Greenpeace aktivis membentangkan banner sebesar 20 x 30 meter di area hutan yang baru saja dirusak bertuliskan: “Obama, Anda Bisa Menghentikan Ini”, menuntut Obama mengambil kepemimpinan kuat dan bekerja sama dengan para pemimpin negara lain demi upaya menghindari krisis iklim dengan cara menghentikan deforestasi
Seperlima dari emisi gas rumah kaca global yang berasal dari
menebang dan pembakaran hutan, jelas kita tidak bisa mencegah
bencana iklim jika para pemimpin dunia tidak mengambil tindakan
untuk menghentikan kehancuran.
Lima puluh aktivis kami di Semananjung Kampar Riau yang berasal
dari Indonesia, Filipina, Thailand, Spanyol, Jerman, Belgia, Brasil
dan Finlandia - menhentikan deforestasi langsung di jantung hutan
tropis Indonesia dan menghentikan perusahaan yang sedang membuka
dan menghancurkan hutan yang kaya akan simpanan karbon di lahan
gambut dan meminta Obama untuk mengambil langkah tegas akan
tindakan untuk perubahan iklim. Beberapa minggu sebelum pertemuan
PBB untuk iklim di Desember, pemerintahan Obama secara aktif
mengulur-ulur negosiasi perubahan iklim.

Sekelompok aktivis membuka spanduk besar dengan ukuran 20x30
meter spanduk di daerah yang hutannya baru saja di hancurkan oleh
perusahaan pulp dan kertas yang berbunyi "Obama: Anda dapat
menghentikan ini". Kelompok lainnya mengunci diri pada tujuh mesin
berat yang berada di tengah hutan yang telah dihancurkan oleh Asia
Pacific Resources International Holding Limited (APRIL - salah satu
perusahaan pulp dan kertas terbesar di Indonesia). Meskipun cuaca
panas terik, nyamuk-nyamuk dan hujan deras - aktivis kami berhasil
bertahan dan tetap terkunci di alat berat tersebut. Para pekerja
bahkan mulai menyalakan tiga dari excavator dan memindahkan salah
satu dari mereka dengan tiga aktivis kami masih terkunci di
atapnya. Mereka berhenti ketika aktivis lainnya dengan berani duduk
tepat di depan mesin.

Sekita 10 Jam para aktivis berada pada situasi yang sangat
menegangkan - ketika karyawan perusahaan membuka paksa rantai dan
memulai menyalakan lagi empat dari alat berat mereka - bahkan
meskipun alat berat itu menyala 7 aktivis kami tetap terkunci ke
atasnya. Polisi bergerak untuk menghentikan protes kami atas
kehancuran hutan yang telah APRIL lakukan. Aktivis kita saat ini
ditahan oleh polisi.
Pembohong - dan hutan kami hilang!
Sebagai tanggapan terhadap surat yang telah kami kirimkan
menuliskan keprihatinan kami tentang kerusakan hutan di daerah
semenanjung kampar kepada APRIL, perusahaan pulp dan kertas APRIL
menyatakan mereka telah menghentikan operasinya di Semenanjung
Kampar. Tapi kita seluruh dunia telah melihatnya bahwa itu sangat
tidak benar. Jadi, awal pekan ini kami meluncurkan bukti-bukti
terbaru - termasuk pengawasan gambar dari udara - yang membuat kami
tidak ada keraguan APRIL menghancurkan hutan ini. Dari data yang
kami dapatkan menimbulkan kecurigaan bahwa perusahaan ini telah
menghancurkan hutan lahan gambut yang mempunyai kedalaman lebih
dari 3 meter. Dalam peraturan undang-undang di Indonesia 3 meter
adalah batas maksimum kedalaman diperbolehkan oleh hukum
Indonesia.
Pada saat yang hampir bersamaan kami membawa bukti-bukti ini ke
sebuah pertemuan publik yang diselenggarakan oleh APRIL di
Pekanbaru.Dimana persahaan tersebut sedang memperkenalkan sebuah
program disebut "High Value Forest Assessment ' yang bertujuan
untuk greenwashi citranya.
Huh...!!! Kita perlu perlindungan hutan SEKARANG!
Aksi hari ini di Semenanjung Kampar Propinsi Riau, Kami telah
membuka "Kamp pembela iklim" pada 26 Oktober lalu. Kehancuran hutan
dan lahan gambut di Indonesia telah mengeluarkan sejumlah besar CO2
dan telah mendorong Indonesia untuk menjadi negara polusi terbesar
ketiga di dunia setelah Cina dan Amerika Serikat. Lahan gambut di
daerah ini menyimpan sekitar 2 milyar ton karbon. Aktivis kami di
kamp telah menghabiskan beberapa minggu terakhir membangun
bendungan di kanal-kanal - yang dibangun oleh perusahaan-perusahaan
kertas untuk menyiapkan lahan perkebunan - untuk mencegah mereka
menguras dan menghancurkan hutan dan gambut ini dan melepaskan CO2
ke atmosfer.
Presiden Obama bergabung bersama 20 kepala negara lain di
Singapura untuk membicarakan Asia-Pacific Economic Cooperation
(APEC) - hanya beberapa minggu sebelum ia dan pemimpin lain harus
menyetujui kesepakatan bersejarah untuk mencegah krisis iklim di
bulan Desember puncak iklim PBB. Daripada terus memblok kemajuan -
Obama dan para pemimpin dunia lain perlu untuk mendorong
perjanjian yang ambisius, adil dan efektif mengakhiri yang mencakup
penghancuran hutan di dunia.