Kearifan Masyarakat Yenbuba dan Deklarasi Pelestarian Laut Tanjung Sapor Samyam

Berita - 29 Mei, 2013
Semburat merah di ufuk timur tampak di kaki langit Kota Sorong menyambut Kapal legendaris Greenpeace Rainbow Warrior saat melewati selat Dampir, Senin, 20 Mei 2013 lalu. Raja Ampat adalah tujuan Rainbow Warrior kali ini, sebuah gugusan pulau nan indah di hamparan surga kehidupan bawah laut milik Indonesia warisan dunia.

Raja Ampat adalah warisan alam nusantara yang kaya keanekaragaman hayati laut. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki  banyak surga bawah laut, namun Raja Ampat adalah yang paling besar. Pemerintah Indonesia menargetkan 34 juta hektar wilayah laut untuk dijadikan konservasi pada tahun 2020 (United Nations Conference on Sustainable Development in Brazil), dan 30 persen di antaranya telah  disumbangkan oleh Raja Ampat, Papua Barat, Indonesia. Selain itu Raja Ampat merupakan kepulauan dengan kekayaan hayati dan ekosistem laut yang terlengkap di dunia dengan 537 spesies terumbu karang atau 75 persen dari total spesies terumbu karang dunia.

Rainbow Warrior berlayar di perairan Indonesia sejak 9 Mei 2013 lalu dan memulai perjalanannya di Jayapura dalam rangka kampanye tur kapal “100% Indonesia: Bersama kita Menyelamatkan Hutan dan Laut,” yang berakhir pada 9 Juni mendatang di Jakarta. Tur ini bertujuan untuk merayakan kekayaan hayati nusantara baik laut maupun hutan dan mendorong semua pihak memastikan perlindungannya. Bukan saja untuk keseimbangan alam dunia tapi juga untuk masyarakat Indonesia sendiri.

Berada di bumi Papua sangat menyenangkan terutama bagi saya yang lahir dan besar di Sumatra. Kondisi alam di kampung halaman saya telah sangat memprihatinkan dan saya menjadi saksi kehancurannya. Tahun 2012 lalu, saya berkesempatan memasuki hutan-hutan Kalimantan yang kondisinya tidak jauh berbeda, rusak oleh pertambangan, perkebunan sawit dan akasia skala besar. Jika masih terdapat hutan, itu pun tidak terlalu banyak dan jaraknya sangat jauh. Namun di Papua, saya melihat hamparan hutan yang masih alami yang sangat luas. Belum lagi keindahan pantai dan perairan dangkalnya yang sangat jernih dan penuh dengan kehidupan.

Sebelum tiba di Raja Ampat, Minggu, 19 Mei, Rainbow Warrior berhenti beberapa mil dari pantai utara Papua, Jamursba Medi, Kabupaten Tambraw. Pantai yang berhadapan langsung ke samudra pasifik ini sangat terlindungi karena dibatasi oleh bukit-bukit yang masih alami. Namun pemerintah Papua Barat  sedang berencana untuk membangun jalan trans Papua dari Sorong menuju Manokwari yang akan melintasi perbukitan tepat di pantai  peneluran Penyu Belimbing. Jamursba Medi adalah  tempat penting bagi satwa dilindungi penyu belimbing atau Leatherback Sea Turtle (Dermochelys coriacea). Garis pantai pasir putih sepanjang 18 kilometer adalah tempat peneluran terbesar di Pasifik bagi spesies penyu ini.

Organisasi pemeringkat status konservasi hewan dunia IUCN menyatakan bahwa penyu belimbing kini terancam punah oleh pemanasan global, perubahan iklim dan kerusakan habitat. Walau saya dan tim Greenpeace harus berjalan kaki sekitar 20 kilometer, tim yang dibantu masyarakat lokal ini berhasil mendokumentasikan pusat peneluran penyu belimbing. Hari yang panjang memang, namun semuanya terbayar karena untuk pertama kali saya dan sejumlah tim menyaksikan bagaimana hewan yang hampir punah ini berjuang untuk bertelur demi keberlangsungan generasi mereka.

Di hari berikutnya kapal terus berlayar menuju Raja Ampat untuk mendokumentasikan keanekaragaman hayati bawah laut. Kapten kapal Rainbow Warrior, Pep Barball berkebangsaan Spanyol akhirnya memutuskan melego jangkar di dekat Pulau Kri, di Gugusan Pulau Mansuar setelah dipandu masyarakat lokal agar jangkar kapal tidak merusak terumbu karang di sekitarnya.

Raja Ampat ditetapkan sebagai kawasan konservasi laut daerah berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Raja Ampat yang terdiri dari tujuh kawasan seluas 900.000 ha. Tim dokumentasi yang terdiri dari Mark Dia, Jurukampanye Laut Greenpeace, Paul Hilton, juru foto dan Barly Febriadi juru video langsung menyelam di perairan dangkal dekat pulau Kri dan berhasil merekam kehidupan bawah laut yang indah meski jarak pandangnya tidak terlalu bagus. Menurut warga setempat, jarak pandang bawah laut yang bagus ada di kuwartal ketiga setiap tahunnya. Meski demikian jumlah ikan dan variasinya tergolong sangat kaya dibandingkan taman nasional laut teluk Cendrawasih di Nabire, lokasi yang juga didokumentasikan Greenpeace seminggu sebelumnya.

Di hari kedua, ketika tim dokumentasi selesai melakukan penyelaman terakhir, saya dan juru video Greenpeace Barly Febriadi berangkat menuju Kampung Yenbuba di Distrik Mansuar yang berjarak hanya satu km dari Rainbow Warrior. Masyarakat nelayan Yenbuba memiliki kearifan lokal untuk menjaga laut di sekitarnya agar tetap lestari. Pada bulan April lalu mereka baru saja mendeklarasikan komitmen pelestarian laut di sepanjang areal Tanjung Sapor Samyam seluas 2.500 hektar. Deklarasi ini juga diikuti sejumlah kampung di antaranya Yenwaupnor dan Yenbekwan yang berarti di wilayah deklarasi, masyarakat tidak akan mengambil ikan karena kawasan terrsebut akan dijadikan sebagai kawasan wisata laut.

“Dulu kami akui sering mengambil ikan dengan cara merusak seperti menggunakan potassium dan bom. Tetapi kini menyadari pentingnya melestarikan laut. Sekarang kami menangkap ikan di luar kawasan deklarasi itu,” ujar Ayub Sawiyai, Kepala Kampung Yenbuba.

Pantai dan laut yang begitu indah di pulau-pulau sekitar Mansuar kini disiapkan menjadi tujuan wisata yang juga didukung pemerintah setempat. Dari keindahan pantai dan laut dan komitmen pelestarian itulah masyarakat Yenbuba dan sekitarnya kini mendapat sumber ekonomi alternatif melalui kegiatan pariwisata. Kearifan lokal masyarakat Yenbuba ini sebenarnya bukanlah satu-satunya cara masyarakat Raja Ampat menjaga lingkungannya. 

Selain deklarasi April lalu itu, juga ada budaya Sasi dan Kakes. Sasi adalah ritual adat yang dilakukan oleh komunitas untuk menerapkan moratorium atau jeda atas eksploitasi atas jenis tertentu yang ditetapkan dalam waktu tertentu. Dalam hal ini jika Sasi dilakukan di laut, maka pada waktu tertentu tidak boleh ada aktifitas pengambilan ikan di daerah tersebut. Tujuan Sasi bermacam-macam tergantung pada apa yang ditetapkan masyarakat setempat. Namun masyarakat Yenbuba belum pernah menerapkan Sasi untuk wilayah lautnya.

“Sampai pada Sasi itu dibuka lagi, barulah kegiatan pemanenan atau penangkapan diperbolehkan kembali. Setelah sasi dibuka kembali biasanya jumlah ikan akan lebih banyak karena tidak diambil dalam beberapa waktu. Namun di sini belum pernah ada Sasi tapi hanya deklarasi,” kata Ayub lebih lanjut.

Kearifan lokal inilah yang seharusnya diadopsi pemerintah dalam menjaga lingkungan. Indonesia sendiri punya aturan hukum untuk menjaga kekayaan alamnya, namun biasanya keterbatasan sumberdaya manusia dijadikan alasan lemahnya penegakkan hukum. Greenpeace Indonesia tahun ini meluncurkan kampanye laut di samping kampanye yang sudah ada yakni hutan, iklim dan energi serta air bebas beracun. 

Di tahun pertama kampanye laut di nusantara, Greenpeace mendorong pemerintah untuk melindungi ekosistem laut dari aktivitas yang merusak dan mengakhiri penangkapan ikan berlebihan (overfishing) dan menangani illegal fishing. Jika saja kearifan lokal dipahami pemerintah sebagai modal perlindungan ekosistem laut, maka tidaklah banyak sumberdaya manusia dan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengawasi laut nusantara. Dan anugerah kekayaan alam Indonesia yang luar biasa ini dapat terjaga untuk warisan generasi penerus di masa depan.