Membukaan lahan yang di lakukan APRIL di Semenanjung Kampar. Lokasi yang tidak jauh dari Kamp Pembela Iklim Greenpeace di Teluk Meranti, Riau
Dengan memaparkan bukti berupa foto dan peta ini, Greenpeace
menyerukan kepada Presiden Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono
untuk segera mencabut izin perambahan lahan gambut yang sangat
kaya akan karbon tersebut oleh APRIL.
"APRIL memberitakan kepada masyarakat dan Greenpeace bahwa
mereka tidak merusak hutan di Semenanjung secara ilegal, namun kami
memiliki bukti-bukti yang menunjukkan adanya mesin penggali sedang
merusak hutan dan indikasi kuat bahwa kegiatan itu berlangsung di
lahan gambut yang dalam," tegas Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia
Tenggara Bustar Maitar berbicara dari Semenanjung Kampar.
Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA)
Departemen Kehutanan Darori dalam wawancara dengan sebuah surat
kabar nasional mengatakan telah ada izin keluar untuk lahan gambut
di Semenanjung Kampar berupa hak pengusahaan hutan (HPH) dan izin
penanaman hutan tanaman industri (HTI). Namun, dia mengatakan
apabila terdapat bukti yang menunjukkan adanya perusahaan yang
beroperasi di lahan gambut dengan kedalaman lebih dari tiga meter,
izin perusahaan tersebut akan dicabut.
"Pemberian izin itu ada aturannya, yaitu sejauh lahan gambut
yang dialihfungsikan tidak melebihi tiga meter," kata Darori. "Saya
tidak antikritik. Kalau ditemukan data gambut yang melebihi tiga
meter, izin HPH dan HTI akan dicabut."
"Area lahan gambut ini sangat dalam, dan dari perspektif iklim,
sosial serta keanekaragaman hayati lahan ini harus dilindungi.
Perusakan terhadap area seperti ini yang membawa Indonesia menjadi
negara ketiga pencemar iklim di dunia setelah Amerika Serikat dan
Cina," kata Maitar. "Kami mendesak Presiden Yudhoyono untuk
memerintahkan Menteri Kehutanan agar segera mencabut izin APRIL
untuk memenuhi komitmen pengurangan emisi gas rumah kaca."
Aktivis Greenpeace telah mendirikan 'Pos
Pembela Iklim' di jantung Semenanjung Kampar yang sedang terancam
untuk memperlihatkan kepada para pemimpin dunia bahwa untuk
menghindari krisis iklim, mereka harus melawan deforestasi. Selama
beberapa minggu ke depan menjelang konferensi Iklim di Kopenhagen,
Greenpeace dan masyarakat daerah tersebut berencana akan terus
membangun bendungan di area Semenanjung Kampar - yang lahan
gambutnya menyimpan 2 miliar ton karbon - minggu-minggu mendatang
menjelang pertemuan iklim PBB bulan Desember.
"Kami mengambil aksi untuk menghentikan perubahan iklim di
hadapan perusakan hutan. Untuk menarik mundur dunia dari tebing
krisis iklim, kita memerlukan Obama, Merkel, Sarkozy, Brown dan
para pemimpin dunia lainnya untuk berkomitmen memotong drastis
emisi dari bahan bakar fosil dan menyalurkan dana kritis yang
diperlukan untuk mengakhiri deforestasi. Jika mereka gagal, kita
akan menghadapi kepunahan spesies, banjir, kekeringan dan kelaparan
pada masa hidup kita," lanjut Maitar.
Greenpeace meluncurkan "Panduan Politik Iklim" di pertemuan
iklim PBB di Barcelona, yang mengidentifikasi Presiden Amerika
Serikat Barrack Obama sebagai pemimpin negara yang dianggap paling
gagal dalam menyediakan kepemimpinan yang diperlukan untuk
memastikan tercapainya perjanjian yang adil, ambisius dan
mengikat.
Dalam panduan ini juga terdapat rincian posisi para pemimpin
negara yang kemungkinan akan mewujudkan atau justru menggagalkan
perjanjian iklim di Kopenhagen Desember mendatang. Posisi mereka di
analisa dari aspek penurunan emisi, mekanisme finansial,
perlindungan hutan, kerangka kerja legal dalam rangka pertemuan
Kopenhagen, dan langkah nyata mereka dalam menurunkan emisi di
dalam negeri. Detail lengkap ada di http://www.greenpeace.org/climate-politics-guide.
Informasi lebih lanjut http://www.greenpeace.or.id/pembelaiklim
(1) Map link
http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/pembelaiklim/kampar_peatdepth_april
(2) Kompas, 4 November 2009 Online version: For further information
please see:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/04/03562471/hutan.gambut.masih.terancam
Background media briefing on Indonesia's forests and climate change
is available at:
www.greenpeace.org/climatedefenders/rainforests-and-climate-change.