Greenpeace aktivis membentangkan banner sebesar 20 x 30 meter di area hutan yang baru saja dirusak bertuliskan: “Obama, Anda Bisa Menghentikan Ini”, menuntut Obama mengambil kepemimpinan kuat dan bekerja sama dengan para pemimpin negara lain demi upaya menghindari krisis iklim dengan cara menghentikan deforestasi
Satu kelompok aktivis membentangkan banner sebesar 20 x 30 meter
di area hutan yang baru saja dirusak bertuliskan: "Obama, Anda Bisa
Menghentikan Ini", menuntut Obama mengambil kepemimpinan kuat dan
bekerja sama dengan para pemimpin negara lain demi upaya
menghindari krisis iklim dengan cara menghentikan deforestasi, yang
merupakan penyumbang seperlima emisi gas rumah kaca global (1).
Kelompok aktivis lainnya merantai diri kepada tujuh excavator,
milik Perusahaan Asia Pacific Resources International Holding
Limited (APRIL - RGE), salah satu perusahaan kertas terbesar di
Indonesia (2), untuk mencegah excavator itu menghancurkan hutan
lebih jauh lagi guna dijadikan perkebunan (3), ditanam untuk
membuat pupuk dan kertas bagi konsumen internasional, termasuk UPM
Kymmene. Aksi ini bertepatan dua hari sebelum Obama bergabung
dengan 20 kepala negara lain di Singapura dalam rangka Asia-Pacific
Economic Cooperation (APEC) dan beberapa minggu sebelum para
pemimpin dunia harus sepakat menghasilkan kesepakatan bersejarah
untuk menghindari krisis iklim di Pertemuan Iklim PBB, Kopenhagen,
Desember mendatang.
"Greenpeace mengirim pesan penting pada Presiden Obama untuk
melakukan langkah nyata dari garis depan kehancuran hutan dan
iklim. Dia telah berjanji untuk melakukan langkah penting mengenai
perubahan iklim, tetapi hingga beberapa minggu jelang pertemuan
iklim PBB Desember mendatang, pemerintahannya secara aktif
menghalangi dan menunda negosiasi perubahan iklim global (4)," ujar
Rolf Skar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Amerika Serikat. "Sangat
vital bahwa Obama dan para pemimpin dunia lain menghadiri Pertemuan
Iklim PBB dan menyetujui perjanjian ambisius, adil dan efektif
dimana di dalamnya terdapat penghentian perusakan hutan alam di
seluruh dunia."
Greenpeace memperkirakan bahwa untuk menghentikan perusakan
hutan di seluruh dunia dibutuhkan dana dari negara industri sebesar
US$42 miliar (30 miliar euro) per tahun untuk program perlindungan
hutan. Jumlah ini lebih kecil dari yang diberikan pemerintah
Amerika Serikat kepada bank-bank individu dalam masa krisis
finansial tahun lalu,
Aksi hari ini bertempat di Semenanjung Kampar di Pulau Sumatra,
dimana Greenpeace juga telah membangun Kamp Pembela Iklim (Climate
Defenders Camp). Perusakan hutan tropis dan lahan gambut di
Indonesia mengakibatkan terlepasnya CO2 ke udara dalam jumlah
sangat besar, membuat Indonesia tercatat sebagai negara penyumbang
polusi terbesar ketiga di dunia setelah China dan Amerika Serikat
(5). Aktivis di Kamp telah melakukan pembangunan dam di kanal-kanal
yang dibangun oleh perusahaan kertas untuk menyiapkan lahan
perkebunan-dengan tujuan untuk menghentikan pengeringan dan
perusakan lahan gambut yang sangat kaya kandungan karbon. Tanah
gambut di kawasan ini saja menyimpan paling tidak dua miliar ton
karbon yang akan terlepas ke udara jika hutan dihancurkan (6).
Aktivis akan tetap bertahan di sana untuk melindungi hutan alam dan
gambut hingga beberapa waktu ke depan.
"Presiden Yudhoyono baru-baru ini berkomitmen untuk mengurangi
emisi dari deforestasi dan Greenpeace berada di sini di jantung
hutan tropis untuk membantunya mewujudkan janji itu menjadi aksi
nyata," ujar Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara Bustar
Maitar. "Indonesia adalah kilometer nol perubahan iklim.
Menghentikan perusakan hutan di sini dan seluruh dunia tidak hanya
merupakan cara paling efektif dan hemat dalam memerangi perubahan
iklim tetapi juga sangat penting untuk mencegah bencana iklim di
masa hidup kita."
Para aktivis akan bertahan di Kamp Selama mungkin. "Kami akan
bertahan di sini hingga APRIL mengumumkan kepada publik bahwa
mereka akan menghentikan rencana penghancuran hutan guna dijadikan
perkebunan," Bustar menutup percakapan.
(1) Dikalkulasi dari: IPCC (2007). IPCC Fourth Assessment
Report, Working Group III, Final Chapter 1. Page 104. Figure 1.2:
Sources of global CO2 emissions, 1970-2004 (only direct emissions
by sector). http://www.ipcc.ch/ipccreports/ar4-wg3.htm (2) Hampir
semua perusakan hutan alam Indonesia dan lahan gambut untuk
industri pulp and paper disebabkan dua perusahaan raksasa APP -
Sinar Mas dan Asia Pacific Resources International Holding Limited
(APRIL - RGE). Jika digabungkan dua perusahaan ini menguasai lebih
dari 73 persen kapasitas. (3) Konversi hutan gambut ada tiga tahap:
- biasanya pohon ditebang untuk diproses - Kanal dibangun untuk
memindahkan kayu dan mengeringkan gambut sehingga bisa ditanami
kelapa sawit dan akasia. - Hutan tersisa dibersihkan sehingga
gambut makin kering dan melepaskan lebih banyak CO2 (terutama di
tahun El Nino) (4) Target jangka pendek US House of Representatives
climate and energy bill is adalah pengurangan emisi 4% dari 1990
level pada 2020. The IPCC merekomendasikan bahwa negara maju harus
memotong emisi paling tidak 40 persen pada 2020. (5) WRI 2008.
Climate Analysis Indicators Tool (CAIT) Version 6.0 (Washington,
DC: World Resources Institute) http://cait.wri.org (6) Perhitungan
Greenpeace berdasarkan Wahyunto, S. Ritung dan H. Subagjo (2003).
Maps of Area of Peatland Distribution and Carbon Content in
Sumatera, 1990 - 2002. Wetlands International - Indonesia Programme
& Wildlife Habitat Canada (WHC). Untuk info lebih lanjut
silahkan lihat: http://www.greenpeace.org/climatedefenders
Background media briefing mengenai Hutan Indonesia dan Perubahan
Iklim bisa dilihat di:
http://www.greenpeace.org/climatedefenders/rainforests-and-climate-change>