Dua aktivis Greenpeace menggantungkan banner bertuliskan "Perusakan Hutan: Anda Bisa Menghentikan ini" dan "Penjahat Iklim" di atas derek di dermaga yang merupakan fasilitas perusahaan yang dioperasikan oleh APP, perusahaan pulp dan kertas milik Sinar Mas di Provinsi Riau
Duabelas aktivis memblok derek di dermaga untuk menghentikan
ekspor pulp, dan membentangkan spanduk bertuliskan: "Penghancuran
Hutan: Anda Dapat Menghentikan Ini", mendesak para pemimpin dunia,
termasuk Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, untuk mengambil
kepemimpinan yang kuat dalam menghentikan kekacauan iklim, dan
menyediakan dana global bagi perlindungan hutan untuk mengakhiri
penghancuran hutan tropis sebagai bagian dari perjanjian iklim yang
adil, ambisius, dan mengikat di Konferensi Iklim PBB di Kopenhagen
pada bulan Desember yang akan datang.
"Deforestasi merupakan salah satu akar krisis iklim. Kami
menghentikan ekspor salah satu perusahaan pulp terbesar di dunia di
garda terdepan penghancuran hutan, untuk memberitahukan para
pemimpin dunia terpilih bahwa mereka mampu - dan harus - menarik
kita semua dari tepi jurang bencana perubahan iklim," kata
Shailendra Yashwant, Direktur Kampanye Greenpeace Asia
Tenggara.
Aksi Greenpeace ini dilakukan setelah Presiden Barack Obama
berusaha mengkerdilkan Perjanjian Iklim Kopenhagen menjadi hanya
sebatas pernyataan politik dan menunda keputusan yang sangat
penting tentang perjanjian iklim yang mengikat secara hukum.
Yashwant melanjutkan: "Presiden Obama dan para pemimpin dunia
lainnya tidak bisa dibiarkan melakukan sabotase terhadap keluarnya
hasil yang kuat di Kopenhagen hanya karena mereka tidak memiliki
kemauan politik. Para pemimpin kita harusnya hanya menyetujui satu
perjanjian yang adil, ambisius dan mengikat agar kita semua bisa
selamat dari bencana iklim. Satu dana yang memadai mendesak
disediakan untuk menghentikan penghancuran hutan tropis di
Indonesia dan di belahan dunia lainnya. Hal ini harus menjadi
bagian utama dari perjanjian iklim."
Perusahaan raksasa APP menjual produknya di pasar global seperti
Cina, Amerika Serikat, Eropa dan Australia dan mensuplai kepada
berbagai merk dan distributor internasional seperti Vogue, Kentucky
Fried Chicken dan Marc Jacobs. APP, bersama dengan saingannya
APRIL, bersama-sama bertanggung jawab atas penghancuran hutan
tropis dan lahan gambut yang kaya karbon di berbagai tempat di
Indonesia, termasuk di kawasan yang sangat rentan seperti
Semenanjung Kampar, di Sumatera. Semenanjung ini mengandung 2
miliar ton karbon dan merupakan salah satu penyimpan karbon
terbesar di dunia, yang merupakan pertahanan kunci dalam melawan
perubahan iklim global.
Greenpeace telah bekerja bersama masyarakat lokal di 'Pos
Pembela Iklim' di Semenanjung Kampar dalam bulan terakhir untuk
menyoroti peran sentral dari deforestasi terhadap perubahan iklim
global. Greenpeace melakukan aksi damai terhadap APRIL di wilayah
tersebut pada 12 November. Sejak itu, organisasi lingkungan ini
bersama masyarakat disana mengalami intimidasi dari aparat setempat
termasuk ancaman, penahanan, dan deportasi. Minggu lalu Menteri
Kehutanan RI, Zulkifli Hasan, memerintahkan penghentian perusakan
hutan oleh APRIL sambil menunggu proses peninjauan kembali
perijinan perusahaan tersbut.
Indonesia merupakan penyumbang ketiga terbesar gas rumah kaca
setelah Amerika Serikat dan Cina, yang berasal dari penghancuran
terus menerus hutan alam dan lahan gambutnya. Dalam lingkup global,
satu juta hektar hutan dihancurkan setiap bulannya - setara dengan
satu lapangan bola setiap dua detik - melepaskan CO2 yang sangat
besar yang menyebabkan deforestasi sebagai satu penyebab utama
perubahan iklim, bertanggung jawab atas seperlima dari emisi gas
rumah kaca global.
Jurkampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara Bustar Maitar
menyatakan:"Indonesia merupakan 'titik nol' perubahan iklim.
Menghentikan penghancuran hutan disini dan di seluruh dunia tidak
hanya merupakan cara termudah, namun juga yang paling efektif dalam
mencegah perubahan iklim yang lebih parah."