Greenpeace hari ini menyambut baik pernyataan Menteri Kehutanan Indonesia Zulkifli Hasan, yang memerintahkan perusahaan Pulp dan kertas terbesar di Indonesia, APRIL, untuk menghentikan aktivitas perusakan hutan di Semenanjung Kampar, Riau, sementara mereka mengevaluasi izin tebang APRIL di daerah hutan kaya karbon. Greenpeace menyerukan kepada Presiden Indonesia agar penghentian ini bersifat permanen.
Aktivis Greenpeace membentangkan spanduk bertuliskan "Climate Crime" di konsesi yang telah menghancurkan hutan lahan gambut oleh perusahaan APRIL
Pernyataan Menhut ini menyusul aksi Greenpeace 12 November lalu
di Konsesi APRIL di Semenanjung Kampar yang secara damai
menghentikan operasi perusakan hutan dan menggaris bawahi kegiatan
perusakan hutan untuk dijadikan perkebunan akasia untuk pulp dan
kertas.
"Kami berharap Menteri Kehutanan akan melakukan evaluasi
komprehensif kepada semua izin yang ada di Semenanjung Kampar. Dua
pemain utama di sana adalah APRIL dan Asia Pulp and Paper (APP).
Jika digabungkan keduanya menguasai 73% dari total kapasitas pulp
Indonesia," ujar Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia
Tenggara. "Menyelamatkan hutan adalah keinginan masyarakat
Indonesia - seperti yang didemonstrasikan saat ratusan masyarakat
mendukung Greenpeace sepekan terakhir."
Greenpeace membuka Kamp Pembela Iklim (Climate Defender Camp)
lebih dari tiga pekan lalu untuk menarik perhatian akan peran
penghancuran hutan dan lahan gambut pada perubahan iklim menjelang
pertemuan penting PBB di Kopenhagen Desember mendatang. Sejak saat
itu, kamp telah dikunjungi dan didukung beberapa selebriti seperti
bintang film "Inglorious Basterds" Melanie Laurent, penyanyi
legendaris Indonesia Iwan Fals dan Duta Besar Amerika Serikat Untuk
Indonesia Cameron Hume.
Meski demikian, tidak semua tamu mendapat sambutan meriah. Dalam
satu pekan terakhir, 13 aktivis internasional Greenpeace
dideportasi dari Indonesia, meski mereka semua mempunyai visa
bisnis yang masih berlaku. Lebih jauh lagi dua jurnalis independen
juga ditahan, diinterogasi dan akhirnya dideportasi -meski memegang
visa resmi-menimbulkan kritik dan cercaan mulai dari anggota
parlemen, masyarakat, asosiasi jurnalis, baik nasional maupun
internasional.
"Presiden SBY mempunyai kesempatan bersejarah untuk bekerja sama
dengan masyarakat Internasional menjelang pertemuan iklim penting
di Kopenhagen Desember mendatang. Ia harus menghentikan deforestasi
besar-besaran di Indonesia yang membuat IndonesiaIndonesia dalam
pemeliharaan hutan. Presiden juga segera mendeklarasikan moratorium
(penghentian sementara) penebangan hutan di seluruh Indonesia,
termasuk lahan gambut yang kaya karbon, yang bertujuan untuk
memenuhi targetnya menurunkan emisi yang diumumkan secara
internasional." menjadi negara ketiga terbesar penghasil emisi.
Juga, negara maju harus melakukan pengurangan emisi besar-besaran
di negara masing-masing dan menyediakan dana yang diperlukan
"Kepada perusahaan-perusahaan, kami mendesak mereka menghentikan
ekspansi lebih jauh, termasuk di Kawasan Semenanjung Kampar, Pulau
Sumatra. Greenpeace juga menuntut perusahaan melakukan rehabilitasi
lahan gambut di dalam area konsesi yang sudah ada serta
menyelesaikan masalah sosial yang banyak terjadi di area konsesi,"
imbuh Yashwant.
Greenpeace menuntut penghentian deforestasi global pada 2020
sebagai bagian penting negosiasi pertemuan iklim di Kopenhagen
Desember mendatang.
Greenpeace adalah organisasi kampanye global yang independen,
yang beraksi untuk mengubah sikap dan perilaku, untuk melindungi
dan memelihara lingkungan, dan mempromosikan perdamaian.
(1)
http://www.riaupos.com/berita.php?act=full&id=8203&kat=3
(in Bahasa Indonesian)