Aktivis Greenpeace berusaha tetap membentangkan spanduk di alat angkut ketika alat angkut di miringkan 45 derajat di tempat fasilitas perusahaan yang dioperasikan oleh APP, perusahaan pulp dan kertas milik Sinar Mas di Provinsi Riau
Berkomitmen untuk menyampaikan secara langsung pesan mereka kepada
Presiden SBY dan para pemimpin dunia lainnya, Greenpeace menyatakan
bahwa ribuan orang di seluruh dunia telah mengirimkan petisi dan surat
kepada pemimpin negara RI, mendesak beliau melakukan tindakan segera
untuk menghentikan penghancuran hutan dan lahan gambut di Indonesia,
yang merupakan kontributor terbesar emisi Indonesia.
"Sepuluh hari menjelang konferensi iklim yang sangat penting di
Kopenhagen, Presiden SBY memiliki kesempatan yang unik untuk mengukir
sejarah dan mengumumkan penghentian deforestasi, sekaligus menunjukkan
suatu kepemimpinan yang sejauh ini gagal ditunjukkan oleh pemenang
Penghargaan Nobel seperti Presiden Obama," demikian dikatakan Von
Hernandez, Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara.
"Aksi damai kami di Sumatera dalam lima minggu terakhir menunjukkan
kepada para pemimpin dunia bahwa perlindungan hutan merupakan bagian
penting dari solusi jika masyarakat dunia ingin mencegah terjadinya
kekacauan iklim. Bumi kita tidak dapat lagi menenggang hilangnya hutan
lebih banyak lagi sebagaimana pemimpin dunia tidak dapat lagi
menenggang hilangnya waktu lebih banyak lagi untuk menghasilkan
perjanjian iklim yang adil, ambisius dan mengikat secara hukum di
Kopenhagen bulan Desember ini, yang memasukkan komitmen untuk membentuk
pendanaan global untuk mengakhiri deforestasi di negara seperti
Indonesia. Kami akan terus mendesakkan tuntutan kami ini sampai para
pemimpin dunia tersadar dari penyangkalan atas kenyataan yang tak
terbantahkan dari permasalahan ini," demikian tambahnya.
Pada 12 November Greenpeace melakukan aksi damai terhadap APRIL,
pesaing APP, menunjukkan penghancuran terus menerus yang mereka lakukan
di lahan gambut yang sangat rentan di Semenanjung Kampar di Pulau
Sumatera. Minggu lalu, Menteri Kehutanan RI, Zulkifli Hasan,
memerintahkan APRIL menghentikan penghancuran hutan di kawasan konsesi
seluas kurang lebih 56.000 hektar sambil dilakukannya kajian terhadap
perijinan perusahaan.
Menyusul aksi damai hari ini, delapanbelas aktivis Greenpeace dari
Indonesia dan belahan dunia lainnya saat ini menjalani pemeriksaan
polisi. Duabelas aktivis memblok derek di dermaga bongkar-muat
perusahaan kemarin untuk memghentikan ekspor pulpnya, dan membentangkan
spanduk bertuliskan: "Penghancuran Hutan: Anda dapat Menghentikan ini".
Empat orang aktivis tetap bertahan di salah satu derek selama 26 jam,
sampai mereka dihentikan oleh polisi. Aktivis tersebut berasal dari
Indonesia, AS, Kanada, Australia, Selandia Baru, India, Swiss, Belgia,
Jerman, Filipina, dan Belanda.
Aksi Greenpeace ini dilakukan di tengah hangatnya upaya terus menerus
oleh Presiden AS Obama dan pemimpin dunia lainnya untuk mengecilkan
harapan di konferensi iklim Kopenhagen, dengan terlalu dini menyatakan
bahwa dunia sebaiknya hanya berharap hasil berupa pernyataan politik
saja, dan bahwa keputusan penting untuk menghasilkan perjanjian yang
mengikat secara hukum ditunda kemudian. Pemerintahan Obama kemarin juga
mengumumkan bahwa Obama akan datang di pertemuan iklim di Kopenhagen
pada tanggal 9 Desember, lebih dari satu minggu sebelum para pemimpin
dunia lainnya hadir untuk menunjukkan komitmennya membentuk perjanjian
iklim yang ambisius dan menyeluruh.
"Sekali lagi, kami harus mengatakan kepada Presiden Obama,
'Right city, wrong date.' Greenpeace mendesak Presiden Obama untuk
hadir pada 18 Desember, menunjukkan komitmen AS terhadap kebijakan yang
diperlukan dunia, sehingga dia pantas menerima Penghargaan Nobel
Perdamaian. Sejauh ini Presiden Obama tidak memberikan apapun kepada
dunia dalam hal ini selain retorika. Kami mendesak Obama mengambil
kesempatan untuk memimpin sejawatnya menuju suatu terobosan penting di
Kopenhagen, dimulai dengan satu komitmen untuk menyediakan pendanaan
internasional untuk adaptasi, mitigasi, dan perlindungan hutan - semua
komponen penting untuk bisa mendapatkan kesepakatan dengan negara
berkembang," kata Stephanie Hillman, seorang aktivis asal AS yang
ditahan untuk diperiksa di Riau.
Indonesia merupakan penyumbang ketiga terbesar gas rumah kaca setelah
Amerika Serikat dan Cina, yang berasal dari penghancuran terus menerus
hutan alam dan lahan gambutnya(5). Dalam lingkup global, satu juta
hektar hutan dihancurkan setiap bulannya(6) - setara dengan satu
lapangan bola setiap dua detik. Satu dana yang memadai mendesak
disediakan untuk menghentikan penghancuran hutan tropis di Indonesia
dan di belahan dunia lainnya. Hal ini harus menjadi bagian utama dari
perjanjian iklim.