Seorang aktivis Greenpeace memegang banner Chang(e) Caravan di pusat Penelitian dan Konservasi gajah Thailand saat upacara peluncuran Greenpeace Chang(e) Caravan. Chang(e) Caravan, yang diluncurkan kemarin oleh Greenpeace, akan melewati thailand's Central Plains, menunjukan dampak perubahan iklim, meminta para pemimpin dunia terutama Presiden Amerika Serikat Barack Obama, untuk mengambil tindakan tegas pada pemanasan global.
Anak-anak sekolah pada diskusi untuk meningkatkan kesadaran mengenai konservasi gajah yang dilakukan oleh Gajah Thai Dana Penelitian dan Konservasi (TERF) pada peluncuran Chang (e) Caravan di pusat konservasi gajah di Taman Nasional Khao Yai,sekitar 200 kilometer dari Bangkok. 15-hari perjalanan akan melewati Central Plains yang luas di Thailand, untuk tiba di pinggiran kota Bangkok. Bangkok menjadi tempat penting dari UNFCCC (Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim) sebelum pertemuan puncak iklim Kopenhagen pada bulan Desember di Copenhagen.
Von Hernandez, Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara, berbicara di depan audiens pada peluncuran Greenpeace chang(e) Caravan di pusat konservasi Taman Nasional Khao Yai, sekitar 200 kilometer Utara Bangkok. Chang (e) Caravan, parade rakyat untuk perubahan, yang dipimpin oleh gajah direhabilitasi oleh Gajah Thai Dana Penelitian dan Konservasi (TERF)
Seorang aktivis Greenpeace memimpin perjalanan Chang (e) Caravan di sepanjang di Taman Nasional Khao Yai, sekitar 200 kilometer dari Bangkok.
Gajah (chang dalam bahasa Thailand) Asia dan para pawang beristirahat di sebuah jalan dekat Taman Nasional Khao Yai, sekitar 200 kilometer dari Bangkok, pada hari pertama Chang (e) Caravan.
Aksi yang bertajuk Chang (e) Caravan
ini, diluncurkan dalam sebuah upacara meriah di kawasan Taman
Nasional Khao Yai, Thailand, yang selain masuk dalam kawasan
Warisan Dunia UNESCO juga merupakan salah satu tempat perlindungan
terakhir gajah Asia. Gajah (Chang dalam bahasa Thailand) di Asia
saat ini menghadapi ancaman besar kepunahan karena hutan mereka
makin lama makin habis.
"Asia Tenggara adalah kawasan yang
paling rentan dan juga paling tidak siap menghadapi dampak
perubahan iklim. Gajah Asia, dan juga hampir 20 persen
keanekaragaman hayati di dunia yang ada di kawasan Asia Tenggara
saat ini sangat terancam oleh laju cepat deforestasi yang berakibat
memperbesar dampak perubahan iklim," ujar Von Hernandez, Direktur
Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara.
"Sayangnya meski ilmu pengetahuan
dan pertanda telah secara jelas menunjukkan ini, para pemimpin
dunia belum bereaksi apa-apa -bahkan sepertinya tidak berniat-
untuk melakukan sesuatu. Ini saatnya Presiden Obama untuk mengambil
alih tanggung jawab dan mewujudkan perubahan yang telah ia
janjikan. Ia punya kesempatan kedua untuk membuat sejarah lagi. Dan
kesempatan itu bisa terjadi di ajang United Nations General
Assembly di New York, 22 September mendatang," imbuh Von.
Chang Caravan, perjalanan rakyat
untuk perubahan, dipimpin oleh gajah-gajah yang selama ini
direhabilitasi oleh Yayasan Penelitian dan Konservasi Gajah
Thailand (TERF), adalah inisiatif TckTckTck yang melibatkan banyak
organisasi nasional dan global yang bersatu untuk mewujudkan satu
tujuan: menggalang rakyat sipil dan membentuk opini publik, demi
mendukung perubahan dan aksi segera dalam menyelamatkan planet bumi
dari dampak berbahaya perubahan iklim.
Perjalanan 15 hari ini akan
melintasi pusat daratan Thailand, mulai dari Taman Nasional Khao
Yai menuju Bangkok. Saat rombongan tiba, Bangkok akan menjadi tuan
rumah pertemuan penting pra Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim
(UNFCCC) jelang pertemuan sebenarnya di Kopenhagen Desember
mendatang.
"Waktu semakin habis. Perjanjian
iklim yang kuat tidak hanya akan menangkal dampak berbahaya
perubahan iklim - tetapi juga akan membantu kita mengatasi
masalah-masalah besar dunia-keamanan energi, ketahanan pangan,
keamanan air dan melindungi keanekaragaman hayati," tegas Joko
Arif, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara dari Indonesia
yang mengikuti aksi di Thailand ini.
"Gajah adalah spesies kunci yang
membantu menjaga ekosistem di habitat mereka. Melindungi gajah
caranya melindungi rumah mereka di hutan, juga berarti melindungi
keseluruhan ekosistem dimana umat manusia juga bergantung padanya.
Negara berkembang membutuhkan bantuan dari negara maju untuk
menghentikan deforestasi. Meski demikian, pemerintah negara
berkembang juga harus menegakkan hukum demi melindungi gajah dan
hutan," ujar Alongkot Chukaew, Direktur Eksekutif TERF.
View
Chang(e) Caravan (English) in a larger map
Partner lain dalam perjalanan
idealis ini antara lain Wild Animal Rescue Foundation Thailand,
General Chatchai Choonhavan Foundation, Agri-Nature Foundation,
Self-sufficiency Economy institute Universitas Rajabhat
Rajanagarindra University, dan Ancient Siam.
Hasil penelitian ilmiah terakhir
menyatakan bahwa bencana akibat perubahan iklim bisa ditangkal
dengan mengurangi emisi gas rumah kaca global pada 2015 demi
mempertahankan temperatur global di bawah dua derajat selsius.
Greenpeace mendesak negara maju untuk setuju mengurangi emisi
mereka hingga 40 persen dari tingkat emisi 1990, pada 2020
mendatang.
Chang(e) Caravan saat ini
meluncurkan petisi di situs:
http://www.greenpeacesoutheastasia.org/