Menteri Kehutanan Perintahkan Penghentian Aktivitas APRIL di Lahan Gambut Kampar

Berita - 19 Nopember, 2009
Greenpeace hari ini menyambut baik pernyataan Menteri Kehutanan Indonesia Zulkifli Hasan, yang memerintahkan perusahaan Pulp dan kertas terbesar di Indonesia, APRIL, untuk menghentikan aktivitas perusakan hutan di Semenanjung Kampar, Riau, sementara mereka mengevaluasi izin tebang APRIL di daerah hutan kaya karbon. Greenpeace menyerukan kepada Presiden Indonesia agar penghentian ini bersifat permanen.

Aktivis Greenpeace membentangkan spanduk bertuliskan "Climate Crime" di konsesi yang telah menghancurkan hutan lahan gambut oleh perusahaan APRIL

Pernyataan Menhut ini menyusul aksi Greenpeace 12 November lalu di Konsesi APRIL di Semenanjung Kampar yang secara damai menghentikan operasi perusakan hutan dan menggaris bawahi kegiatan perusakan hutan untuk dijadikan perkebunan akasia untuk pulp dan kertas.

"Kami berharap Menteri Kehutanan akan melakukan evaluasi komprehensif kepada semua izin yang ada di Semenanjung Kampar. Dua pemain utama di sana adalah APRIL dan Asia Pulp and Paper (APP). Jika digabungkan keduanya menguasai 73% dari total kapasitas pulp Indonesia," ujar Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara. "Menyelamatkan hutan adalah keinginan masyarakat Indonesia - seperti yang didemonstrasikan saat ratusan masyarakat mendukung Greenpeace sepekan terakhir."

Greenpeace membuka Kamp Pembela Iklim (Climate Defender Camp) lebih dari tiga pekan lalu untuk menarik perhatian akan peran penghancuran hutan dan lahan gambut pada perubahan iklim menjelang pertemuan penting PBB di Kopenhagen Desember mendatang. Sejak saat itu, kamp telah dikunjungi dan didukung beberapa selebriti seperti bintang film "Inglorious Basterds" Melanie Laurent, penyanyi legendaris Indonesia Iwan Fals dan Duta Besar Amerika Serikat Untuk Indonesia Cameron Hume.

Meski demikian, tidak semua tamu mendapat sambutan meriah. Dalam satu pekan terakhir, 13 aktivis internasional Greenpeace dideportasi dari Indonesia, meski mereka semua mempunyai visa bisnis yang masih berlaku. Lebih jauh lagi dua jurnalis independen juga ditahan, diinterogasi dan akhirnya dideportasi -meski memegang visa resmi-menimbulkan kritik dan cercaan mulai dari anggota parlemen, masyarakat, asosiasi jurnalis, baik nasional maupun internasional.

"Presiden SBY mempunyai kesempatan bersejarah untuk bekerja sama dengan masyarakat Internasional menjelang pertemuan iklim penting di Kopenhagen Desember mendatang. Ia harus menghentikan deforestasi besar-besaran di Indonesia yang membuat IndonesiaIndonesia dalam pemeliharaan hutan. Presiden juga segera mendeklarasikan moratorium (penghentian sementara) penebangan hutan di seluruh Indonesia, termasuk lahan gambut yang kaya karbon, yang bertujuan untuk memenuhi targetnya menurunkan emisi yang diumumkan secara internasional." menjadi negara ketiga terbesar penghasil emisi. Juga, negara maju harus melakukan pengurangan emisi besar-besaran di negara masing-masing dan menyediakan dana yang diperlukan

"Kepada perusahaan-perusahaan, kami mendesak mereka menghentikan ekspansi lebih jauh, termasuk di Kawasan Semenanjung Kampar, Pulau Sumatra. Greenpeace juga menuntut perusahaan melakukan rehabilitasi lahan gambut di dalam area konsesi yang sudah ada serta menyelesaikan masalah sosial yang banyak terjadi di area konsesi," imbuh Yashwant.

Greenpeace menuntut penghentian deforestasi global pada 2020 sebagai bagian penting negosiasi pertemuan iklim di Kopenhagen Desember mendatang.

Greenpeace adalah organisasi kampanye global yang independen, yang beraksi untuk mengubah sikap dan perilaku, untuk melindungi dan memelihara lingkungan, dan mempromosikan perdamaian.

(1) http://www.riaupos.com/berita.php?act=full&id=8203&kat=3 (in Bahasa Indonesian)