Berita - 28 Agustus, 2008
Sebuah dialog yang diselenggarakan Greenpeace minggu ini menyediakan wahana bagi pelaku kunci industri kelapa sawit Indonesia untuk menyatakan kesungguhan mereka mendukung jeda atau moratorium deforestasi. Moratorium bagi semua bentuk konversi hutan termasuk penebangan komersil sangat dibutuhkan guna mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) Indonesia, menjaga keanekaragaman hayati yang kaya serta melindungi penghidupaan jutaan orang di seluruh Indonesia yang merupakan bagian dari masyarakat yang bergantung pada hutan.
Dialog Greenpeace dengan para pelaku kunci di Industri kelapa sawit di selenggarakan pada 26 Agustus 2008. Dialog yang bertajuk “Dapatkah Industri Kelapa Sawit Menghentikan Deforestasi di Indonesia?” bertujuan untuk menyosialisasikan tujuan kampanye Stop Deforestasi Greenpeace melalui pemaparan kriteria moratorium. Puluhan produsen dan pemasok besar termasuk Unilever, Sinar Mas hadir dalam acara ini beserta perwakilan pemerintah dari Departemen Pertanian penasihat senior Program Aceh Hijau dan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS).
Sebuah dialog yang diselenggarakan Greenpeace minggu ini
menyediakan wahana bagi pelaku kunci industri kelapa sawit
Indonesia untuk menyatakan kesungguhan mereka mendukung jeda atau
moratorium deforestasi. Moratorium bagi semua bentuk konversi hutan
termasuk penebangan komersil sangat dibutuhkan guna mengurangi
emisi gas rumah kaca (GRK) Indonesia, menjaga keanekaragaman hayati
yang kaya serta melindungi penghidupaan jutaan orang di seluruh
Indonesia yang merupakan bagian dari masyarakat yang bergantung
pada hutan.
Dialog bertajuk "Dapatkah Industri Kelapa Sawit Menghentikan
Deforestasi di Indonesia?" bertujuan untuk menyosialisasikan tujuan
kampanye Stop Deforestasi Greenpeace melalui pemaparan kriteria
moratorium. Puluhan produsen dan pemasok besar termasuk Unilever,
Sinar Mas hadir dalam acara ini beserta perwakilan pemerintah dari
Departemen Pertanian penasihat senior Program Aceh Hijau dan
Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS).
Moratorium deforestasi merupakan suatu mekanisme untuk
menghentikan penghancuran hutan sementara menyediakan waktu dan
ruang yang dibutuhkan untuk membangun jaringan kawasan fungsi
lindung serta kawasan yang diperuntukkan untuk penggunaan hutan
yang bertanggung jawab secara ekologis dan berkeadilan sosial.
Perusahaan-perusahaan pengguna kelapa sawit terbesar di dunia
telah menggeser posisi kebijakan mereka dan menyatakan dukungan
mereka terhadap moratorium deforestasi. Salah satu perusahaan
pengguna kelapa sawit terbesar di dunia, Unilever, telah menyatakan
dukungannya secara terbuka terhadap moratorium deforestasi akibat
perluasan kelapa sawit di Indonesia. Unilever menyadari bahwa
menangguk laba di atas pengrusakan hutan bukanlah cara berbisnis
yang baik dan akan mengakibatkan adanya beban "karbon" yang semakin
hari semakin dianggap sebagai beban dan risiko investasi.
Saat ini Unilever sedang melakukan negosiasi dengan beberapa
perusahaan multinasional di bidang makanan, kosmetik serta bahan
bakar nabati demi membangun koalisi di antara mereka guna mendukung
moratorium. Industri kelapa sawit di Indonesia seharusnya merespon
kemungkinan terjadinya penolakan pasar, khususnya dari Eropa, dan
menggunakan kesempatan ini untuk meletakkan landasan bagi
terwujudnya kelapa sawit dari sumber berkelanjutan sesuai dengan
permintaan pasar.
Dukung Kami
Pendanaan Greenpeace TIDAK berasal dari pemerintah atau perusahaan tetapi berasal dari individu-individu seperti anda.