Berita - 25 Juni, 2009
Greenpeace hari ini menghimbau kepada negara-negara ASEAN untuk segera mengurangi pembangkit tenaga listrik batubara dan berinvestasi pada energi terbarukan untuk menghindari malapetaka iklim, di akhir pertemuan ASEAN Forum On Coal (AFOC) ke tujuh di Bali. Beberapa aktivis Greenpeace membentangkan spanduk dengan tulisan “Quit Coal” di pintu masuk Padma Hotel di Legian selama acara penutupan.
Aktivis Greenpeace membentangkan spanduk bertuliskan " Quit Coal" di depan Hotel Padma Legian Bali saat penutupan acara
forum ASEAN tentang Batubara. Greenpeace Menyerukan negara-negara di ASEAN untuk menghentikan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Batubara.
Saat ini ASEAN terus tergantung pada batubara yang membawa
kawasan menuju percepatan perubahan iklim dengan dampak seperti
kekeringan, banjir dan kelaparan akibat berkurangnya hasil
pertanian yang mengancam kehidupan ratusan juta orang. Pada
pertemuan itu membicarakan perluasan penggunaan batubara, ASEAN
seharusnya saat ini mulai menyepakati rencana untuk keluar dari
pemanfaatan batubara dan beralih pada ekonomi yang rendah
karbon
Laporan terbaru dari Bank Pembangunan Asia (ADB) dan program
lingkungan untuk Asia Tenggara (EEPSEA) mengidentifikasi bahwa Asia
Tenggara adalah satu di antara kawasan yang paling rentan terhadap
perubahan iklim. ADB memperkirakan setidaknya kawasan ini akan
kehilangan enam atau tujuh persen pendapatan tahunan atas dampak
perubahan iklim di akhir abad ini jika tidak ada tindakan untuk
mengatasi perubahan iklim. Di samping biaya ekonomi dan iklim dari
batubara, Indonesia baru saja memperingatkan adanya biaya
kemanusiaan dari bencana di Sawahlunto, Sumatera Barat yang menelan
nyawa 31 petambang.
Jika dihitung, emisi CO2 dari penggunaan bahan bakar fosil ini
bisa lebih dari setengah dari seluruh emisi gas rumah kaca
Indonesia sekarang dan akan terus meningkat di tahun 2050 jika
tidak ada tindakan yang diambil. Negara-negara ASEAN perlu untuk
memikirkan kembali strategi mereka untuk memilih cara penggunaan,
memproduksi, menyimpan dan mendistribusikan energi yang secara
pasti akan menurunkan emisi gas rumah kaca.
Negara-negara anggota ASEAN memiliki banyak sumberdaya energi
terbaharui dan harus segera mengembangkannya. Sebagai contoh,
Indonesia memiliki cadangan energi geothermal terbesar di dunia dan
bisa menyediakan 9,5 gigawatt energi hingga tahun 2025. Namun saat
ini kurang dari lima persen sumber panas bumi bangsa ini digunakan.
Greenpeace mendesak pemerintah Indonesia dan ASEAN untuk
meningkatkan sasaran pada energi terperbaharui, terutama panas
bumi, angin, tenaga surya dan micro-hydro serta mengembangkan
produk hukum dan peraturan yang selama ini jadi hambatan terbesar
dalam investasi di bidang energi terperbaharui.
Pemerintah Filipina telah membuat undang-undang energi
terperbaharui di akhir tahun 2008, yang membawa negara itu pada
energi bersih di masa mendatang yang akan membawa keuntungan
ekonomi selama negara memotong emisi karbonnya.
Satu-satunya solusi yang akan menjauhkan kita dari malapetaka
iklim dan memberikan kita masa depan hanyalah dengan pemanfaatan
yang lebih besar pada energi diperbaharui, mengurangi bertahap
penggunaan batubara dan berhenti merencanakan nuklir, digabungkan
dengan pelaksanaan program-program efisiensi energi dalam skala
besar. Negara-negara ASEAN perlu menunjukkan bahwa kawasan ini
serius menangani perubahan iklim, saatnya mengkritisi pembicaraan
iklim di Copenhagen, Desember tahun ini