstil untuk proses pencucian dan pewarnaan. Bahan-bahan ini adalah racun untuk kehidupan air. Mereka akan bertahan dalam lingkungan dan dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh.  Konsentrasinya akan meningkat melalui rantai makanan  (biomagnify).12 Kemiripan strukturnya dengan  hormon estrogen alamiah dapat menganggu perkembangan seksual pada beberapa organisme termasuk menyebabkan feminisasi ikan.13,14

Pemakaian NP diatur dengan ketat di Uni Eropa dan sejak tahun 2005 telah dibatasi penggunaannya.15

Phthalates

Pthalate adalah kelompok bahan kimia yang paling umum digunakan untuk melunakan PVC ( plastik polyvinyl chloride). Pada industri tekstil bahan-bahan ini digunakan dalam pembuatan kulit buatan, karet dan PVC, serta beberapa pewarna.  Ada kekhawatiran besar terhadap kadar racun dari Pthalate seperti DEHP (Bis (2-ethylhexyl) Pthalate ) yang bersifat toksik bagi reproduksi mamalia, karena dapat menganggu perkembangan testis di awal kehidupan.16

DEHP  dan DBP (Dibutyl Pthalate) digolongkan sebagai ‘toksik bagi sistem reproduksi’ di Eropa 17 dan penggunaannya dibatasi. Dibawah Undang Undang Uni Eropa REACH, DEHP , BBP (Benzyl butyl Phthalates) dan DBP dijadwalkan pelarangannya pada tahun 2015.18

Brominated dan chlorinated flame retardants

Brominated Flame Retardants (BFR) adalah bahan kimia persisten dan bioakumulatif yang jenisnya sekarang banyak hadir di lingkungan sekitar kita. Polybrominated diphenyl ethers (PBDEs)  adalah salah satu kelompok BFR yang paling umum  digunakan untuk membuat beragam bahan-bahan tahan api, termasuk tekstil. 

Beberapa PBDE mampu menganggu sistem hormon, yang terlibat dalam perkembangan dan pertumbuhan seksual.19 Dibawah hukum Uni Eropa penggunaan beberapa jenis PBDE dibatasi dengan ketat20 Salah satu PBDE telah didaftarkan sebagai ‘zat  berbahaya yang diprioritaskan (untuk di eliminasi)’,  berdasarkan undang-undang  Eropa tentang air. sehingga tindakan harus diambil untuk menyingkirkan kontaminasi materi tersebut pada badan-badan air 21,22

Azo dyes

Azodyes atau Pewarna Azo adalah salah satu dari jenis pewarna utama yang digunakan industri tekstil.Beberapa pewarna azo terdegradasi saat digunakan dan melepaskan bahan-bahan kimia yang dikenal sebagai aromatic amina.  Beberapa aromatic amina tersebut dapat menyebabkan kanker.23 Uni Eropa telah melarang penggunakan pewarna azo yang dapat melepaskan gugus amina penyebab  kanker  pada setiap tekstil yang berkontak  langsung dengan kulit manusia.24

Senyawa Organotin

Senyawa Organotin digunakan dalam biosida dan bahan  anti jamur dalam berbagai produk kebutuhan sehari-hari. Dalam industri tekstil bahan-bahan ini digunakan untuk produk seperti kaos kaki, sepatu dan baju olahraga untuk mencegah bau yang disebabkan oleh keringat.

Salah senyawa organotin yang paling terkenal adalah tributyltin (TBT).  Dahulu, salah satu kegunaan utamanya adalah untuk cat anti bocor pada kapal, sampai muncul bukti bahwa bahan ini tak terurai di lingkungan. Ia akan menumpuk dalam tubuh dan dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan reproduksi.25 Penggunaannya sebagai cat anti bocor sekarang sebagian besar telah dilarang. TBT juga digunakan di industri tekstil.

TBT terdaftar sebagai ‘zat berbahaya prioritas’ dibawah regulasi Uni Eropa sehingga langkah-langkah perlu  diambil untuk menyingkirkan kontaminasinya dari badan-badan air di Eropa. 26. Dari bulan Juli 2010 dan Januari 2012 produk-produk (termasuk kebutuhan sehari-hari) yang mengandung senyawa organotin akan dilarang di seluruh Uni Eropa. 27

Perfluorinated chemicals

Perflourinated chemicals (PFCs) adalah bahan kimia buatan manusia yang banyak digunakan industri karena sifatnya yang tidak lekat dan anti air. Mereka digunakan untuk membuat produk tekstil dan produk kulit anti air dan anti noda.

Bukti-bukti menunjukan banyak PFCs tidak terurai di alam dan dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh serta jumlahnya meningkat melalui rantai makanan (biomagnify) . 28,29  Setelah masuk tubuh, beberapa jenisnya terbukti mempengaruhi hati serta mengganggu kerja hormon, merubah tingkat pertumbuhan dan hormon reproduksi.30,31

Yang paling terkenal dari PFCs adalah perfluorooctane sulphonate (PFOS), sebuah senyawa yang sangat sulit terurai dan bertahan untuk jangka waktu yang sangat lama di lingkungan. 32 PFOS adalah satu dari “Polutan Organik Persiten” yang peredarannya dibatasi di bawah Konvensi Stockholm, sebuah perjanjian global untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan.  PFOS juga dilarang di  Eropa33dan Kanada34untuk penggunaan tertentu. 

Chlorobenzenes

Cholorobenzenes adalah bahan kimia persiten dan bioakulumatif yang digunakan sebagai pelarut dan biosida dalam pembuatan pewarna.. Efek paparan tergantung pada jenis chlorobenzenes, namun, bahan-bahan ini biasanya mempengaruhi hati, tiroid dan sistem saraf pusat. Hexachlorobenzene (HCB) sebuah  bahan kimia paling beracun dan persisten dari kelompok ini, bersifat mengganggu kerja hormon. 35

Di Uni Eropa, pentacholorbenzene dan HCB diklasifikasikan sebagai ‘zat  berbahaya prioritas’ sehingga langkah-langkah harus diambil untuk menyingkirkan polusi tersebut dari badan-badan air di Eropa. 36 Mereka juga terdaftar sebagai ‘Polutan Organik Persisten’ untuk dibatasi penggunaanya secara global di bawah Konvensi Stockholm.  Bahan-bahan tersebut dilarang  atau dijadwalkan untuk diakhiri penggunaannya di Eropa. 37

Chlorinated solvents

Pelarut terklorinasi seperti trichloroethane (TCE) digunakan oleh produsen tekstil untuk melarutkan zat lain selama proses produksi dan membersihkan kain.

TCE adalah zat perusak ozon yang tidak terurai di lingkungan. Juga dikenal berdampak pada sistem saraf pusat, hati dan ginjal.38 Sejak tahun 2008 Uni Eropa membatasi secara ketat penggunaan TCE untuk kedua kegunaan diatas. 39

Chlorophenols

Chlorophenols adalah sebuah kelompok bahan kimia yang digunakan sebagai biosida. Penggunaannya sangat luas, mulai dari pestisida hingga pengawetan kayu dan tekstil.

Pentachlorophenol (PCP) dan turunannya digunakan sebagai biosida di industri tekstil. PCP sangat beracun bagi manusia dan berdampak pada banyak organ tubuh. Bahan ini juga sangat beracun bagi organisme air.40 Uni Eropa telah melarang pembuatan produk yang mengandung PCP di tahun 1991.  Sekarang, penjualan dan penggunaan produk yang yang mengandung bahan kimia tersebut juga dibatasi secara ketat. 41 

Short-chain chlorinated paraffins

Short-Chain Chlorinated Paraffin (SCCPs) digunakan dalam industri tekstil sebagai penghambat penyebaran api.  Bahan-bahan ini sangat beracun bagi organisme air, tidak mudah terurai di lingkungan dan memiliki potensi tinggi untuk terakumulasi dalam organisme hidup.42. Penggunaannya pada beberapa sektor telah dibatasi di Uni Eropa sejak tahun 2004. 43

Logam berat  : kadmium, timbal, merkuri dan kromium (VI).

Logam berat seperti : kadmium, timbal dan merkuri telah digunakan pada pewarna  dan pigmen tertentu untuk tekstil. Logam-logam ini dapat terakumulasi dalam tubuh dari waktu ke waktu dan sangat beracun, dengan efek  termasuk kerusakan pada sistem saraf (timbal dan merkuri) atau ginjal (kadmium). Kadmium juga dikenal sebagai penyebab kanker.44,45 

Kromium (VI) digunakan pada proses tekstil tertentu dan penyamakan kulit 46 bahan ini sangat beracun bahkan di konsentrasi rendah, termasuk bagi banyak organisme air.47

Di Uni Eropa kadmium, merkuri dan timbal telah diklasifikasikan sebagai ‘zat berbahaya prioritas’  sehingga langkah-langkah yang harus diambil untuk menyingkirkan polusi di badan-badan air Eropa. 48 Penggunaan kadmium, merkuri dan timbal telah lama  dibatasi dengan ketat di Eropa; termasuk penggunaan  tertentu dari merkuri dan kadmium pada tekstil. 49.

NOTES:
12. Jensen A & Leffers H (2008). “Emerging endocrine disrupters: perfluoroalkyated substances”, International Journal of Andrology, vol 31, pp161-169

13. Baughman GL & Weber EJ (1994). Transformation of dyes and related compounds in anoxic sediment: Kinetics and products. Environmental Science & Technology 28: 267-276

14. Novotný C, Dias N, Kapanen A, Malachová K, Vándrovcová M, Itävaara M & Lima N (2006). Comparative use of bacterial, algal and protozoan tests to study toxicity of azo- and anthraquinone dyes. Chemosphere 63: 1436–1442

15. Novotný et al (2006) op cit.

16. Sendelbach LE (1989). A review of the toxicity and carcinogenicity of anthraquinone derivatives. Toxicology 57: 227-240

17. Wei Y, Han I-K, Hu M, Shao M, Zhang J & Tang X (2010). Personal exposure to particulate PAHs and anthraquinone and oxidative DNA damages in humans. Chemosphere 81: 1280-1285

18. Brigden K et al (2011) op cit.

19. Gregory P (2007). “Toxicology of textile dyes”, Chapter 3 in Christie, R. (ed.) Environmental aspects of textile dyeing, Woodhead Publishing

20. Commission Regulation (EC) No 552/2009 of 22 June 2009, op cit (REACH). Existing restrictions set out in the Marketing and Use Directive (76/769/EEC) were carried over to REACH. Directive 76/769/EEC was repealed on 1 June 2009. Azocolourants were previously restricted under the EU (2002) Directive 2002/61/EC of the European Parliament and of the Council of 19 July 2002 amending for the nineteenth time Council Directive 76/769/EEC relating to restrictions on the marketing and use of certain dangerous substances and preparations (azocolourants), Official Journal L 243, 11.09.2002, pp15-18

21. Pinheiro HM, Touraud E & Thomas O (2004). Aromatic amines from azo dye reduction: status review with emphasis on direct UV spectrophotometric detection in textile industry wastewaters. Dyes and Pigments 61(): 121-139

22. Carvalho G, Marques R, Lopes AR, Faria C, Noronha JP, Oehmen A, Nunes OC & Reis MAM (2010). Biological treatment of propanil and 3,4-dichloroaniline: Kinetic and microbiological characterization. Water Research 44(17): 4980-4991

23. Dom N, Knapen D, Benoot D, Nobels I & Blust R (2010). Aquatic multi-species acute toxicity of (chlorinated) anilines: Experimental versus predicted data. Chemosphere 81(2): 177-186

24. Since 1991, all PCP-containing products sold and used in the EU have been imported (EU production was banned under Directive 76/769/EEC). Now entry number 22 of Annex 17 of the EU chemical law REACH prohibits the marketing and use in the EU of PCP and its salts and esters in products in a concentration equal to or greater than 0.1 per cent. Commission Regulation (EC) No 552/2009 of 22 June 2009, op cit. (REACH)

25. OSPAR (2004). Pentachlorophenol, OSPAR Priority Substances Series 2001, updated 2004, OSPAR Convention for the Protection of the Marine Environment of the North-East Atlantic, OSPAR Commission, London, ISBN 0-946956-74: 31 pp. http://www.ospar.org/documents/dbase/publications/p00138_BD%20on%20pentachlorophenol.pdf

26. Use of TCE is restricted via Entry 34 of Annex 17 of the EU chemical law (Regulation (EC) No 1907/2006 concerning the Registration, Evaluation, Authorisation and Restriction of Chemicals (REACH)) to concentrations equal to or greater than 0.1 per cent by weight of product for sale to the general public and in diffusive applications such as surface cleaning and cleaning of fabrics. Commission Regulation (EC) No 552/2009 of 22 June 2009 (REACH) op.cit.

27. Agency for Toxic Substances and Disease Registry (1989) Toxicological profiles for 1,1,2-trichloroethane, United States Public Health Service, Agency for Toxic Substances and Disease Registry, December 1989.

28. Agency for Toxic Substances and Disease Registry (2006) Toxicological profiles for 1,1,1-trichloroethane, United States Public Health Service, Agency for Toxic Substances and Disease Registry, July 2006

29. ATSDR (2004) Toxicological profile for copper, United States Public Health Service, Agency for Toxic Substances and Disease Registry, September 2004

30. ATSDR (2005) Toxicological profile for nickel. Agency for Toxic Substances and Disease Registry, US Public Health Service, August 2005

31. ATSDR (2008b) Toxicological profile for chromium, United States Public Health Service, Agency for Toxic Substances and Disease Registry, September 2008

32. Comber SDW, Merrington G, Sturdy L, Delbeke K, van Assche F (2008). Copper and zinc water quality standards under the EU Water Framework Directive: The use of a tiered approach to estimate the levels of failure. Science of the Total Environment 403(1-3): 12-22

33. Guangdong Province (2001). Guangdong Provincial Water Pollutant Emission Limit, DB4426-2001. http://www.gdepb.gov.cn/hjbz/dfbz/200511/P020060728344805222501.pdf

34. MEP (1992). GB 4287-92, the Discharge Standard of Water Pollutants for Dyeing and Finishing of Textile Industry, Ministry of Environmental Protection (MEP), The People’s Republic of China. http://english.mep.gov.cn/standards_reports/standards/water_environment/Discharge_standard/200710/t20071024_111797.htm

35. ATSDR (2008b). Toxicological profile for chromium, United States Public Health Service, Agency for Toxic Substances and Disease Registry, September 2008

36. IPPC (2003). Reference document on best available techniques for the textiles industry, Integrated Pollution Prevention and Control (IPPC), European Commission

37. ATSDR (2008b) op cit.

38. IPPC (2003) op cit.

39. ATSDR (2008b) op cit.

40. DeLaune RD, Patrick WH & Guo T (1998). The redox-pH chemistry of chromium in water and sediment. In Allen HE, Garrison AW, Luther GW, eds, Metals in Surface Waters. Ann Arbor, USA. ISBN:1575040875: 262 pp.

41. Lin C-J (2002). The chemical transformations of chromium in natural waters - A model study. Water air and soil pollution 139 (1-4): 137-158

42. ATSDR (2008b) op cit.

43. Salomons W & Forstner U (1984). Metals in the hydrocycle. Springer-Verlag, Berlin, Heidelberg, New York, Tokyo, ISBN 3540127550

44. Baral A, Engelken R, Stephens W, Farris J & Hannigan R (2006). Evaluation of aquatic toxicities of chromium and chromium-containing effluents in reference to chromium electroplating industries. Archives of Environmental Contamination and Toxicology 50(4): 496-502

45. ATSDR (2008b) op cit.

46. IARC (1990a). Chromium and chromium compounds. In: International Agency for Research on Cancer (IARC) monographs on the evaluation of the carcinogenic risk of chemicals to humans. Volume 49; Chromium, Nickel and Welding. ISBN 9283212495

47. Guangdong Province (2001). Guangdong Provincial Water Pollutant Emission Limit, DB4426-2001. http://www.gdepb.gov.cn/hjbz/dfbz/200511/P020060728344805222501.pdf

48. MEP (1998). Integrated Wastewater Discharge Standard (GB8978-1996). Ministry of Environmental Protection (MEP), The People’s Republic of China. http://www.es.org.cn/download/18-1.pdf (Chinese). http://english.mep.gov.cn/standards_reports/standards/water_
environment/Discharge_standard/200710/t20071024_111803.htm (English introduction)

49. IPPC (2003) op cit.