Agar Inyiak (Harimau) Tetap Punya Rumah Hutan

Berita - 17 September, 2011
Bagi Masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, sosok Harimau Sumatera sakral dan dihormati bagai kakek kandung sendiri. Silat Harimau di tampilkan Datuk edwel menjadi bagian kampanye menyelamatkan Hutan Sumatera agar sang Inyiak (kakek) Panthera tigris sumatrae tetap punya rumah di sepanjang Andalas.

Satu kenangan masa kecil tertanam di hati Datuk Edwel Yusri asal Kampung Balingka, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.  Sebagai keturunan Bangsawan Agam, Datuk Edwel lekat dengan kenangan masa kecil bersama Harimau Sumatera. Bukan dengan yang dia temui di kebun binatang tentu saja. Tapi dengan para Harimau di Hutan Pasaman dekat kampungnya, yang menjaga kehidupan sehari-hari mereka.

“Bagi Masyarakat Minangkabau, Harimau Sumatera itu sakral dan kami panggil inyiak (kakek), karena rasanya kasar sekali kalau harus menyebutnya harimau saja . Seperti kalau kita memanggil langsung nama orang tua kita, tak sopan, tabu,” kata Datuk Edwel.

Begitu sakralnya posisi sang inyiak, hingga lazim para Datuk Bangsawan Minangkabau mendalami “ilmu” telepati untuk memelihara harimau-harimau yang tinggal di hutan adat sebelah kampung mereka. Memelihara harimau artinya membiarkan mereka hidup liar di hutan yang secara adat dilarang keras untuk ditebang agar harimau-harimau ini tetap nyaman tinggal. Para Harimau ini bagai memiliki hubungan psikologis khusus dengan Para Datuk yang memeliharanya hingga setiap kali mereka akan patuh datang ke kampung jika dipanggil.

“Inti ilmu telepati itu, adalah rasa saling menjaga. Jadi kami menjaga mereka di hutannya, mereka juga menjaga kampung kami dari segala bahaya,” kata Datuk Edwel.

Kakek Buyut Datuk Edwel, Inyiak Angguik, pun tersohor memiliki ilmu telepati turun-temurun ini.  Inyiak Angguik yang hidup di zaman kolonial Belanda  “memelihara” 8 ekor harimau sekaligus. Semuanya hidup liar di Hutan Pasaman sebelah kampung mereka. Para harimau ini hanya datang sekali-kali  saat Inyiak Angguik ingin melatih jurus-jurus silatnya. Lalu seharian di kolong rumah panggungnya Inyiak Angguik bergelut bercanda dengan mereka. Jurus-jurus silat ini akhirnya berkembang alami meniru gerak Harimau Sumatera bergelut satu sama lain dan kini dikenal sebagai Silat Harimau.

Alih-alih bersumber dari pertengkaran atau perang, asal-usul Silat Harimau justru berakar pada rasa kasih sayang para datuk kepada para harimau mereka. Inyiak Angguik misalnya, marah besar saat tanpa sengaja sang istri membuang air dadih rebusan nasi mengenai salah satu harimaunya. Dengan berang, Inyiak Angguik mengomel ke istrinya sambil menunjukkan bekas luka bakar di leher harimaunya. Sebaliknya, Inyiak Angguik juga harus rela miris melepas salah satu harimaunya, yang terjerat di kampung sebelah. Ia dijerat penduduk gara-gara sering menerkam ternak. Harimau itu akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Kolonial Belanda untuk dipelihara di luar Hutan Pasaman. Setiap Harimau, menurut Datuk Edwel, harus dilepas sebagai Harimau Rantau keluar dari hutan rumahnya jika bertingkah tak pantas. Salah satunya jika memakan ternak atau menyerang manusia.

Masyarakat Minangkabau dan Harimau Sumatera pun bagai mendasari hubungan mereka dengan saling menghormati. Para Datuk yang layak memelihara harimau, hanyalah mereka yang dianggap bertingkahlaku pantas di masyarakat. Sebaliknya jika harimau itu berlaku tak pantas, ia juga harus dihukum dengan dibuang keluar rumah hutannya semula. Begitu pula Silat Harimau. Mereka yang mempelajarinya, harus bersikap pantas agar tak memalukan sosok sakral Sang Inyiak Harimau Sumatera.

Yang jadi masalah, sekarang hutan-hutan tempat tinggal para inyiak ini semakin jarang. Datuk Edwel misalnya, miris setiap kali pulang kampung menyaksikan Hutan Pasaman sebelah kampungnya telah terbabat sebagian menjadi kebun sawit. Hukum adat untuk tidak pernah membabat hutan rumah Harimau Sumatera bagai tak berlaku lagi.

“Saya percaya sekali Masyarakat Minangkabau tidak akan mau merusak hutan larangan tempat tinggal para inyiak. Yang kami khawatirkan justru pengusaha-pengusaha dan pemerintah yang tak tahu adat kami,” kata Datuk Edwel.

Kening Datuk Edwel berkerut. Raut wajahnya yang semula riang berkisah masa kecilnya, kini berkerut cemas. Semuanya gara-gara mendengar populasi Harimau Sumatera di alam liar menurut tinggal 400 ekor saja. Sementara Kementerian Kehutanan telah mengakui, tutupan hutan di Sumatera memang tinggal 10 persen saja.

“Kami tak mau kalau sampai Harimau Sumatera itu punah. Bantulah kami, bagaimana caranya agar hutan-hutan tempat tinggal mereka tetap tak diganggu manusia,” kata Datuk Edwel, memohon.

Penulis: Veby Mega Indah
Penulis mendukung kampanye Greenpeace untuk penyelamatan hutan Indonesia