Anda di sini:
Aktivis Greenpeace di depan kantor BMC. Greenpeace mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di sisa masa kepemimpinannya untuk segera melakukan langkah nyata melindungi hutan yang masih tersisa di Indonesia, dengan menggelar imitasi dari pidato SBY sebelumnya, dimana Presiden menyerukan rakyat Indonesia untuk tidak melupakan warisan alam.
Besarkan GambarDalam beberapa bulan terakhir Greenpeace terus mendesak tim sukses dari tiga kandidat Presiden Indonesia, untuk mengeluarkan komitmen dan program nyata mengatasi pembabatan hutan dan dampak perubahan iklim, jika nanti terpilih. Desakan itu terus disampaikan secara langsung melalui tim sukses maupun melalui serangkaian parodi debat capres di televisi swasta serta di kota-kota tempat para kandidat itu berkampanye. Seluruh kegiatan ini bertujuan untuk mendorong para capres itu untuk lebih serius dalam mencari penyelesaian masalah pembabatan hutan dan perubahan iklim.
Greenpeace telah melakukan beberapa desakan melalui beberapa
pertemuan dengan tim sukses. Jusuf Kalla dalam suatu kesempatan dialog meminta
Greenpeace membantu merealisasikan dana dari negara maju untuk program
perlindungan hutan alam di Indonesia. Sementara Megawati Soekarnoputri dalam
kampanyenya di Palangkaraya telah menyatakan akan menerapkan moratorium
(penghentian sementara) penebangan hutan. Hingga saat ini Susilo Bambang
Yudhoyono belum menyatakan tentang programnya untuk menghentikan penebangan
hutan, Kecuali pada suatu iklan di media cetak yang membela posisinya dalam
perlindungan hutan Indonesia.
Sampai sekarang, pemerintah Indonesia masih membiarkan
mayoritas hutan Indonesia dirusak untuk memproduksi kertas, produk perkayuan,
coklat, kosmetik, dan produk kecantikan, minyak goreng, dan apa yang disebut
‘biodiesel’. Jika terus dibiarkan, maka pemerintah tidak hanya bersalah karena
tak mampu melindungi lingkungan dan membuat jutaan masyarakat yang hidupnya
bergantung pada hutan kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian, tetapi
juga harus bertanggung jawab atas dampak negatif perubahan iklim.
Desember tahun ini di Kopenhagen akan diselenggarakan pertemuan iklim yang sangat penting untuk menentukan keberhasilan upaya dunia mengatasi dampak perubahan iklim. Di pertemuan ini diharapkan negara-negara maju setuju untuk memberikan milyaran dolar Amerika sebagai dana pemeliharaan dan perlindungan hutan negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Greenpeace mendesak pemerintah Indonesia untuk menunjukkan komitmennya dalam menjaga hutan dengan cara mengimplementasikan moratorium pembabatan hutan untuk memberi ruang dan waktu bagi sistem yang lebih baik yang diperlukan untuk memastikan perlindungan hutan.
Pada pemilihan presiden 8 Juli mendatang merupakan suatu kesempatan untuk masyarakat Indonesia jika kelak presiden yang terpilih mampu membawa rakyat Indonesia mendapatkan keuntungan dengan melindungi hutan dan akan mendatangkan suatu ancaman untuk masyarakat Indonesia jika presiden mendatang membiarkan semua perusakan hutan terus berlanjut dan tidak melakukan apa-apa dalam menggulangi perubahan iklim.