Temuan Tim Mata Harimau

Berita - 12 Oktober, 2011
Perjalanan tim Mata Harimau yang di mulai pada 20 September 2011 hingga saat ini telah menyusuri beberapa tempat yaitu hutan senepis , di kabupaten Roka Hilir Propinsi Riau, daerah Tesso Nilo hingga bukit tiga puluh di Propinsi Jambi. Tim Mata Harimau telah menemukan bukti-bukti perusakan hutan alam dan lahan gambut rumah bagi harimau sumatera dan keanekaragaman hayati lainnya.

Bukan hanya harimau sumatera yang terancam habitatnya (rumahnya), Orang Rimba yang bertahan hidup di Rimba (hutan) juga bernasib serupa. Mereka tersisih dari tanah mereka sendiri.

Saat tim Mata Harimau berada di Hutan gambut Senepis yang berada di dua kabupaten yakni Rokan Hilir dan Kota Dumai ini sangat mengenaskan. Pada 2007, Menteri Kehutanan RI mengeluarkan izin prinsip untuk menjadikan kawasan Senepis sebagai hutan konservasi Harimau Sumatera. Jadi di sana Tim Mata Harimau tidak menemukan rimbunnya hutan tetapi kehancuran.  Karena saat ini hutan Senepis sudah dimiliki tiga perusahaan kehutanan, Satu perusahaan HPH (hak pengelolaan hutan) dan dua perusahaan HTI (Hutan Tanaman Industri – Akasia) milik divisi pulp and Paper Sinarmas (PT Ruas Utama Jaya – RUJ dan PT Suntara Gaja Pati – SGP). Perusahaan-perusahaan ini  pun membangun kanal-kanal yang berakibat keringnya lahan gambut kaya karbon.

Pemandangan yang sama kami temukan di Tesso Nilo. Tesso Nilo merupakan kawasan gambut dengan kedalaman lebih dari tiga meter, dimana menurut Peraturan Hukum Indonesia praktik itu adalah ilegal. Di kawasan ini, lagi-lagi aktivis Greenpeace menyaksikan hutan di sekitar Kawasan Hutan Tesso Nilo dihancurkan untuk dijadikan perkebunan Hutan Tanaman Industri (HTI) oleh PT. Arara Abadi (salah satu anak perusahaan Asia Pulp and Paper –APP). Kawasan yang juga merupakan habitat harimau sumatera.

Hariansyah Usman, Direktur Eksekutif Walhi Riau menjelaskan bahwa “Dalam melancarkan bisnisnya Sinar Mas grup dan anak perusahaannya telah menghancurkan kawasan hutan alam tersisa, mengakibatkan punahnya ratusan ribu satwa dan spesies endemik lainnya. Ribuan hektar lahan gambut bernilai konservasi tinggi juga telah disulap menjadi areal HPHTI. Sementara kawasan hutan yang masih tersisa pada ek HPH --tak terkecuali kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tiga Puluh-- terus diincar dan dibabat untuk memenuhi bahan baku pabrik kertas dan tissu. Masyarakat korban yang memperjuangkan lahan mereka pun tak lepas dari ancam perusahaan”.

Rencana tim Mata Harimau untuk meneruskan perjalanan ke kawasan Bukit Tigapuluh untuk bertatap muka dengan Orang Rimba terhalang, Jalan yang tim lalui di klaim menjadi jalan perusahaan. Dua perusahaan yaitu PT. Tebo Multi Agro (TMA) dan PT. Wira Karya Sakti (WKS) yang mengklaim jalan tersebut, sehingga untuk melewatinya harus ada izin dari perusahaan terkait.  Jalan yang tim Mata Harimau tempuh adalah jalan satu-satunya yang dapat dilalui untuk sampai ke bukti tigapuluh untuk bertemu dengan Orang Rimba. Jalan ini lah yang biasa di tempuh masyarakat umum lainnya.

 

Direktur Eksekutif Walhi Jambi Arif Munandar mengatakan “ Konflik antara satwa dan manusia telah banyak menimbulkan korban jiwa sebanyak sembilan orang warga yang meninggal akibat diterkam harimau sumatera pada periode 2009. Konflik tersebut terjadi di sekitar wilayah konsesi HTI PT. WKS yang merupakan anak perusahaan Asia Pulp and Paper (app) dari Grup Sinar Mas. Konversi hutan alam di wilayah kabupaten Muara Jambi merupakan pemicu hilangnya habitat harimau dan tingginya konflik manusia dan satwa”. Adanya izin-izin pembukaan hutan yang tidak mempertimbangan keseimbangan alam membuat permasalahn yang sangat rumit di kemudian hari.

Bertambahnya luasan izin tebang perusahaan-perusahaan tersebut membuat semakin sempit dan hilangnya tempat tinggal masyarakat hutan seperti Orang Rimba di Bukit Tigapuluh. terdapat 500 jiwa Orang Rimba yang masih bergantung pada keberadaan sumber daya hutan. Namun saat ini sumber daya hutan tersebut kini terancam untuk dikonversi. Oleh karena itu perusahaan secara tidak langsung merampas kehidupan Orang Rimba sehingga penduduk asli Jambi ini semakin marjinal di tanahnya sendiri.

Diki Kurniawan Manager Program dan Advokasi KKI Warsi menuturkan bahwa “Sepanjang sejarah penghancuran kawasan hidup Orang Rimba di Jambi, minim sekali dilakukan perlawanan untuk mempertahankan hak-hak mereka.Situasi ini juga menunjukkan adanya pelanggaran HAM oleh Perusahaan dan Pemerintah. Mereka sengaja mengabaikan dampak sosial orang rimba sebagai suku asli marginal yang semakin sengsara dan terlantar”.

Slogan sustainable dalam kawasan produksi APP yang sering mereka serukan ternyata hanya bohong belaka. Hasil temuan kami sepajang perjalanan tur Mata Harimau dari hutan Senepis di Rokan Hilir, kemudian Tesso Nilo, Peranap hingga di Jambi, membuktikan bahwa perusahaan APP masih melakukan deforestasi hutan alam dan kawasan gambut. Menguras habis semua kekayaan hutan dan menyingkirkan siapapun yang hidup di dalamnya.

Zulfahmi Juru Kampanye Greenpeace menegaskan bahwa "Greenpeace meminta APP segera menghentikan praktek-praktek yang merusak hutan alam dan melanggar hak hak masyarakat adat yang bermukim di kawasan hutan. Perusahaan juga kami minta untuk segera beralih kepada praktek praktek operasional yang lestari dan bertanggungjawab terhadap kelestarian lingkungan".

Hutan yang menjadi rumah Harimau Sumatera terus dihancurkan, saat ini hanya tersisa 400 ekor harimau sumatera di alam liar. Pemerintah Indonesia memperkirakan lebih dari satu juta hektar hutan Indonesia hancur setiap tahunnya. Dengan laju perusakan seperti saat ini, hewan menakjubkan yang telah menjadi inspirasi banyak khasanah budaya Indonesia ini terancam punah, senasib dengan Harimau Jawa dan Bali.