Von Herandez Direktur eksekutif Greenpeace Asia Tenggara menyerahkan kunci kamp pembela iklim kepada masyarakat dan LSM Jikalahari pada acara penuntupan kamp pembela iklim di desa Teluk Meranti, Propinsi Riau
Greenpeace mendirikan pos pada akhir Oktober lalu untuk menarik
perhatian internasional akan pentingnya melindungi hutan alam dalam
rangka menghindari bencana perubahan iklim menjelang pertemuan
iklim PBB di Kopenhagen yang akan dimulai 7 Desember mendatang.
"Pos pelindung iklim berdiri sebagai simbol solidaritas bersama
komunitas lokal dalam pertarungan menghentikan penghancuran hutan
di Semenanjung Kampar. Kami akan tetap bekerja bersama mereka dan
rekan-rekan lain dalam masalah ini. Kami akan memastikan bahwa
tuntutan mereka, serta orang-orang lain yang mendambakan dunia
layak huni untuk anak-anak mereka, terdengar di Jakarta dan
Kopenhagen," tegas Von Hernandez, Direktur Eksekutif Greenpeace
Asia Tenggara di acara penyerahan itu.
Bertekad untuk menyampaikan pesan masyarakat langsung pada
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para pemimpin dunia lain,
Greenpeace menyatakan bahwa ribuan orang di seluruh dunia telah
mengirimkan petisi dan surat kepada pemimpin Indonesia itu,
mendesaknya untuk melakukan aksi segera untuk menghentikan
deforestasi dan perusakan lahan gambut Indonesia, yang menjadi
penyebab terbesar emisi Indonesia.
"Pemerintah Indonesia seharusnya berterima kasih kepada
Greenpeace yang telah membantu mereka melindungi hutan Indonesia.
Pemerintah harus melihat lebih dekat masalah-masalah yang diangkat
oleh Greenpeace mengenai peraturan kehutanan dan pengeluaran izin
tebang dan harus melakukan langkah segera untuk menanganinya," ujar
Intsiawati Ayus, anggota DPR RI asal Provinsi Riau yang datang
langsung dalam upacara penyerahan itu dan akan berpartisipasi dalam
perundingan iklim Kopenhagen.
Pada 12 November lalu, Greenpeace melakukan aksi untuk memprotes
APRIL, salah satu perusahaan pulp dan kertas terbesar di dunia,
untuk membeberkan kegiatan perusakan hutan gambut Kampar yang
tengah berlangsung. Menteri Kehutanan Indonesia Zulkifli Hasan
menanggapinya dengan mengeluarkan penghentian sementara izin
operasi APRIL sambil menanti hasil evaluasi terhadap izin itu.
Setelah aksi itu juga, perusahaan kertas raksasa UPM membatalkan
kontrak dengan APRIL. Dua minggu kemudian Greenpeace memprotes
Sinar Mas (pemilik APP), dengan cara menghentikan kegiatan ekspor
di pabrik kertas besar mereka di Perawang, Riau, setelah sebelumnya
mengeluarkan bukti foto dan gambar satelit yang memperlihatkan APP
sedang menghancurkan hutan di sebelah Selatan Semenajung Kampar.
Dari dua aksi ini, 25 aktivis Greenpeace asal luar negeri
dideportasi dan 25 aktivis asal Indonesia dijadikan tersangka oleh
polisi.
Indonesia adalah negara penghasil emisi terbesar ketiga di dunia
setelah China dan Amerika Serikat, sebagian besar emisi berasal
dari aktivitas perusakan hutan dan lahan gambut yang terus
berlangsung. Secara global, satu juta hektar hutan hancur setiap
bulannya, atau seluas lapangan sepak bola setiap dua detik. Dana
signifikan sangat dibutuhkan negara berkembang untuk menghentikan
deforestasi di Indonesia dan seluruh dunia. Ini harus menjadi
bagian paling penting dalam kesepakatan perundingan iklim.
"Kerja kami lima pekan terakhir bersama masyarakat setempat
untuk melindungi Semenanjung Kampar telah menunjukkan pada para
pemimpin dunia bahwa perlindungan hutan adalah hal penting sebagai
solusi untuk menghindari bencana perubahan iklim. Para pemimpin
dunia tidak bisa lagi membuang waktu dan harus melakukan
kesepakatan adil, ambisius dan mengikat di Kopenhagen Desember
mendatang. Kami akan melanjutkan tekanan agar kesepakatan itu
memasukkan dana global untuk membantu penghentian deforestasi di
negara seperti Indonesia," imbuh Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan
Greenpeace Asia Tenggara.