Greenpeace mendesak AMEM memulai Revolusi Energi dengan target 40% pada tahun 2020

Berita - 7 Agustus, 2008
Greenpeace mendesak menteri energi di Negara-Negara ASEAN menunjukkan kepemimpinan mereka dan tekad kuat untuk menciptakan masa depan dengan berlandaskan sumber-sumber energi terbarukan yang bersih. Bukan membuat jebakan untuk negaranya pada energi nuklir dan energi fosil yang kotor, berbahaya dan mahal. Desakan ini Greenpeace sampaikan pada pertemuan dengan media yang di adakan tepat saat pertemuan Menteri Energi Negara-negara Asean di Bangkok, Thailand.

Greenpeace melakukan kirab aksi dari Galeri Seni Bangkok hingga Siam Discovery, Siam Center, siam Paragon menuju Central World Intercontinental hotel tempat di adakannya pertemuan menteri-menteri energi ASEAN (AMEM 2008) dan menyampaikan pesan 'DON'T NUKE ASEAN' (Jangan Gunakan Nuklir ASEAN) kepada publik dan mengajak publik ASEAN memberikan petisi agar ASEAN memimpin Revolusi Energi.

Naiknya harga minyak dan batu bara menjadi agenda utama pada pertemuan tersebut dalam mensiasati ketahanan energi di ASEAN. Tetapi pada pertemuan tersebut para menteri energi ini bukan membahas solusi dengan menerapkan energi terbarukan tetapi merencanakan peningkatan energi batu bara dan energi nuklir.

Negara-negara ASEAN yang sedang berkembang harus belajar dari sejarah dan berusaha menurunkan emisi karbondioksida dengan memilih sumber-sumber energi yang terbarukan dan mendorong efisiensi energi pada saat negara-negara tersebut mengkonsumsi energi secara terus menerus dan bertambah seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Penurunan emisi gas rumah kaca akan semakin meningkat jika memilih teknologi energi yang salah. 

Negara-negara Asia Tenggara secara kolektif menduduki peringkat ketiga didunia sebagai penyumbang emisi CO2 di antara negara berkembang lainnya setelah Cina dan India. Masa depan perkembangan energi terbarukan di Asia Tenggara di tentukan pilihan-pilihan politik yang diambil oleh pemerintah masih-masih serta ASEAN. Sebagai tuan rumah negara-negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, ASEAN harus mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk iklim dan energi yang tepat, Keputusan yang diambil dalam beberapa tahun ke depan akan memiliki dampak yang berkepanjangan.

Tahun lalu ASEAN membuat keputusan bahwa permasalahan perubahaan iklim dan energi sebagai salah satu masalah utama dan keputusan ASEAN untuk meningkatkan energi bersih untuk kebutuhan energi listrik di kawasan ASEAN hingga 10% pada tahun 2010 adalah keputusan yang Greenpeace sambut baik. Tetapi keputusan tahun lalu hanya sekedar keputusan di atas kertas. ASEAN Gagal  mencapai target-target tersebut secara nyata.

Negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Thailand dan Vietnam telah termakan bujuk rayu industri nuklir dan telah membuat boom waktu untuk seluruh penduduknya. Hal ini bukan cara yang tepat untuk mecapai ketahanan energi dan mengatasi permasalahaan perubahaan iklim. Besarnya biaya dalam pembangunan PLTN dan blom adanya jalan keluar untuk pembuangan limbah yang di hasilkan PLTN. Nuklir bukan lah suatu solusi untuk mengurangi perubahaan iklim

Desakan Greenpeace pada pemerintah negara-negara ASEAN untuk memimpin energi terbarukan serta memulai kebijakan untuk mengurangi emisi CO2. Berikut tahap-tahap yang harus dilakukan para pemimpin negara ASEAN :

  • Memenuhi target regional untuk menggunakan 10% sumber energi terbarukan pada tahun 2010
  • Menetapkan target 40% penggunaan energi terbarukan pada tahun 2020
  • Membuka mekanisme pendukung Seperti akses jaringan dan pilihan yang baik untuk energi bersih serta dukungan untuk usaha pembangkit listrik  yang mengembangkan energi terbarukan.
  • Melakukan standar energi efisiensi yang ketat bagi peralatan elektronik, lampu, gedung serta kendaraan
  • Meninggalkan cerita Batu bara bersih dan nuklir adalah sebuah solusi dari perubahaan iklim