Disaksikan oleh beberapa 'bintang sepak bola internasional',
penyerahan piala ini sebagai simbol dari dampak buruk penghancuran
hutan di Indonesia. Piala diserahkan kepada aktivis yang mengenakan
topeng SBY oleh Orangutan yang hidupnya makin terancam akibat
pembabatan hutan.
Greenpeace menyerahkan piala ini juga sebagai pengingat bahwa
Indonesia adalah Negara dengan laju deforestasi tercepat di seluruh
dunia. Setiap menit area hutan setara dengan luas lima lapangan
sepak bola dihancurkan sebagian besar untuk dijadikan perkebunan
kelapa sawit dan pulp and paper, atau rata-rata 1,8 juta hektar
hutan per tahun. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai Negara
penghasil emisi gas rumah kaca ketiga terbesar di dunia setelah
China dan Amerika Serikat.
"Moratorium (penghentian sementara) perusakan hutan dan lahan
gambut adalah cara paling efektif untuk mencapai target pengurangan
emisi Indonesia,"ujar Joko Arif, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia
Tenggara. "Melindungi lahan gambut juga bisa membawa keuntungan
ekonomis bagi Indonesia. Presiden Yudhoyono harus memberikan 'kartu
merah'kepada penjahat hutan seperti Sinar Mas dan APRIL yang masih
terus menghancurkan hutan dan masa depan Indonesia."
Setelah terpilih kembali sebagai presiden, SBY mengeluarkan
komitmen ambisius mengurangi emisi Indonesia hingga 26% pada 2020
dan 41% dengan dukungan internasional. Tetapi hingga saat ini belum
ada aksi atau kebijakan nyata untuk mewujudkan komitmen itu. Bahkan
pemerintah terus mendukung perkebunan baru dan membiarkan industri
raksasa seperti Sinar Mas dan APRIL terus melakukan aktivitas
perusakan.
Satu-satunya solusi yang sudah dilontarkan pemerintah untuk
mengurangi emisi Indonesia adalah dengan program penanaman kembali,
tetapi membiarkan perusakan hutan dan lahan gambut yang nyata-nyata
adalah sumber terbesar emisi Indonesia, merugikan hajat hidup
masyarakat yang tergantung pada hutan, serta mengancam
keanekaragaman hayati.
Pada tahun 2010 ini pemerintah Indonesia harus memperlihatkan
keseriusannya mewujudkan target penurunan emisi itu dengan
mengimplementasikan moratorium penghancuran hutan dan lahan gambut.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) baru-baru ini
saat melakukan presentasi di Pertemuan Iklim Kopenhagen bahkan juga
sudah merekomendasikan pentingnya penghentian perusakan lahan
gambut.
Meski demikian, pemerintah masih tetap memfokuskan diri pada
program penanaman kembali, sambil berusaha meyakinkan dunia
internasional bahwa penanaman itu adalah hutan. Padahal pada
prakteknya hutan sesungguhnya yang kaya karbon dan keanekaragaman
hayati, akan terus dibiarkan dihancurkan untuk perkebunan kelapa
sawit dan industri kertas. Program penanaman kembali seharusnya
fokus kepada pemulihan ekosistem, bukan kepada perkebunan.
"SBY harus menghentikan penjahat hutan dengan penegakan hukum.
Buktinya PT. RAPP saat ini sedang diinvestigasi karena secara
illegal membabat hutan lahan gambut di Semenanjung Kampar, Sumatra.
Dalam program kerja 100 harinya yang akan jatuh pada 28 Januari
2010 mendatang, SBY masih punya kesempatan untuk menunjukkan
itikadnya dengan mencabut seluruh izin RAPP di Kampar. Itu akan
menunjukkan keseriusannya memerangi perubahan iklim,"Arif menutup
percakapan.
Greenpeace adalah organisasi kampanye global yang beraksi untuk
mengubak sikap dan perilaku, untuk melindungi dan memelihara
lingkungan, dan mempromosikan perdamaian.