Skip navigation.
Kapal Greenpeace Esperanza (dalam bahasa Spanyol berarti "harapan"), 
pagi ini tiba di Jayapura, Papua, benteng terakhir hutan alam asli di 
Indonesia dan yang juga merupakan pulau terakhir yang menjadi sasaran 
penebangan besar-besaran demi perluasan perkebunan kelapa sawit, 
pembalakan dan industri lainnya. Pleyaran ini bagian dari pelayaran 
"hutan untuk Iklim"

Kapal Greenpeace Esperanza (dalam bahasa Spanyol berarti "harapan"), pagi ini tiba di Jayapura, Papua, benteng terakhir hutan alam asli di Indonesia dan yang juga merupakan pulau terakhir yang menjadi sasaran penebangan besar-besaran demi perluasan perkebunan kelapa sawit, pembalakan dan industri lainnya. Pleyaran ini bagian dari pelayaran "hutan untuk Iklim"

Besarkan Gambar

Indonesia — Greenpeace hari ini memulai bagian Indonesia dari pelayaran "Hutan untuk Iklim", menyoroti maraknya pengrusakan hutan dan dampak buruknya pada iklim global, penyusutan keanekaragaman hayati dan terhadap masyarakat yang bergantung pada hutan.


Kapal Greenpeace Esperanza (dalam bahasa Spanyol berarti "harapan"), pagi ini tiba di Jayapura, Papua, benteng terakhir hutan alam asli di Indonesia dan yang juga merupakan pulau terakhir yang menjadi sasaran penebangan besar-besaran demi perluasan perkebunan kelapa sawit, pembalakan dan industri lainnya.

Esperanza akan berlayar di negara kepulauan terbesar di dunia ini hingga tanggal 15 November untuk menyerukan kepada Pemerintah untuk menerapkan penghentian sementara (MORATORIUM) penebangan hutan dan bagi perusahaan-perusahaan untuk menghentikan perluasan industri dengan merambah hutan-hutan alam.

 

Pemerintah Indonesian harus segera menerapkan moratorium terhadap semua bentuk konversi hutan, termasuk perluasan perkebunan kelapa sawit, industri penebangan dan faktor pendorong lain dari deforestasi. Hal ini tidak hanya akan memperlambat emisi gas rumah kaca, tetapi juga menjaga kekayaan keanekaragaman hayati dan melindungi kehidupan masyarakat yang bergantung pada hutan di seluruh Indonesia

Saat ini, Indonesia adalah pengemisi gas rumahkaca terbesar keempat di dunia (setelah Amerika Serikat, Cina dan Brazil) terutama akibat deforestasi. Tetapi kenyataannya, pemerintah dan industri yang seharusnya bisa menyelamatkan hutan Indonesia dan iklim dunia, terus menebanginya dan memperburuk krisis iklim.

Hutan Indonesia terus menyusut dengan laju yang mengkhawatirkan demi komoditas tertentu, seperti kelapa sawit. Penghancuran hutan menimbulkan bencana bagi masyarakat, budaya dan keanekaragaman hayati. Deforestasi juga melepas sekitar 20 persen dari emisi gas rumahkaca dunia setiap tahun, memperburuk perubahan iklim

Ekspansi perkebunan kelapa sawit besar-besaran saat ini adalah pendorong terbesar deforestasi di Indonesia.  Sebagian besar perkebunan ini berada di wilayah hutan rawa gambut yang kaya kandungan karbon. Ketika hutan rawa gambut dibuka dan dibakar, sama halnya dengan mengaktifkan bom karbon, yang mampu melepas hampir dua milyar ton karbondioksida per tiap tahun. 

Kapal Esperanza membawa pesan 'Melindungi Hutan, Menyelamatkan Iklim'. Hutan tropis dan hutan gambut memegang peran penting dalam pengaturan iklim global. Saat hutan dirusak, kita mengalami kerugian ganda, pertama karena hilangnya hutan sebagai penyerap emisi, dan kedua deforestasi sendiri melepaskan gas rumahkaca dalam jumlah luarbiasa besar. Kita membutuhkan hutan yang luas untuk memerangi perubahan iklim dan menjaga planet ini.

Dukung Kami!