Industri Kertas Raksasa Putuskan Kontrak dengan APRIL Untuk Hentikan Perusakan Hutan Indonesia

Sinyal Pada Pemimpin Dunia Untuk Menghentikan Deforestasi Global

Berita - 13 Nopember, 2009
Meski para aktivis Greenpeace yang kemarin melakukan aksi menghentikan perusakan hutan oleh Asia Pacific Resources International Holding Limited (APRIL), hari ini masih ditahan Kepolisian Indonesia, Perusahaan kertas raksasa global UPM-Kymmene kemarin diberitakan telah mengumumkan akan menghentikan pembelian produk dari APRIL, salah satu perusahaan terbesar di Riau dan bertanggung jawab atas perusakan hutan alam di Indonesia (2).

Membukaan lahan yang di lakukan APRIL di Semenanjung Kampar. Lokasi yang tidak jauh dari Kamp Pembela Iklim Greenpeace di Teluk Meranti, Riau

Greenpeace aktivis membentangkan banner sebesar 20 x 30 meter di area hutan yang baru saja dirusak bertuliskan: “Obama, Anda Bisa Menghentikan Ini”, menuntut Obama mengambil kepemimpinan kuat dan bekerja sama dengan para pemimpin negara lain demi upaya menghindari krisis iklim dengan cara menghentikan deforestasi

Greenpeace aktivis membentangkan banner sebesar 20 x 30 meter di area hutan yang baru saja dirusak bertuliskan: “Obama, Anda Bisa Menghentikan Ini”, menuntut Obama mengambil kepemimpinan kuat dan bekerja sama dengan para pemimpin negara lain demi upaya menghindari krisis iklim dengan cara menghentikan deforestasi

Greenpeace aktivis membentangkan banner sebesar 20 x 30 meter di area hutan yang baru saja dirusak bertuliskan: “Obama, Anda Bisa Menghentikan Ini”, menuntut Obama mengambil kepemimpinan kuat dan bekerja sama dengan para pemimpin negara lain demi upaya menghindari krisis iklim dengan cara menghentikan deforestasi

Greenpeace aktivis mengunci diri di 7 excavator yang dimiliki Asia Pacific Resources International Holding Limited (APRILRGE), Perusahaan pulp dan paper terbesar di Indonesia, yang sedang melakukan penghancuran hutan untuk tanaman industri.

Greenpeace aktivis mengunci diri di 7 excavator yang dimiliki Asia Pacific Resources International Holding Limited (APRILRGE), Perusahaan pulp dan paper terbesar di Indonesia, yang sedang melakukan penghancuran hutan untuk tanaman industri.

Greenpeace aktivis mengunci diri di 7 excavator yang dimiliki Asia Pacific Resources International Holding Limited (APRILRGE), Perusahaan pulp dan paper terbesar di Indonesia, yang sedang melakukan penghancuran hutan untuk tanaman industri.

para aktivis mengunci diri di alat berat yang tengah menghancurkan hutan milik APRIL

para aktivis mengunci diri di alat berat yang tengah menghancurkan hutan milik APRIL

Aktivis Greenpeace membentangkan spanduk "Climate Crime" di atas alat berat perusahaan yang menghancurkan hutan lahan gambut di Semenanjung Kampar

Aktivis Greenpeace membentangkan spanduk bertuliskan "Climate Crime" di konsesi yang telah menghancurkan hutan lahan gambut oleh perusahaan APRIL

Aktivis Greenpeace membentangkan spanduk bertuliskan "Climate Crime" di konsesi yang telah menghancurkan hutan lahan gambut oleh perusahaan APRIL

Aktivis Greenpeace mengunci diri di excavator yang milik APRIL yang telah menghancurkan hutan lahan gambut di Semenanjung kampar.

Aktivis Greenpeace mengunci diri di alat berat milik APRIL yang di gunakan untuk menghancurkan hutan lahan gambut di Semenajung Kampar.

UPM, perusahaan asal Finlandia, yang menyuplai produk-produk seperti kertas fotokopi pada pasar global termasuk Amerika Serikat, China, Eropa dan Australia, mengakui bahwa produk pulp APRIL "berasal dari lingkungan yang rentan" dan dilaporkan telah menyatakan akan memutus kontrak (1). Greenpeace memperkirakan kontrak ini senilai lebih dari 4% dari total produksi pulp APRIL, dengan nilai lebih dari US$55 juta per tahun (2).

"Ini langkah sangat positif dari UPM untuk membantu melindungi hutan alam Indonesia dan lahan gambut kaya karbon, dimana perusakannya menyebabkan perubahan iklim, kepunahan besar-besaran spesies, dan menyebabkan kemiskinan kepada masyarakat lokal yang hidupnya bergantung pada hutan," ujar Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

"Jika perusahaan-perusahaan internasional mulai menjauhi diri dari bencana lingkungan ini, desakan untuk menghentikan deforestasi global di sini dan dan di seluruh dunia akan makin keras terdengar. Penghentian perusakan hutan tidak hanya merupakan cara tercepat dan murah dalam memerangi perubahan iklim tetapi sangat penting untuk menghindari bencana perubahan iklim."

Aksi Greenpeace kemarin berlangsung saat Presiden Amerika Serikat Barrack Obama bersiap mengunjungi Asia untuk menghadiri Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). Para aktivis dari Indonesia, Filipina, Thailand, Spanyol, Jerman, Belgia, Brasil dan Finlandia menghentikan aktivitas operasi APRIL di jantung hutan alam Indonesia di Sumatra. Para aktivis merantai diri mereka pada tujuh eskavator yang sedang digunakan untuk membersihkan lahan dari sisa perusakan hutan untuk dikonversi menjadi perkebunan. Rombingan aktivis lain membentangkan banner besar di daerah yang mengalami kerusakan bertuliskan "Obama: Anda Bisa Menghentikan Ini", mendesak Obama untuk bersama para pemimpin dunia lainnya membantu menanggulangi krisis iklim dengan cara menghentikan deforestasi global, yang menyumbang seperlima dari emisi gas rumah kaca global.

Awal pekan ini Greenpeace mengeluarkan bukti terbaru, termasuk gambar pengamatan dari udara yang membuktikan APRIL merusak area hutan alam dan mengeringkan lahan gambut di Semenanjung Kampar Sumatra dimana kedalaman tanah gambutnya diduga kuat lebih dari tiga meter (3). Ini ilegal berdasarkan hukum di Indonesia.

Lebih dari satu juta hektar hutan yang sebagian besar merupakan hutan tropis hancur setiap bulannya di dunia - setara dengan area hutan seluas satu lapangan sepakbola hancur setiap dua detik. Perusakan hutan tropis dan lahan gambut melepaskan karbon dalam jumlah yang sangat besar sehingga menempatkan Indonesia menjadi negara ketiga terbesar penghasil gas rumah kaca setelah Amerika Serikat dan China.

"Presiden Obama, Presiden Yudhoyono dan para pemimpin dunia lainnya harus mendengarkan dan mengambil tindak nyata untuk menarik kita dari pinggir tebing krisis iklim. Mereka harus menghadiri konferensi iklim PBB dan menyetujui pembentukan kesepakatan yang adil, ambisius dan mengikat mencakup penghentian perusakan hutan tropis di dunia," tegas Von Hernandez, Eksekutif Direktur Greenpeace Asia Tenggara