Berita - 7 Agustus, 2008
Greenpeace mendesak menteri energi di Negara-Negara ASEAN menunjukkan kepemimpinan mereka dan tekad kuat untuk menciptakan masa depan dengan berlandaskan sumber-sumber energi terbarukan yang bersih. Bukan membuat jebakan untuk negaranya pada energi nuklir dan energi fosil yang kotor, berbahaya dan mahal. Desakan ini Greenpeace sampaikan pada pertemuan dengan media yang di adakan tepat saat pertemuan Menteri Energi Negara-negara Asean di Bangkok, Thailand.
Greenpeace melakukan kirab aksi dari Galeri Seni Bangkok hingga Siam Discovery, Siam Center, siam Paragon menuju Central World Intercontinental hotel tempat di adakannya pertemuan menteri-menteri energi ASEAN (AMEM 2008) dan menyampaikan pesan 'DON'T NUKE ASEAN' (Jangan Gunakan Nuklir ASEAN) kepada publik dan mengajak publik ASEAN memberikan petisi agar ASEAN memimpin Revolusi Energi.
Naiknya harga minyak dan batu bara menjadi agenda utama pada
pertemuan tersebut dalam mensiasati ketahanan energi di ASEAN.
Tetapi pada pertemuan tersebut para menteri energi ini bukan
membahas solusi dengan menerapkan energi terbarukan tetapi
merencanakan peningkatan energi batu bara dan energi nuklir.
Negara-negara ASEAN yang sedang berkembang harus belajar dari
sejarah dan berusaha menurunkan emisi karbondioksida dengan memilih
sumber-sumber energi yang terbarukan dan mendorong efisiensi energi
pada saat negara-negara tersebut mengkonsumsi energi secara terus
menerus dan bertambah seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Penurunan
emisi gas rumah kaca akan semakin meningkat jika memilih teknologi
energi yang salah.
Negara-negara Asia Tenggara secara kolektif menduduki peringkat
ketiga didunia sebagai penyumbang emisi CO2 di antara negara
berkembang lainnya setelah Cina dan India. Masa depan perkembangan
energi terbarukan di Asia Tenggara di tentukan pilihan-pilihan
politik yang diambil oleh pemerintah masih-masih serta ASEAN.
Sebagai tuan rumah negara-negara yang paling rentan terhadap dampak
perubahan iklim, ASEAN harus mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk
iklim dan energi yang tepat, Keputusan yang diambil dalam beberapa
tahun ke depan akan memiliki dampak yang berkepanjangan.
Tahun lalu ASEAN membuat keputusan bahwa permasalahan perubahaan
iklim dan energi sebagai salah satu masalah utama dan keputusan
ASEAN untuk meningkatkan energi bersih untuk kebutuhan energi
listrik di kawasan ASEAN hingga 10% pada tahun 2010 adalah
keputusan yang Greenpeace sambut baik. Tetapi keputusan tahun lalu
hanya sekedar keputusan di atas kertas. ASEAN Gagal mencapai
target-target tersebut secara nyata.
Negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Thailand dan Vietnam
telah termakan bujuk rayu industri nuklir dan telah membuat boom
waktu untuk seluruh penduduknya. Hal ini bukan cara yang tepat
untuk mecapai ketahanan energi dan mengatasi permasalahaan
perubahaan iklim. Besarnya biaya dalam pembangunan PLTN dan blom
adanya jalan keluar untuk pembuangan limbah yang di hasilkan PLTN.
Nuklir bukan lah suatu solusi untuk mengurangi perubahaan iklim
Desakan Greenpeace pada pemerintah negara-negara ASEAN untuk
memimpin energi terbarukan serta memulai kebijakan untuk mengurangi
emisi CO2. Berikut tahap-tahap yang harus dilakukan para pemimpin
negara ASEAN :
- Memenuhi target regional untuk menggunakan 10% sumber energi
terbarukan pada tahun 2010
- Menetapkan target 40% penggunaan energi terbarukan pada tahun
2020
- Membuka mekanisme pendukung Seperti akses jaringan dan pilihan
yang baik untuk energi bersih serta dukungan untuk usaha pembangkit
listrik yang mengembangkan energi terbarukan.
- Melakukan standar energi efisiensi yang ketat bagi peralatan
elektronik, lampu, gedung serta kendaraan
- Meninggalkan cerita Batu bara bersih dan nuklir adalah sebuah
solusi dari perubahaan iklim
-