Industri ternak menolak kehancuran Hutan Amazon, sebuah petunjuk untuk perlindungan hutan Indonesia

Berita - 7 Oktober, 2009
Kami mendapat kabar baik dari Amazon yang juga merupakan sebuah kabar baik bagi Indonesia. Empat pelaku Industri ternak bergabung untuk mengurangi jejak karbon dari ternak mereka dan menjawab seruan kita untuk zero deforestasi. JBS-Friboi, Bertin, Minerva dan Marfrig akan berhenti membeli ternak dari daerah hutan yang mengalami deforestasi.

Industri peternakan di Brasil, yang menempati 80% dari total areal hutan gundul Amazon, adalah sumber emisi karbon terbesar Brasil

Langkah ini merupakan respon langsung dari ekspos yang kami lakukan, 'Menyembelih Amazon', yang kami terbitkan kurang dari 4 bulan yang lalu. Sejak itu, kami telah mendapatkan respons yang sangat besar dari perusahaan-perusahaan yang berjuang untuk menjauhkan diri dari kehancuran hutan Amazon. Perusahaan sepatu besar, termasuk Adidas, Nike dan Timberland bekerja bersama dengan kami untuk mengembangkan rencana zero deforestasi dan berkomitmen untuk membatalkan kontrak kecuali produk mereka benar-benar dijamin bebas dari penghancuran hutan Amazon.

Keputusan dan respon yang cepat dari perusahaan-perusahaan dalam mengambil tindakan untuk menghentikan kehancuran Amazon adalah contoh yang baik untuk diikuti oleh para pelaku industri di Indonesia.

Kemenangan yang luar biasa ini sangat jauh dari perkiraan sebelum peluncuran laporan kami, dan sekarang empat perusahaan raksasa industri ternak ini telah ada di jalur yang tepat. Ini merupakan sebuah contoh tindakan yang harus dilakukan untuk menghentikan deforestasi di Negara-negara berkembang pemilik hutan seperti Indonesia dan menunjukkan bahwa tindakan yang cepat dapat dan harus segera dilakukan oleh industri untuk tidak terus mendorong kehancuran hutan.

Bersama-sama, Indonesia dan Brasil menempati peringkat ketiga dan keempat negara pengemisi karbon terbesar di dunia- yang mayoritas berasal dari deforestasi, dan keduanya bertanggung jawab atas 50% emisi global yang di hasilkan dari deforestasi. Secara global, penggundulan hutan menyumbang sekitar 20% dari emisi gas rumah kaca, melebihi emisi yang dihasilkan dari kereta api, pesawat dan mobil di dunia bila dijadikan satu. Oleh karena itu, kesepakatan iklim yang baik hanya akan efektif jika berhasil menangani emisi dari kedua sumber yaitu bahan bakar fosil dan deforestasi.

Pemerintah dan industri di Brazil kini telah menyadari bahwa hutan yang utuh jauh lebih berharga daripada mengeksploitasi sumber daya yang terbatas di hutan Amazon. Perubahan pemikiran ini juga perlu terjadi di Indonesia, terutama karena aktifitas 'bisnis seperti biasa' hanya akan meningkatkan emisi Indonesia dan penurunan luasan hutan sebagai akibatnya.

Pengumuman yang dilakukan di Brasil ini dibuat di suatu acara di Sao Paulo, di mana masing-masing perusahaan mengadopsi peraturan lingkungan dan standard sosial yang baru untuk untuk memastikan bahwa produk mereka tidak berasal dari sapi-sapi yang dibesarkan di daerah-daerah hasil deforestasi. Peraturan ini juga akan membantu mengakhiri perampasan tanah dan ketidakadilan sosial yang banyak terjadi di Amazon. Asosiasi Supermarket Brasil (ABRAS), yang mencakup Walmart dan Carrefour, juga hadir dalam pengumuman tersebut dan ikut mendukung seruan zero deforestasi.

Gubernur Blairo Maggi dari negara bagian Mato Grosso yang memiliki tingkat deforestasi tertinggi di Amazon dan peternakan terbesar di Brasil juga hadir di sana. Maggi mengumumkan bahwa daerahnya akan mendukung upaya-upaya untuk melindungi Amazon dan akan memberikan resolusi tinggi pada gambar satelit untuk pemantauan.

Membuatnya menjadi berhasil

Langkah-langkah pengawasan dilakukan terhadap rantai pasokan dan target yang jelas pada pendaftaran peternakan, baik untuk penawaran ternak secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu diperlukan langkah-langkah untuk mengakhiri pembelian ternak dari masyarakat adat dan melindungi areal hutan dan peternakan yang memperkerjakan budak.

Sektor peternakan Brasil, yang menempati 80 persen dari semua wilayah yang mengalami deforestasi di hutan Amazon, merupakan sumber pengemisi carbón terbesar Brasil. 

Pada sidang majelis Umum PBB  bulan September lalu, Presiden Lula mengumumkan targetnya untuk pengurangan deforestasi sebesar 80% pada tahun 2020 untuk Brasil.

Indonesia perlu segera meningkatkan tata kelola hutannya dan segera mendeklarasikan moratorium (jeda tebang) hutan. Moratorium hutan akan memungkinkan waktu dan ruang untuk melakukan suatu solusi yang akan diformulasikan berdasarkan atas konsultasi dengan masyarakat lokal, nasional, pemerintah daerah serta industri.

Untuk dapat melakukan hal ini, Presiden Yudhoyono perlu mendorong Departemen Kehutanan untuk mempercepat penegakan hukum nasional  pada larangan praktek pembakaran untuk membuka lahan dan penebangan hutan di lahan gambut yang memiliki kedalaman lebih dari 3 meter dalam untuk  perkebunan.

Seperti Presiden Lula,,Presiden Yudhoyono baru-baru ini juga membuat komitmen untuk mengurangi emisi dari deforestasi, pada pertemuan G-20 di Pittsburgh, sebesar 26% pada tahun 2020 dan hingga 41% dengan bantuan internasional.

Komitmen Presiden Yudhoyono ini disambut baik, tetapi waktu terus bergulir untuk mengatasi perubahan iklim dan pengurangan emisi di Indonesia harus besar dan berani.

Melindungi hutan dan mengatasi perubahan iklim

Hanya tersisa waktu 62 hari menuju  pertemuan perubahan Iklim PBB di Kopenhagen. Kita perlu Presiden Lula untuk mendukung inisiatif para industri dan menunjukkan bahwa Brasil siap dan berkomitmen untuk mengakhiri kehancuran Amazon.

Kita perlu Presiden Yudhoyono untuk segera melaksanakan menghentikan deforestasi dan mewujudkan komitmennya menjadi kenyataan secepatnya. Hanya dengan itu dana dapat mengalir dari negara-negara maju untuk melindungi hutan, masyarakat dan keanekaragaman hayati yang bergantung pada mereka, serta membantu menghentikan perubahan iklim.

Kita memerlukan semua pemimpin dunia untuk menghadiri  pertemuan perubahan iklim PBB di Kopenhagen, serta menyetujui kesepakatan yang efektif untuk mencegah krisis iklim yang akan datang. Untuk menjaga suhu global pada tingkat yang aman, kesepakatan yang dibuat harus mencakup dana yang dibutuhkan untuk mengakhiri deforestasi.

Kami menyerukan pemerintah negara maju untuk menyediakan US $ 140 miliar per tahun untuk mengatasi krisis iklim, sehingga negara-negara berkembang dapat mencegah dan beradaptasi terhadap perubahan iklim. Sekitar US $ 40 miliar per tahun dari dana ini harus disediakan untuk perlindungan hutan. Dana tersebut akan diberikan dengan imbalan suatu komitmen penghentian deforestasi pada tahun 2015 di Brasil dan Indonesia dan pada tahun 2020 secara global.

Katakan kepada Presiden Obama

Para pemimpin dunia akan bertemu pada akhir tahun 2009 di Copenhagen untuk menentukan nasib iklim dunia. Mereka dapat membawa kita ke arah pengurangan emisi secara drastis atau akan mengunci planet kita pada bencana yang tak berkesudahan di planet kita akibat perubahan iklim.

Dukung Kami

Greenpeace adalah organisasi kampanye independen. Dukungan finansial dari individu-individu seperti anda adalah tulang punggung untuk kampanye-kampanye Greenpeace. Greenpeace menolak pendanaan dari pemerintah ataupun perusahaan untuk tetap menjaga independen dalam berkampanye.

Kategori