Berlayar Mengarungi Surga Laut Papua dan Melindungi Hutan Kwatisore dengan Kearifan Lokal

Salam dari surga laut dan hutan Papua

Berita - 20 Mei, 2013
Sudah lima hari sejak keberangkatan Rainbow Warrior dari Pelabuhan Numbay, Jayapura untuk memulai tur yang bertemakan “100% Indonesia: Bersama Melindungi Hutan dan Laut Kita.” Tur ini bertujuan untuk menyampaikan kisah kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia dan mendesak untuk segera mengambil tindakan yang memastikan hutan dan laut nusantara terlindungi.

Kapal tiba di Jayapura pada 9 Mei 2013 dengan 15 awak kapal dari 11 negara. Rombongan kapal nelayan, penari tradisional Papua dan lebih dari seribu masyarakat termasuk perwakilan Gubernur Papua dan Walikota Jayapura menyambut kapal baru Greenpeace ini saat menyentuh daratan Indonesia untuk pertama kalinya.

Siang harinya pada 11 Mei, bersama awak kapal baru termasuk aktivis Greenpeace Indonesia Bustar Maitar, Teguh Surya, Kiki Taufik, Afif Saputra, Daan Wengi dan Hikmat Soeriatanuwijaya, pendukung Greenpeace Riyanni Djangkaru dan Nila Tansil dan tiga aktivis Greenpeace internasional Mark Dia (Filipina), Pari Trivedi (India, Lu Weiju (China), Rainbow Warrior mulai berlayar.

Saat melewati Pulau yang bernama Pulau Kosong, sambil duduk di dek kapal menikmati keajaiban angin laut, terlintas dipikiran saya: “Ada 30 orang kru di kapal – yang merupakan salah satu kapal paling ramah lingkungan yang pernah dibuat. Mereka berasal lebih dari 15 negara. Semua mereka memiliki satu tujuan: Merayakan dan melindungi kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia. Saya jadi teringat ramalan suku India Cree  yang telah menginspirasi penamaan kapal ini “Ketika bumi sakit, akan ada sejumlah orang dari sejumlah negara, berasal dari budaya dan latarbelakang yang berbeda, di mana mereka akan berkumpul untuk melindungi bumi ini. Mereka akan dikenal sebagai Ksatria Pelangi.

Pada 14 Mei kami tiba di Teluk Cendrawasih, Distrik Nabire. Kawasan ini yang termasuk dalam Taman Nasional Teluk Cendrawasih, sangat dikenal baik sebagai tempatnya ikan hiu paus. Pagi hari itu, tim penyelam Greenpeace ditemani Fotografer Paul Hilton dan Videografer Barli Fibriady, disambut ratusan lumba-lumba dan proses pendokumentasian kehidupan bawah laut berjalan lancar.

“Kami menyaksikan secara langsung kehidupan laut yang luar biasa di perairan Papua yang alami,” kata Mark Dia, Juru Kampanye Laut Greenpeace Asia Tenggara. “Kami ingin menyampaikan pada dunia tentang kekayaan alam laut Indonesia yang indah sekaligus rapuh, bagaimana mereka menghadapi keterancaman, dan apa yang kita diperlukan untuk melestarikannya. Kita semua perlu bertindak bersama, mengerti kondisi laut dan melindungi kandungannya.” 

Hari berikutnya 15 Mei, tim yang sama pergi menyelam di lokasi yang berbeda sementara saya pergi ke pantai bersama tim darat menuju Desa Kwatisore. Misi kami adalah menyaksikan dan mempelajari bagaimana masyarakat lokal melindungi hutan mereka karena sumber kehidupan mereka tergantung padanya. Sesaat setelah kami tiba di pantai, kami disambut oleh Kepala Desa Kwatisore, Mathias Numberi bersama para tetua desa lainnya.

Mathias membawa kami menemui anggota masyarakat lainnya dan menyampaikan kisah tentang bagaimana mereka melindungi hutan-hutan itu. “Hutan-hutan ini terletak tepat di belakang rumah-rumah kami dan itulah sumber kehidupan kami. Yang paling penting adalah hutan memberi kami air. Jika hutan tidak ada, maka tidak akan ada air bersih untuk kami. Dan masyarakat disini menghidupi diri mereka dari hutan.”

Kami pun tertegun diam. Di Indonesia khususnya, Greenpeace telah berkampanye untuk menyerukan pentingnya melindungi hutan dengan mendesak pemerintah melaksanakan peraturan yang bisa memastikan perlindungan hutan. Kami juga berkampanye mendesak  industri untuk menghentikan praktik merusak mereka dan mengubahnya menjadi bisnis yang lebih berkelanjutan dengan tidak terlibat dalam deforestasi. Sebagai solusinya, Greenpeace merekomendasikan pengelolaan hutan secara berkelanjutan, hutan masyarakat dan sebagainya. Sebagian besar kami sangat akrab dalam gagasan dan ide, tapi masyarakat Kwatisore justru hidup bersama gagasan ini, melindungi hutan mereka sejak berdirinya desa pada tahun 1967. Alasan mereka sangat sederhana dan jujur: “Karena hutan memberi kami kehidupan!”

Seperti kata penduduk desa, jika tidak ada hutan yang tersisa maka tidak akan ada air bagi mereka. Mungkin hanya akan ada bencana seperti banjir atau longsor karena rumah mereka tepat berada di bawah perbukitan. Jika tidak ada hutan yang tersisa maka tidak  ada laut yang sehat di bawah mereka. Dan tidak akan ada sumberdaya yang membawa keuntungan ekonomi bagi mereka.

“Kami mendapatkan uang dengan memanfaatkan pohon Mahosi dan Gaharu yang biasanya digunakan untuk industri parfum,” kata Agustinus, salah satu penduduk desa yang terlibat dalam perlindungan kawasan Gaharu di kampungnya.

“Kami belajar banyak dari desa ini,” kata Teguh Surya, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia. “Kami menyaksikan bagaimana pentingnya hutan bagi masyarakat yang bergantung padanya dan memberi mereka kehidupan dan sumber mata pencaharian. Dan mereka menjaga hutan dengan sangat baik. Ini bisa menjadi pejalaran penting bagi industri dan pemerintah untuk mengelola hutan dengan cara berkelanjutan. Sayangnya, kebijakan hari ini masih tidak terlalu kuat untuk melindungi hutan. Greenpeace mendesak pemerintah untuk segera bertindak melindungi hutan-hutan Indonesia, termasuk memperkuat kebijakan moratorium perlindungan hutan dengan mulai meninjau ulang izin yang sudah ada,”

Kategori