Pembicaraan untuk mengimbangi laju perubahan iklim gagal – Greenpeace

Berita - 8 Desember, 2012
Doha, 8 Desember 2012 – Greenpeace mengecam para politisi hari ini atas kegagalan pembicaraan Iklim PBB di Doha. Sementara mereka sepakat untuk periode komitmen kedua dari Protokol Kyoto, langkah itu dinilai masih memiliki banyak celah yang berdampak sangat kecil, atau bahkan tidak sama sekali kepada emisi karbon.

Kumi Naidoo, Direktur Eksekutif Greenpeace Internasional memberikan pernyataan berikut ini :

“Hari ini kami bertanya pada para politisi di Doha : Kalian berada di planet yang mana? Sudah jelas bukan di planet di mana orang-orang sekarat karena badai, banjir dan kekeringan. Maupun planet di mana energi terbarukan sedang berkembang pesat, dan kendala-kendala yang meningkat sedang ditempatkan pada penggunaan bahan bakar kotor seperti batu bara. Pembicaraan di Doha selalu akan menjadi urusan sederhana, tapi mereka gagal untuk mempertahankan bahkan hingga harapan historis yang rendah.”

“Mana tingkat kegentingannya? Laju kemajuannya sangat lambat. Ketidak mampuan pemerintah menemukan landasan bersama untuk memerangi ancaman umum tidak dapat dipahami dan tidak bisa diterima. Tampaknya pemerintah menempatkan kepentingan nasional jangka pendek didepan kelangsungan hidup global jangka panjang.”

“Hanya tiga hari setelah badai Pablo (Bopha) menghantam Filipina dan menunjukan harga yang harus ditanggung oleh manusia akibat cuaca ekstrim di negara-negara yang rentan, keputusan dari politisi untuk tidak meningkatkan kecepatan atau skala dari upaya untuk mengurangi polusi karbon tidak dapat dimaafkan.  Proses internasional timpang, sementara laju krisis terus cepat. Tapi dengan dampak yang meningkat dari perubahan iklim, tekanan untuk kesepakatan global di tahun 2015 yang serius akan semakin intensif.”

Merefleksikan perilaku beberapa pemerintahan, ia menambahkan :

“Kali ini Eropa, yang biasanya terlihat sebagai pemimpin perubahan iklim datang dengan tangan kotor. Akibat kegagalan kolektif dari keberanian politis, pemerintah Eropa memilih memihak Polandia yang menuntut hak untuk menjaga ‘udara panas’ yang diberikan kepada mereka dari kredit Kyoto di tahun 1990. Eropa juga menolak untuk melampaui target emisi 20%, yang hampir tidak menurunkan emisi dari level saat ini.  Secercah cahaya redup samar dalam bentuk tindakan bertanggung jawab dari pihak Eropa adalah beberapa memberikan janji pendanaan untuk iklim. Jalan untuk merebut kembali kredibilitas iklim bagi Eropa masih sangat jauh.”

“Amerika Serikat tetap berada di luar Protokol Kyoto dan delegasinya datang ke Doha dan segera menghambat kemajuan di hampir setiap sektor. Kendatipun Badai Sandy mendatangkan kehancuran dan jejak pendapat menunjukan dukungan mayoritas bagi kebijakan iklim, tim Obama tidak menunjukan kemajuan dari COP sebelumnya. Dengan subsidi kepemerintahannya yang datang dari eksport bahan bakar fosil yang dapat meniadakan pengurangan polusi karbon dalam negeri, peninggalan Presiden Obama dapat berubah menjadi tidak lebih baik dari pendahulunya.“

“Negara-negara berkembang seperti China, India, Afrika Selatan dan Brazil harus melangkah dan mengambil peran yang lebih progresif dalam membangun kesepakatan iklim 2015, serta pengetatan target emisi sebelum tahun 2020.”

“Pemerintah akan melakukannya dengan baik dengan meniru apa yang dilakukan Republik Dominika, yang walaupun memiliki sebagian kecil dari kekayaan yang dimiliki negara-negara yang mengambil komitmen di Doha untuk perdagangan emisi 25% dibawah tingkat 2010, yang akan diterapkan tanpa syarat dan menggunakan uang mereka sendiri.”

“Pada hari di mana negosiasi berakhir, Greenpeace mengumumkan bahwa kapal M/Y Esperanza telah meninggalkan pelabuhan Manila untuk menanggapi krisis kemanusiaan di Mindanao, membatalkan semua pekerjaan perlindungan laut untuk mengantarkan pasokan bantuan darurat dan bekerjasama dengan lembaga bantuan lokal. Harusnya solidaritaslah yang mendominasi negosiasi iklim di Doha pada masa krisis dan bukannya ketidak pedulian, pembicaraan yang sia-sia dan banyaknya ‘udara panas’.”